Sabtu, 21 Mei 2011

Rendahnya Minat Baca Siswa di Indonesia

RENDAHNYA MINAT BACA SISWA DI INDONESIA
Oleh Nila Sari Hutasuhut
PENDAHULUAN
Membaca adalah jendela dunia, dengan membaca maka siswa bisa mengetahui banyak hal yang tidak diketahuinya. Kemampuan dan kemauan membaca akan mempengaruhi pengetahuan dan keterampilan (skill) seseorang. Banyaknya pengetahuan seseorang akan membantu dirinya dalam melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak dikuasainya, sehingga seseorang yang banyak membaca memiliki kualitas yang lebih dari orang yang sedikit membaca.
Membaca adalah salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca, oleh karena itu kemampuan membaca akan membawa siswa tersebut kepada kondisi masyarakat belajar (learning society). Terwujudnya masyarakat belajar (learning society) akan membantu tercapainya bangsa yang cerdas (educated nation) yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) unggul sehingga mampu bersaing dengan bangsa lain.
Sesungguhnya sejak tahun 1972 UNESCO telah memprioritaskan masalah pembinaan minat baca. Pada tahun tersebut diluncurkan program yang disebut dengan program buku untuk semua (books for all), yang bertujuan untuk meningkatkan minat dan budaya baca masyarakat. Salah satu implementasi program ini adalah dicanangkan International Book Year 1972 (Tahun Buku Internasional 1972).
Di indonesia kebiasaan membaca belum terlihat menggejala. Kebiasaan membaca hanya menjadi perilaku sebagian kecil masyarakatnya, sehingga kemampuan membaca masyarakat indonesia menjadi rendah. Kondisi ini menyebabkan kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masyarakat Indonesia yang mengakibatkan SDM di indonesia menjadi tidak kompetitif. Keadaan ini tentunya harus segera diatasi karena akan berpengaruh pada nasib masa depan bangsa indonesia.


PEMBAHASAN
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kondisi rendahnya kemampuan membaca anak di Indonesia diantaranya:
1. Permasalahan di Dalam Lingkungan Sekolah.
Sekolah (pendidikan) merupakan sebagai salah satu tempat yang dipercaya untuk melahirkan masyarakat (siswa) yang mampu membaca dan memiliki bermacam pengetahuan. Rendahnya minat dan kemampuan membaca siswa akan memberi pengaruh pada kemampuan akademik siswa yang bisa berdampak pada kualitas kelulusan. Oleh sebab itu perlu diketahui beberapa hal yang menjadi penyebab rendahnya kemampuan membaca siswa di sekolah antara lain yaitu:
a. Terbatasnya sarana dan prasarana membaca, seperti ketersediaan perpustakaan dan buku-buku bacaan yang bervariasi.
Masih banyak sekolah-sekolah di Indonesia yang masih mengandalkan ketersediaan buku paket saja untuk kegiatan belajar di kelas, padahal ketersediaan buku-buku bacaan penunjang yang menarik dan bermutu akan sangat memotivasi siswa dalam memperluas pengetahuannya.
Di beberapa sekolah yang telah memiliki fasilitas perpustakaan juga belum memiliki pelayanan yang baik. Koleksi buku perpustakaan masih didominasi oleh koleksi buku paket. Bahkan fasilitas beberapa ruang perpustakaan masih sumpek, sempit, kurang ventilasi (gerah), penataan buku tidak teratur dan pada dasarnya belum memberikan kenyamanan, sehingga kegiatan membaca dalam perpustakaan menjadi membosankan, tidak mengasyikkan dan tidak nyaman.


b. Situasi pembelajaran yang kurang memotivasi siswa untuk mempelajari buku-buku tertentu di luar buku-buku paket.
Pembelajaran di kelas lebih sering berpusat pada guru atau sekedar kegiatan transfer ilmu dimana siswa hanya dijejali oleh informasi/pengetahuan dari guru dan jarang diajak berdiskusi atau diberi permasalahan tentang materi yang dibahas untuk diselesaikan bersama. sehingga siswa tidak termotivasi untuk mencari informasi dari sumber yang lain dan tidak terlatih untuk menambah pengetahuan melalui membaca.
c. Kurangnya model (dari kalangan guru) bagi siswa dalam hal membaca.
Beberapa guru belum menjadikan membaca sebagai kebutuhan pendidikan, hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan waktu luang di sekolah bagi staf dan para guru. siswa lebih sering melihat gurunya main catur, merokok, ngorol, bersendau gurau, dan sebagainya pada saat waktu luang. Sehingga siswa tidak memiliki tauladan dari guru dalam hal gemar membaca.
2. Permasalahan di Luar Lingkungan Sekolah
a) Meningkatnya penggunaan teknologi informasi elektronik.
Berkembangnya teknologi informasi menggeser minat siswa terhadap aktivitas membaca buku. Gencarnya siaran Televisi (TV) yang mampu menawarkan beragam tayangan menarik sangat mampu menyita perhatian banyak siswa, namun hal ini tidak diiringi dengan gencarnya sajian yang semakin menarik dari media cetak atau buku. Apalagi aktivitas membaca lebih membutuhkan kemampuan kosentrasi dan keaksaraan/kebahasaan dari pada aktivitas menonton TV atau mendengar radio, sehingga menjadikan aktivitas membaca terkesan lebih berat (sulit).
Berkembangnya tehnologi ‘jempol’ (hand-phone, internet) menggeser minat siswa terhadap buku. Munculnya perangkat komunikasi bernama hand-phone yang menawarkan berbagai program murah berkomunikasi menjadi salah satu penyebab rendahnya kemauan membaca siswa, karena siswa lebih sering menghabiskan waktunya untuk mengirim sms dan ngobrol lewat handphone dari pada menghabiskan waktu untuk membaca, walaupun isi komunikasi tersebut boleh dibilang kurang penting. Demikian juga dengan maraknya program komunikasi yang menggunakan internet seperti Twitter, friendster dan facebook ternyata juga mampu mengalihkan perhatian sebagian besar siswa dari kebutuhan membaca buku.
b) Banyaknya keluarga yang belum menanamkan tradisi wajib membaca.
Untuk membentuk anak-anak yang memiliki kemampuan gemar membaca harus di mulai dari lingkungan terdekat anak yaitu keluarga. Karena dalam keluargalah anak akan meniru apa yang telah menjadi kebiasaan anggota keluarganya terutama orangtua. Tapi kenyataan yang terjadi kebanyakan orangtua dari anak-anak Indonesia lebih suka menonton TV dari pada membacakan buku untuk anak-anaknya di rumah. Mereka lebih sering membiarkan anak menonton TV dari pada harus repot-repot melatih kebiasaan membaca yang mungkin dapat dimulai dengan membacakan buku cerita, sehingga anak lebih akrab dengan TV dari pada dengan buku.
Demikian juga dengan prilaku orang orangtua yang lebih menyukai nonton TV, ngobrol dan ngerumpi dari pada membaca buku. Masih sangat sedikit orangtua yang mau menyempatkan diri membaca buku saat berada dalam rumah, orangtua lebih sering menyuruh anaknya belajar atau membaca buku tetapi anak tidak mendapatkan contoh nyata bagaimana orangtuanya juga belajar/membaca buku.
c) Keterjangkauan daya beli masyarakat terhadap buku.
Selain memang harga buku yang masih terbilang mahal, masyarakat juga belum bisa merasakan secara langsung keuntungan yang bisa didapat dari banyak membaca, terbukti belum ada sosialisasi kalau orang yang banyak membaca hidupnya akan lebih baik dan uangnya banyak. Masyarakat menganggap buku bukan sebagai kebutuhan, harga buku yang melebihi harga sembako dan manfaat membeli buku belum sebanding dengan manfaat dalam membeli sembako, buku masih menjadi barang mewah bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.
Masyarakat Indonesia memang belum banyak yang menyadari bahwa membaca merupakan hal pokok dalam kehidupan yang penuh pembelajaran. Oleh sebab itu kemampuan membaca menjadi hal paling utama yang harus mendapat perhatian dari banyak pihak terutama orangtua, orang-orang yang bergerak dalam kependidikan, masyarakat dan juga pemerintah.
Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk membangun kegemaran dan kemampuan membaca masyarakat Indonesia pada umumnya dan siswa pada khususnya, diantaranya :
1. Meningkatkan Layanan Perpustakaan di Sekolah dan Lingkungan Masyarakat
Ketersediaan bahan bacaan memungkinkan tiap siswa untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan kepentingannya. Dari situlah, tumbuh harapan bahwa siswa akan semakin mencintai bahan bacaan dan memiliki pengetahuan yang luas sehingga kemampuan berfikir kritis siswa akan semakin terasah. Selain perpustakaan dikembangkan di sekolah juga perlu dikembangkan perpustakaan berbasis masyarakat yang dikelola oleh masyarakat dengan anggaran swadaya masyarakat. Hal itu dapat dilakukan melalui:
a. Dibangunnya Perpustakaan Nasional dan perpustakaan daerah (di tingkat propinsi, kecamatan dan desa).
b. Penyadaran pada masyarakat sekolah dan diluar sekolah untuk bahu membahu dalam mengatasi keterbatasan sarana perpustakaan di wilayahnya dengan program ”donasi buku” atau “waqaf buku” atau pendanaan sukarela dari donatur tertentu dan dari warga yang lebih mampu untuk biaya operasional perpustakaan tersebut.
c. Penyediaan bahan bacaan yang variatif yang mendukung pembelajaran dan mendorong siswa menyukai buku. Beberapa siswa memiliki minat yang berbeda pada bentuk, cover, tampilan, dan desain buku yang berbeda dari tampilan buku-buku paket pelajaran walaupun tema dan pembahasannya sama. Karena mungkin juga minat baca siswa tidak hanya pada materi yang tertuang dalam pelajaran tetapi pada pengetahuan lain yang belum tersaji dalam pembelajaran dikelas. Oleh sebab itu pemerintah perlu menyediakan buku-buku bacaan yang variatif, menarik dan bermutu, khususnya di tingkat SD sebagai penentu minat baca siswa dan tahap awal siswa memahami manfaat buku.
d. Peningkatan kinerja kepegawaian perpustakaan. Pelayanan perpustakaan seperti kondisi ruangan yang cukup ventilasi, tidak sumpek/gerah, bersih, luas dan rapi dalam penataan indeks buku akan membantu pengunjung merasa nyaman dan bersemangat berkunjung keperpustakaan. Fasilitas pepustakaan juga sudah berbasis teknologi. Koleksi ilmu pengetahuan tidak hanya dalam bentuk buku dan kertas tetapi telah tersedia dalam berbagai sarana teknologi seperti CD dan data online yang lebih mudah diakses.
2. Memperbaharui Sistem Pembelajaran di Sekolah
Guru perlu memberikan tugas pembelajaran yang menantang dan menarik untuk siswa misalnya dalam proses kegiatan belajar guru memberikan/memunculkan masalah yang dapat diskusikan bersama dengan siswa sehingga dapat mendorong siswa untuk menggali banyak informasi melalui aktivitas membaca.
Sekolah juga perlu membuat program membaca setiap pekan melalui pendekatan bahasa seperti “whole language” yaitu suatu pendekatan pengajaran bahasa secara utuh, dimana keterampilan menyimak, membaca, menulis dan berbicara diajarkan secara terpadu. Contoh kegiatan misalnya program membaca senyap selama 15 menit yang dilakukan oleh semua warga sekolah, lalu membuat jurnal, ringkasan atau hasil karya tentang isi bacaan/buku yang telah dibaca yang selanjutnya dapat di pajang dan dikonteskan dalam bentuk tulisan atau pidato (presentasi), sehingga siswa termotivasi dalam membaca.
3. Membudayakan Cinta Baca Mulai dari Keluarga

1) Menumbuhkan minat membaca anak sejak usia dini (pra sekolah)
Mengenalkan buku-buku bacaan yang menarik perhatian anak seperti buku cerita atau buku bergambar. Minat membaca pada anak dibangun mulai dari minat terhadap buku, ketertarikan pada buku akan merangsang anak termotivasi memiliki kemampuan membaca dan membaca lebih banyak.
Membawa anak sesering mungkin ke pusat-pusat buku, seperti perpustakaan, toko buku, bursa buku (book fair), dan lain-lain. Membantu anak merancang kegiatan bermain yang melibatkan buku, seperti bermain peran menjadi pelayan di toko buku, membuat kliping bergambar dari buku, majalah atau koran tentang sesuatu misalnya buah-buahan, binatang, memberikan reward atas keberhasilan anak dengan hadiah buku.
2) Menyediakan perpustakaan keluarga.
Ketersediaan perpustakaan kecil keluarga akan membantu anggota keluarga terbiasa akrab dengan buku saat berada di rumah dan pada waktu-waktu berkumpul bersama anggota keluarga, hal ini juga membantu anak mengenali dan menyukai buku sejak dini walaupun buku tersebut sudah pernah dilihat atau dibacanya, terkadang anak tidak bosan untuk membaca ulang.
3) Menyediakan program wajib baca dalam keluarga.
Orangtua perlu menetapkan waktu untuk membaca. Tiap anggota keluarga, baik orangtua, anak-anak dan semua yang tinggal dalam rumah diminta untuk mematuhinya. Sebaiknya orangtua menyisihkan waktunya untuk membaca buku, atau sekadar menemani anak-anaknya membaca buku. Dengan begitu, anak-anak akan mendapatkan contoh langsung dari kedua orang tuanya.
4. Mengontrol Penggunaan Media Elektronik (TV, vidio game, handphone, internet).
Peran orangtua dan guru sangat dibutuhkan dalam upaya ini, guru dan orangtua bekerjasama memberi pemahaman kepada siswa/anak tentang dampak buruk penggunaan media elektronik yang tidak terkontrol dapat meyebabkan hilangnya waktu belajar dan menurunnya kosentrasi.
5. Memperbaiki Kerjasama Dengan Penerbit dan Percetakan Buku Dalam Pengadaan Buku Murah Berkualitas.
Pemerintah perlu mengupayakan kerjasama dengan penerbit dan percetakan buku bacaan dalam menekan harga buku yang belum sesuai dengan kemampuan daya beli masyarakat, hal ini mungkin dapat dilakukan dengan mengurangi atau bahkan membebaskan beban pajak dan biaya penerbitan atau percetakan, pemberian subsidi bagi penerbit buku sehingga harga buku dapat lebih terjangkau oleh masyarakat.

KESIMPULAN
Setelah mengetahui berbagai permasalahan yang menyebabkan rendahnya minat baca siswa dan masyarakat Indonesia yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan dan keterampilan seseorang sehingga memberi dampak pada kualitas kelulusan siswa di sekolah dan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia kedepannya, maka beberapa solusi atau upaya yang telah disebutkan di atas hendaknya dapat direalisasikan bersama.
Pemerintah perlu mengoptimalkan sarana membaca sehingga membantu sekolah dan masyarakat dalam menciptakan budaya membaca seperti peningkatan layanan perpustakaan dan penerbitan buku murah dan bermutu. Guru dan orangtua perlu membuat program-program tertentu untuk anak/siswanya dalam menumbuhkan minat baca dan meningkatkan kemampuan membaca dengan aktivitas yang menarik dan menantang. Anak/siswa juga perlu diberi pemahaman dan perlu belajar bagaimana mengontrol penggunaan media elektronik yang semakin gencar dan menarik, sehingga tidak mengganggu aktifitas belajarnya yang lebih banyak di peroleh dari membaca.
Masyarakat yang terdiri dari orangtua, guru, dan pemerintah hendaknya bersama-sama membantu siswa/anak untuk menjadi generasi yang cinta baca dengan memberikan pemahaman kepada anak tentang pentingnya membaca dan mengkondisikan lingkungan dimana anak tinggal (di sekolah dan di rumah) untuk terbiasa dengan aktivitas membaca. Sehingga aktivitas membaca bukan lagi aktivitas yang asing dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian pada akhirnya akan terwujud masyarakat yang gemar membaca dan masyarakat pembelajar yang menjadikan aktivitas membaca menjadi aktivitas utama. Sehingga masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan tinggi. Kondisi ini akan membantu tercapainya bangsa yang cerdas dan terdidik (educated nation) yang akan menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) unggul dan mampu bersaing dengan bangsa lain.
DAFTAR PUSTAKA
• Alfons Taryadi. (2003). Indonesia Baru. Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.
• Muhyiddin, dkk. (2005). Gerakan Pemasyarakatan Budaya Baca. Jakarta:Intermedia.
• Sondakh, Angelia, SE (2005), Perpustakaan dan Peningkatan SDM, Bandung : Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Daerah Jawa Barat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar