Selasa, 24 Mei 2011

Ringkasan Psikolingusitik: Pengantar Pemahaman

BAB I
PENDAHULUAN

Judul Buku : Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman
Pengarang : Soenjono Dardjowidjojo
Penerbit :Yayasan Obor Indonesia Anggota IKAPI DKI Jakarta
ISBN : 979-461-9
Edisi Pertama : April 2003
Jumlah Halaman : 340 Halaman
Jumlah Bab : 12 Bab

• Bab 1: Pengantar Dasar
• Bab 2: Bagaimana Manusia Mempersepsi Ujaran
• Bab 3: Bagaimana Manusia Memahami Ujaran
• Bab 4: Pelaksanaan Tindak Ujar
• Bab 5: Produksi Ujaran
• Bab 6: Produksi Kalimat
• Bab 7: Penyimpanan dan Retrival Kata
• Bab 8: Landasan Biologis Pada Bahasa
• Bab 9: Landasan Neurologis Pada Bahasa
• Bab 10: Pemerolehan Bahasa
• Bab 11: Memori, Pikiran, dan Bahasa
• Bab 12: Membaca dan Psikolinguistik

Pada buku Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa karya Soenjono Dardwowidjojo ini terdiri dari 12 bab, dari ke dua-belas bab ini yang akan saya analisis ialah bab I sampai dengan Bab IV.

BAB II
PEMBAHASAN

BAB I: BAGIAN DASAR
1.1 Sejarah Lahirnya Psikolinguistik
Psikolinguistik adalah ilmu hidriba, yakni ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu psikologi dan linguistik. Benih ilmu ini sudah tampak pada abad ke 20 tatkala psikolog Jerman Wilhelm Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar prinsip-prinsip psikologis (Kess, 1992).
Sementara itu di benua Amerika kaitan antara bahasa dan ilmu jiwa juga mulai tumbuh. Perkembangan ini dapat dibagi menjadi empat tahap (Kess, 1992): a) tahap formatif, b) tahap linguistik, c) tahap kognitif, dan d) tahap psokolinguistik, realita psikolinguistik, dan ilmu kognitif.
a) Tahap Formatif
Pada pertengahan abad ke dua-puluh Jonh W. Gardner, seorang psikolog dari Corporation, Amerika mulai menggagas hidridisasi (penggabungan) kedua ilmu ini. Hasil pertemuan ini membuat gema yang begitu kuat di antara para ahli jiwa maupun ahli bahasa sehingga banyak penelitiaan yang kemudian dilakukan terarah pada kaitan antara istilah Psycholinguistics pertama kali dipakai.
b) Tahap Linguistik
Perkembangan ilmu linguistik, yang semula berorientasi pada aliran behaviorisme dan kemudian beralih ke mentalisme (yang sering juga disebut sebagai nativisme) pada tahun 1957 dengan diterbitkannya buku Chomsky, syntatic Structures, dan kritik tajam dari Chomsky terhadap teori behavioristik B.F. Skinner (Chomsky 1959) telah membuat psikolinguistik sebagai ilmu yang banyak diminati oarang.
c) Tahap Kognitif
Pada tahap ini psikolinguisti mulai mengarah pada peran kognisi dan landasan biologis manusia dalam pomerolahan bahasa. Pelopor seperti Chomsky mengatakan bahwa linguis itu sebenarnya adalah psikolog kognitif. Pemerolehan bahasa pada manusia bukanlah penguasaan komponen bahasa tanpa berlandaskan pada prinsip-prinsip kognitif.
d) Tahap Teori Psikolinguistik
Pada tahap akhir ini, psikolinguistik tidak lagi berdiri sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu lain karena pemerolehan dan penggunaan bahasa manusia menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan yang lain. Psikolinguistik tidak lagi terdiri dari psiko dan linguistik saja tetapi juga menyangkut ilmu-ilmu lain seperti neurologi, filsafat, primatologi, dan genetika.

1.2 Defenisi Psikolinguistik
Secara rinci psikolinguistik mempelajari empat topik utama: (a) komprehensi, yakni proses-proses mental yang dilalui oleh manusia sehinggga mereka dapat menangkap apa yang dikatakan orang dan memahami apa yang dimaksud, (b) produksi, yakni proses-proses mental pada diri kita yang membuat kita dapat belajar seperti yang kita ujarkan, (c) landasan biologis serta neurologis yang membuat manusia bisa berbahasa, dan (d) pemerolehan bahasa yakni bagaimana anak memperoleh bahasa mereka.

1.3 Kodrat Bahasa
Ciri-ciri khusus yang membedakan bahasa menusia dengan bahasa binatang ialah: pertama, bahasa manusia memiliki ketergantungan struktur (structure dependence). Ciri kedua adalah bahwa bahasa dan pemakai bahasa itu kreatif. Ciri ketiga adalah bahwa bahasa dapat dipakai untuk mengungkapkan situasi atau peristiwa yang sudah lampau atau yang belum tejadi dan bahkan untuk sesuatu yang dibayangkan. Ciri keempat adalah bahwa bahasa memiliki struktur ganda yang dinamakan struktur yang batin (deep structure) dan struktur lain (surface structure). Ciri kelima adalah bahwa bahasa itu diperoleh secara turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Ciri keenam adalah bahwa hubungan antara kata dengan benda, Perbuatan, atau keadaan yang durujuknya itu arbitrer (arbitrary). Ciri yang ketuju adalah bahwa bahasa memiliki pola dualitas. Dan ciri yang terakhir adalah bahwa bahasa itu memiliki semantitas.



1.4 Defenisi Bahasa
Dari gambaran ciri-ciri di atas, bahasa bisa didefinisikan dari berbagai sudut pandang. Namun definisi yang banyak dipakai orang adalah: bahasa adalah suatu simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama.

1.5 Komponen Bahasa
Pada aliran linguistik manapun bahasa selalu dikatakan memiliki tiga komponen yaitu: sintaksis, fonologi, dan semantik. Komponen sintaksi mengenai ihwal yang berkaitan dengan kata, frasa, dan kalimat. Studi tentang kata, seperti telaah tentang bagaimana kata dibentuk dan diturunkan, umumnya ditangani dalam suatu tataran yang dinamakan morfologi. Komponen fonologi bersifat interpretif.
Dalam komponen fonologi tidak hanya diinventarisasi jumlah dan macam bunyi yang ada pada suatu bahsa tetapi juga bagaimana bunyi-bunyi tadi membentuk suatu sistem dalam bahasa tersebut. Komponen semantik membahas tentang ihwal makna dan juga bersifat interpretif. Dalam komponen ini ada seperangkat aturan semantik yang dipakai untuk menentukan apakah masukan dari komponen sintaktik itu memenuhi kaidah semantik yang ada pada bahasa tersebut.

1.6 Pragmatik
Prakmatik bukanlah salah satu dari komponen bahasa, ia hanyalah memberikan prespektif kepada bahasa. Karena pragmatik menyangkut makna maka seringkali ilmu ini dikacaukan dengan ilmu makna, semantik. Sementara itu, pragmatik merujuk kekajian makna dalam interaksi antara seorang penutur dengan penutu yanng lain (Jucker, 1998). Karena pragmatik mencakup penggunaan bahasa dalam interaksi maka pragmatik memperhatikan pula aspek-aspek lain dalam komunikasi seperti pengetahuan dunia (world knowladge), hubungan antara pembaca dengan pendengar atau orang ketiga dan macam-macam tindak ujar (speech acts) dalam kalimat.
BAB II: BAGAIMANA MANUSIA MEMPERSEPSI UJARAN
1. Penelitian Mengenai Persepsi ujaran
Dari segi ilmu pengetahuan, kajian dari penelitian mengenai bagaimana manusia mempersepsi ujaran dapat dikatakan masih sangat baru. Meskipun Willis tahun 1829 dan Helmholtz tahun 1859 telah mempelajari ciri fisik dari bunyi, penelitian bagaimana kita mempersepsi ujaran baru mulai perang dunia II (Gleason dan ratner 1988:109).

2. Masalah Dalam Mempersepsi Ujaran
Masalah yang dihadapi dalam mempersepsi ujaran ini adalah bagaimana kita dapat menangkap dan kemudian mencerna bunyi-bunyi yang diujarkan dengan sengat cepat. Di samping kecepatan, bunyi dalam satu ujaran juga tidak diucapkan secara utuh tetapi sepertinya lebur dengan bunyi yang lain. Suara seorang wanita, seorang pria, dan seorang anak juga berbeda-beda. Getar pita suara untuk wanita berkisar antara 200-300 per detik, sedangkan untuk pria suara untuk pria hanya sekitar 100. Karena itu, suara seorang pria kedengaran lebih “berat”. Sedangkan suara anak lebih tinggi dari pada suara wanita karena getaran pita suaranya bisa mencapai 400 per detik. Perbedaan-perbedaan ini memunculkan bunyi yang berbeda-beda, meskipun kata yang diucapkan itu sama.

3. Mekanisme Ujaran
Sumber dari bunyi adalah paru-paru. Paru-paru kita berkembang dan berkempis untuk menyedot dan mengeluarkan udara. Udara ini kemudian lewat lorong yang dinamakan faring (pharynx). Dari faring itu ada dua jalan yang pertama melalui hidung dan yang kedua melalui rongga mulut. Semua yang dibuat dengan udara melalui hidung disebut bunyi nasal. Sementara itu bunyi yang udaranya keluar melalui mulut dinamakan bunyi oral. Pada mulut terdapat dua bagian-bagian atas dan bagian bawah mulut. Bagian-bagian ini adalah :
1. Bibir : bibir atas dan bibir bawah. Kedua bibir ini dapat dirapatkan untuk membentuk bunyi yang dinamakan bilabial yang artinya dua bibir bertemu. Bunyi seperti [p], [b], dan [m] adalah bunyi babalial.
2. Gigi : untuk ujaran hanya gigi ataslah yang mempunyai peran. Gigi ini dapat berlekatan dengan bibir bawah untuk membentuk bunyi yang dinamakan labiodental. Contoh untuk bunyi seperti ini adalah bunyi [f] dan [v]. Gigi juga dapat berlekatan dengan ujung lidah untuk membentuk bunyi dental seperti bunyi [t] dan[d] dalam bahasa indonesia.
3. Alveolar: daerah ini berada persis dibelakang gigi atas. Pada alveolar dapat ditempelkan ujung lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan bunyi alveolar.
4. Palatal keras (hard plate): daerah ini adalah rongga atas mulut, persis dibelakang daerah alveolar. Pada daerah ini dapat ditempelkan lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan alveo palatal seperti bunyi [c] dan [j].
5. Palatal lunak ( soft falate): Pada palatal lunak dapat diletakkan bagian belakang lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan velar seperti bunyi [k] dan [g].
6. Uvala: pada ujung rahang atas terdapat tulang lunak yang dinamakan uvala.
7. Lidah : adalah bagian mulut yang fleksibel dan dapat bergerak dengan lentur. Lidah dibagi menjadi beberapa bagian: Ujung lidah (tip of the tongue), Mata lidah ( blade), Depan lidah (front), Belakang lidah.
8. Pita suara (vocal cords) adalah sepasang selaput yang berada di jakun (larynx).
9. Faring (pharynx) adalah salurang udara menuju rongga mulut atau rongga hidung.
10. Rongga hidung : rongga untuk bunyi-bunyi nasal seperti /m/ dan /n/
11. Rongga mulut : untuk bunyi-bunyi oral seperti /p/, /b/, /a/, dan /i/.

3.1 Bagaiman Bunyi Dibuat
Bunyi juga dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu konsonan dan vokal. Perbedaan antara keduanya terletak pada pembuatannya.



3.1.1 Pembuatan Bunyi Konsonan
Untuk membuat bunyi konsonan perlu diperhatikan tiga faktor yaitu: Fatkor pertama titik artikulasi, yakni tempat dimana artikulator itu berada, berdekatan, dan berlekatan. Faktor kedua cara artikulasi yakni bagaimana caranya udara dari paru-paru itu kita lepaskan. Faktor yang ketiga ialah status pita suara.

3.1.2 Pembuatan Bunyi Vokal
Berbeda dengan konsonan, kriteria yang dipakai untuk membentuk bunyi vokal adalah (1) tinggi rerndahnya lidah; (2) posisi lidah; (3) ketegangan lidah; dan (4) bentuk bibir.

3.1.3 Fonotatik
Tiap bahasa memiliki sistem sendiri-sendiri untuk menggabungkan fonem agar menjadi suku dan kemudian kata. Dengan demikian maka tidak mustahil adanya dua bahasa yang memiliki dua fonem yang sama tetapi fototatiknya, yakni sistem pengaturan fonemnya berbeda.

3.1.4 Struktur Sukukata
Suatu struktur kata terdiri dari dua bagian utama yakni, onset (pembukaan), dan rima (rhyme). Rima terdiri dari nukleus (ncleus) dan koda (coda).

3.1.5 Fitur Distingtif
Fitur-fitur distingtif yang ada pada konsonan adalah: vokalik dan konsonantal, anterior, koronal, kontinuan (continuant), straiden (strident), nasal, vois. Untuk bunyi vokal fitur-fitur distringtifnya adalah tinggi, vokalik, belakang, bundar, dan tegang.

3.1.6 Voice Onset Time
Voice Onset Time, yang sering disingkat sebagai VOT, adalah waktu antara lepasnya udara untuk mengucaukan suatu konsonan dengan getaran pita suara untuk bunyi vokal yang mengikutinya. Dalam contoh kata bahasa inggris man, karena /m/ adalah [=vois], yang berarti bahwa pita suaranya pastilah bergetar, maka celah waktu untuk bunyi ini meluncur ke bunyi /æ/ adalah nol.

3.2 Transmisi Bunyi
Bunyi yang dikeluarkan oleh menusia ditransmisikan ke telinga pendengar melalui gelombang udara. Pada saat suatu bunyi dikeluarkan, udara bergetar olehnya dan membentuk semacam gelombang. Dengan mekanisme yang ada pada telinga, manusia menerima bunyi dasn dengan melalui syaraf-syaraf sensoris bunyi ini kemudian “dikirimkan” ke otak untuk diproses dan kemudian ditangkapnya. Pemrosesan di otak dibimbing oleh pengetahuan tentang bahasa tersebut, termasuk pengetahuan tentang bagaimana bunyi-bunyi itu dibuat dan fitur apa saja yang terlibat.

4. Persepsi Terhadap Ujaran
Persepsi terhadap suatu ujaran bukanlah suatu yang mudah dilakukan oleh manusia karena ujaran merupakan suatu aktivitas verbal yang meluncur tanpa ada batas waktu yang jelas antara satu kata dengan kata yang lain. Namun demikian manusia tetap saja mempersepsi bunyi-bunyi bahasanya dengan baik. Tentu saja persepsi seperti ini dilakukan melalui tahap-tahap tertentu. Pada dasarnya ada tiga tahap dalam pemrosesan persepsi bunyi (Clark & Clark, 1977): Tahap auditori, Tahap fonetik, dan Tahap fonologis.

5. Model-model Untuk Persepsi
Dalam rangka memahami bagaiman manusia mempersepsi bunyi sehingga akhirnya dapat terbentuk komperhensi, para ahli psikolinguistik mengemukakan model-model teoritis. Sampai saat ini ada empat model teoritis yang telah di ajukan orang yaitu: model teori motor untuk persepsi ujaran, model analisis dengan sintesis, fuzzy logical model, model cohort, model trece.

6. Persepsi Ujaran Dalam Konteks
Persepsi terhadap suatu bunyi dalam deretan bunyi bisa juga dipengaruhi oleh kecepatan ujaran. Suatu bunyi yang diucapkan dengan bunyi-bunyi yang lain secara cepat akan sedikit banyak berubah lafalnya. Akan tetapi, sebagai pendengar tetap saja dapat memilah-milahnya dan akhirnya menentukannya. Faktor lain yang membantu kita dalam mempersepsi suatu ujara adalah pengetahuan kita tentang sintaksis maupun semantik bahasa kita.

BAB III: BAGAIMAN MANUSIA MEMAHAMI UJARAN
1. Struktur Batin dan Struktur lahir
Perbedaan antara struktur lahir dan batin ini sangat penting untuk pemahaman kalimat karena proses mental yang dilalui oleh manusia dalam menanggapi kalimat-kalimat seperti ini berbeda dengan kalimat-kalimat yang tidak ambigu. Meskipun konsep struktur batin dan lahir ini sudah tidak diikuti lagi oleh penggagasannya (Chomsky 1996), dalam kaitannya dengan komprehensi ujaran kedua konsep ini rasanya masih sangat bermamfaat.

2. Proposisi
Unit-unit makna pada kalimat dinamakan proposisi (Clark dan Clark 1977:11). Lobner memdefinisikannya sebagai a set of the referents of all referring element and how they are linked (Lobner, 2002:23-29 dan 99-120). Proposisi terdiri dari dua bagian (a) argument, yakni ihwal atau ihwal- ihwal yang dibicarakan, dan (b) predikasi, yakni pernyataan yang dibuat mengenai argument.

3. Konstituen Sebagai Realita Psikologis
Konstituen bukankah hanya sekedar potongan kalimat yang sifatnya arbitrer saja. Pemotongan kalimat menjadi konstituen mempunyai landasan psikologis maupun sintatik yang kuat. Pertama, konstituen merupakan satu kesatuan yang utuh secara konseptual. Kedua, pemotongan kelompok kata di luar konstituen akan mengganggu komprehensi kita. Ketiga, yang kita simpan dalam memori kita bukanlah kata-kata yang lepas dari konstituennya, tetapi kesatuan makna dari masing-masing konstituen.



4. Strategi Dalam Memehami Ujaran
Dalam memahami suatu ujaran, ada tiga faktor yang ikut membatu kita. Pertama adalah faktor yang berkaitan dengan pengetahuan dunia. Tidak jarang pula pengetahuan dunia ini merupakan satu-satunya faktor yang membantu kita memahami isi suatu ujaran. Pengetahuan tentang dunia yang sifatnya tidak universal adalah pengetahuan yang spesifik terdapat pada budaya atau masyarakat tertentu.
Di samping pengetahuan tentang dunia, memahami tentang ujaran kita juga dibantu oleh faktor-faktor sintatik. Dengan kata lain, kita memakai strategi-strategi sintatik untuk membantu kita memahami suatu ujaran. Strategi itu antara lain:
a) Setelah kita mengidentifikasi kata pertama dari suatu konstituen yang kita dengar, proses mental kita akan mencari kata lain yang selaras dengan kata pertama dalam konstuen tersebut.
b) Setelah mendnegar kata yang pertama dalam konstituen, perhatikan apakah kata berikutnya mengakhiri konstruksi itu.
c) Setelah kita mendengar suatu verba, carilah macam serta argumen yang selaras dengan verba tersebut.
d) Tempelkanlah tiap kata baru pada kata yang baru saja mendahuluinya. Strategi ini berkaitan dengan kenyataan bahwa wujud kalimat memang dalam bentuk linier sehingga kata yang mengikutinya biasanya menjelaskan kata yang mendahuluinya.
e) Pakailah kata pertama atau konstituen dari suatu klausa untuk mengidentifikasi fungsi dari klausa tersebut.
f) Pada bahasa tertentu seperti bahasa inggris, afiks juga memberikan bantuan dalam pemahaman.
Di samping strategi sintatik, orang juga memakai strategi semantik dalam memahami ujaran. Berikut ini beberapa strategi semantik yang kita pakai ialah:
a) Pakailah nalar dalam memahami ujaran.
b) Carilah konstituen yang memahami syarat-syarat semantk tertentu.
c) Apabila ada urutan kata N V N, maka N yang pertama adalah pelaku perbuatan, kecuali ada tanda-tanda lain yang mengingkarinya.
d) Bila dalam wacana kita temukan pronominal seperti dia, mereka, atau kami, carilah antesiden untuk pronominal ini.
e) Informasi lama biasanya mendahului informasi baru.
Dari gambaran di atas tampak bahwa strategi sintatik dan strategi semantik dipelukan untuk memahami ujaran.

5. Ambiguitas
Dalam beberapa hal kadang kita menemukan kalimat yang bermakna lebih dari satu yang umumnya disebut sebagai kalimat yang ambigu atau raksa.

5.1 Macam Ambiguitas
Dilihat dari segi unsur leksikal dan struktur kalimatnya, ambiguitas dapat dibagi menjadi dua macam: (a) ambiguitas leksikal, dan (b) ambiguitas gramatikal. Sesuai dengan namanya, ambiguitas leksikal adalah macam ambiguitas yang penyebabnya adalah bentuk leksikal yang dipakai.
Ambiguitas gramatikal adalah macam ambiguitas yang penyebabnya adalah bentuk struktur kalimat yang dipakai. Ambiguitas gramatikal dapat dibagi menjadi dua macam yaitu ambiguitas sementara (local ambiguity), dan ambiguitas abadi (standing ambiguity) (Gleason dan Ratner 1998).

5.2 Teori Pemrosesan Kalimat Ambigu
Pada dasarnya ada dua macam teori ambigu mengenai pemrosesan kalimat yang bermakna ganda. Teori pertama dinamakna Garden Path Theory (GPT). Menurut teori Fraizer tahun 1987 ini, orang membangun makna berdasarkan pengetahun sintatik. Ada dua principle dalam teori ini: (1) Minimal Attachment Principle (MAP), dan Late Closure Principle (LCP).

5.3 Pemrosesan Kalimat Non-harfiah
Sebagian teori menyatakan bahwa ada tiga tahap dalam pemrosesannya. Pertama, kita berikan tanggapan secara harfiah untuk tiap kata yang msuk terlebih dahulu. Kedua kita berikan makna harfiah terhadap kata-kata yang kita dengar itu. Dan ketiga mencari makna lain di luar makan harfiah yang mustahil itu.
5.4 Pemrosesan Secara Sintatik atau Semantik
Seperti dinyatakan sebelumnya, ada dua macam pendekatan yang membantu kita mempersepsi dan memahami ujaran, dan kedua pendekatan ini seolah-olah merupakan dua kelompok yang berdiri sendiri-sendiri. Dalam kenyataannya kedua kelompok ini saling membantu.
Kompetensi kita sebagai penutur asli tentang sintaksis bahasa kita tentu merupakan bekal intuitif yang membimbing kita untuk menerima, menolak, meragukan, dan mendeteksi ambiguitas suatu kalimat. Sebagai penutur asli, kita juga memiliki intuisi semantik, baik yang bersifat universal maupun yang lokal.

6. Penyimpanan Kata
6.1 Faktor Yang Mempengaruhi Akses Terhadap Kata
Pada dasarnya retrival kata dipegaruhi oleh pelbagai faktor yaitu, Frekuensi kata, Ketergambaran, Keterkaitan semantik, kategori gramatikal, dan fonologi.

6.2 Teori Tentang Makna
Ada dua teori untuk memahami makna yaitu teori fitur dan teori berdasarkan pengetahuan. Teori fitur pada dasarnya menyatakan bahwa kata memiliki seperangkat fitur, atau ciri yang menjadi bagian integral dari kata itu. Manusia dapat memahami ujaran karena mereka dapat mengenali kata-kata yang mereka dengar secara intuitif yang sebenarnya berdasarkan peda pengetahuan yang mereka miliki tentang bahasa dan budaya mereka.

BAB IV: PELAKSAAN TINDAK UJARAN
1. Tujuan Ujaran
Dalam berujar, manusia pastilah mempunyai tujuan. Tujuan itu berupa pemberian informasi kepada pendengar. Dengan demikian, suatu ujaran itu mengandung di dalamnya tiga unsur; (a) tindak ujaran (speech acts); (b) muatan proposisi (propositional content); (c) muatan tematik (thematic content).


1.1 Tindak Ujaran
Searli membagi tindak ujaran kedalam lima kategori yaitu: representative, direktif, komisif, ekspresif, dan deklarasi. (Searli 1969:34; Mey 2002:120).

1.2 Muatan Proposisi
Pada muatan proposisi pendengar meramu satu proposisi dengan proposes yang lain, makin lama makin meninggi shingga terbentuklah suatu pengertian yang menyeluruh dari proposisi-proposisi tersebut.

1.3Muatan Tematik
Muatan tematik merujuk pada pengertian akan adanya dua macam informasi dalam kalimat yakni, informasi lama (old atau given information) dan informasi baru (new information).

2.Langkah Umum dalam Pelaksanaan Ujaran
Langkah apa yang kemudian harus dilakukan oleh pendengar setelah memahami suatu ujaran tergantung pada macam ujaran yang didengar. Dari teori tindak ujaran kita ketahui bahwa ujaran hanya bisa representative, direktif, komisif, ekspresif, atau deklarasi.

3. Pelaksaan Ujaran
3.1Pelaksanaan Tindak Ujaran Representatif
Karena tindak ujaran representatif hanyalah merupakan pernyataan mengenai sesuatu, maka yang perlu kita lakukan adalah menghimpun muatan proposisi dan memahami mana yang merupakan informasi lama dan informasi yang baru.
3.2Pelaksanaan Tindak Ujaran Direktif
Tindakan ujaran direktif dapat dibagi menadi tiga kelompok yaitu: (a) pertanyaan dengan jawaban ya/tidak/bukan/belum; (b) pertanyaan yang memerlukan jawaban mana/(si, meng) apa; dan (c) perintah untuk melaksankan sesuatu.

3.3Pelaksanaan Tindak Ujaran Komisif
Seperti dinyatakan sebelumnya, tindak ujaran komisif berbeda dengan tindak ujaran direktif hanya dalam arahnya direktif kepada sipendengar, komisif kepada diri sipembicara. Karena tindak ujaran komisif tidak menanyakan atau memerintahkan sesuatu maka tidak ada perbuatan yang harus dilakukan.

3.4Pelaksaanaan Tindak Ujaran Ekspresif
Karena tindak ujaran ekspresif menyatakan keadan psikologis seseorang, maka pelaksanaannya pun bukan berupa perbuatan, khususnya perbuatan fisik.

3.5Pelaksaan Tindak Ujaran Deklarasi
Karena dalam tindak ujaran deklarsi diperlukan adanya syarat kelayakan agar kalimat yang diucapkan itu bermakna, maka langkah tambahan dalam memahami dan kemudian melaksanakan ujaran ini adalah untuk meyakinkan diri bahwa si pembicara itu memang mempunyai wewenang untuk mengatakan apa yang dia katakan.

4. Pelaksanaan Tindak Ujaran Tak Langsung
Tony, berapa kali mama telah bilang untuk tidak menaruh handuk dilantai? Mendengar kalimat seperti ini Tony tentu tidak akan menjawab dengan kalimat “lima kali, Ma”, atau “Nggak ingat, Ma berapa kali”. Dia sadari bahwa ibunya sedang marah dan menyuruhnya untuk mengambil handuk itu.
Ujaran seperti ini dinamakan ujaran tak langsung, artinya, apa yang dikatakan dengan apa yang dimaksud tidak sama. Ujaran seperti ini lebih sukar untuk dilaksanakan karena ada satu fase tambahan yang harus dilalui, yakni fase untuk mentransfer dari makna literal ke makna yang tak langsung. Dalam hal ini, prinsipel yang dinamakan prinsipel Kooperatif sangat membantu.

4.1Prinsipel Kooperatif
Dalam kita berkomunikasi kita juga mengikuti prinsipel seprti ini. Prinsipel yang dinamakan prinsipel kooperatif (cooperative principle) ini pertama kali dikemukakan oleh filosof H. Paul Grice pada tahun 1967. Pada dasarnya prinsipel ini memberikan landasan mengapa manusia saling berkomunikasi. Landasan ini disebut sebagai maksim (maxim). Grise memberikan empat macam maksim (Grice 1975; Thomas 1998:176-179; Mey 2001:17-79) yaitu: maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim hubungan (Relation), maksim cara (Manner).

4.2Pelaksanaan Ujaran dan Presipel Kooperatif
Kaitan antara pelaksanaan ujaran dan prinsipel kooperatif adalah bahwa dalam berhasa orang tidak selamanya menyatakan apa yang dimaksud secara rinci dan eksplisit. Perhatikan contoh dibawah ini:
Mama: Don, tuh diangkat telponnya.
Dony: lagi main, ma.
Dari segi sintaksis, kedua percakapan ini tidak ada hubungannya sama sekali. Akan tetapi, karena adanya maksim hubungan yang menekankan adanya informasi yang relevan untuk mencapai tujuan percakapan makanya mamanya tahu apa yang dimaksud oleh Dony.

4.3Langkah-langkah dalam Pelaksanaan Ujaran Tak-langsung
Ujaran tak langsung memerlukan pemerosesan yang lebih rumit dan lebih lama sebelum dapat dilaksanakan. Secara singkat proses tersebut adalah: memerlukan bunyi /j/ dan /r/ dalam bahasa Indonesia, tetapi tetap saja tidak dapat mengeluarkan kedua bunyi itu sampai keadaan biologisnya memungkinkan.

BAB III
PENUTUP

Psikolinguistik adalah ilmu hidrida, yakni ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu psikologi dan linguistik. Dari segi ilmu pengetahuan, kajian dari penelitian mengenai bagaimana manusia mempersepsi ujaran dapat dikatakan masih sangat baru. Meskipun Willis tahun 1829 dan Helmholtz tahun 1859 telah mempelajari ciri fisik dari bunyi, penelitian bagaimana kita mempersepsi ujaran baru mulai perang dunia II (Gleason dan ratner 1988:109).

Masalah yang dihadapi dalam mempersepsi ujaran ini adalah bagaimana kita dapat menangkap dan kemudian mencerna bunyi-bunyi yang diujarkan dengan sengat cepat. Di samping kecepatan, bunyi dalam satu ujaran juga tidak diucapkan secara utuh tetapi sepertinya lebur dengan bunyi yang lain.
Bunyi juga dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu konsonan dan vokal. Perbedaan antara keduanya terletak pada pembuatannya.

Untuk membuat bunyi konsonan perlu diperhatikan tiga faktor yaitu: Fatkor pertama titik artikulasi, yakni tempat diman artikulator itu berada, berdekatan, dan berlekatan. Faktor kedua cara artikulasi yakni bagaiman caranya udara dari paru-paru itu kita lepaskan. Faktor yang ketiga ialah status pita suara.

Dalam berujar, manusia pastilah mempunyai tujuan. Tujuan itu berupa pemberian informasi kepada pendengar. Dengan demikian, suatu ujaran itu mengandung di dalamnya tiga unsur; (a) tindak ujaran (speech acts); (b) muatan proposisi (propositional content); (c) muatan tematik (thematic content).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar