Minggu, 25 September 2011

artikel

Orientasi Hidup (Kehidupan Mahasiswa Saat Ini)
Nila Sari Hutasuhut

Abstrak
Bagaimanakah yang disebut hidup tanpa orientasi? Adakah memang kondisi yang demikian? Membiarkan hidup berlalu apa adanya. “Let it flow ajalah”, demikian kata beberapa orang. Ikut arus saja. Menikmati arah gerak angin kehidupan. Mencukupkan diri pada gerak gravitasi bumi, pergantian siang dan malam, menjalani hari-hari secara fun, menikmati tiap sisi duniawi tanpa perlu dipusingkan oleh kejadian-kejadian sekitar yang berpotensi mengusik kemapanan kondisi nyaman yang ditawarkan alam. Jika demikian, bagaimana dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Apakah mahasiswa juga membiarkan hidupnya berlalu begitu saja.
Kata kunci: Mahasiswa, Orientasi Hidup

Pendahuluan
Miris sekali ketika menyaksikan banyak diantara mahasiswa yang belum memiliki orientasi hidup. Hidup dijalankan dengan seadanya dan apa adanya saja. Mengikuti arus air yang mengalir tapi tidak tahu akan bermuara dimanakah air tersebut? Ya. Aku ingin berbicara terkait itu semua.
Inilah yang terjadi dalam kehidupan mahasiswa yang menjalani proses perjalanan kehidupannya di dunia. Banyak mahasiswa yang tidak mengetahui kemana tujuan yang hakiki dari akhir perjalanan hidupnya, kemudian tidak sedikit pula yang juga tidak mengetahui jalan mana yang harus ditempuh agar selamat sampai ke tujuan. Selain itu juga, mahasiswa tidak tahu aturan-aturan yang harus digunakan dalam menempuh jalan tersebut, atau katakanlah mahasiswa tahu bahwa ada peraturan yang dapat mengantarkannya ke jalan keselamatan, tetapi mahasiswa tersebut tidak dapat memahami bagaimana menggunakan peraturan itu dengan benar. Padahal, hakikat dari setiap perjalanan mahasiswa dalam perkulianhan adalah menambah wawasan dan pengetahuan

Pembahasan
Orientasi adalah arah, pandangan. Orientasi Hidup adalah arah atau pandangan kemana dan apa tujuan kehidupan. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (versi online) menyatakan : (1) peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yg tepat dan benar; (2) pandangan yg mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan.
Dalam perjalanan kehidupan mahasiswa termasuk saya, tujuan atau orientasi hidup merupakan satu hal yang sangat penting. Pernahkah mahasiswa bertanya pada diri sendiri apa tujuan hidup kita? Hendak kemanakah setelah kehidupan dunia ini berakhir?, lalu apa yang sudah dipersiapkan dalam menyambut kehidupan tersebut?, atau apa bekal untuk kehidupan selanjutnya?, cara apa yang sudah dilakukan dalam menempuh perjalanan tersebut?, petunjuk dan aturan apa yang digunakan dalam menempuh jalan tersebut?.
Tujuan akhir dari setiap mahasiswa adalah untuk mendapatkan ilmu yang dapat diaplikasikan kepada masyarakat, tetapi ada sebagian mahasiswa yang hanya ingin mengejar nilai yang artinya dia hanya belajar saat ujian tiba. Ada juga yang hanya mementingkan penampilannya saja. padahal kita sudah sama-sama mengetahui bahwa pendiknas hanya mengharapkan mahasiswa yang benar-benar mempunyai pengetahuan yang luas, dan dapat mengaplikasikannya dalam dunia pendidikan.
Masa kuliah merupakan masa yang paling indah bagi mahasiswa, jika mahasiswa yang menjalaninya dengan sabar dan tetap tawakkal, dan tidak pernah menganggap tugas-tugas kuliah sebagai beban dalam hidupnya. Jangan sampai masa kuliah yang sementara ini berakhir begitu saja tanpa ada tujuan yang dicapai. Sebagai seorang mahasiswa akan merasa hidupnya sia-sia jika masa kuliah dianggap sebagai beban yang sangat berat dalam hidupnya.
Padahal, hakikat dari setiap perjalanan mahasiswa dalam perkuliahan ini adalah menambah wawasan dan pengetahuan. Dan juga menjadikan mahasiswa lebih mandiri, dewasa, sehingga dia dapat menetukan tujuan dari hidupnya sendiri. Tetapi jika ditanya apakah mahasiswa tersebut sudah mengetahui apa orientasi hidupnya (tujuan hidupnya), lebih dari 50% yang menjawab tidak tahu atau pun bingun. Hal ini disebabkan karena ketidak seriusannya dalam belajar ataupun yang diminati sebelumnya adalah masuk di fakultas lain.
Jika mahasiswa kehilangan orientasi pada masa kuliah, baik secara individual maupun sosial, maka akan terjadi ketimpangan dalam kehidupannya. Mungkin ada di antara kita yang diciptakan dengan penuh keberhasilan secara materi, dikaruniai jabatan tinggi, karier yang selalu sukses, tapi jangan lupa, untuk apa semua karunia yang kita miliki itu?.
Oleh karena itu sepintar-pintar mahasiswa tidak akan berguna jika dia hanya mementingkan diri sendiri, atau tidak mengaplikasikannya kepada masyarakat ilmu yang dipeloreh tersebut tidak akan berkembang.
Penutup
Masa kuliah merupakan masa yang paling indah bagi mahasiswa, jika mahasiswa yang menjalaninya dengan sabar dan tetap tawakkal, dan tidak pernah menganggap tugas-tugas kuliah sebagai beban dalam hidupnya. Jangan sampai masa kuliah yang sementara ini berakhir begitu saja tanpa ada tujuan yang dicapai. Sebagai seorang mahasiswa akan merasa hidupnya sia-sia jika masa kuliah dianggap sebagai beban yang sangat berat dalam hidupnya.
Tujuan akhir dari setiap mahasiswa adalah untuk mendapatkan ilmu yang dapat diaplikasikan kepada masyarakat, tetapi ada sebagian mahasiswa yang hanya ingin mengejar nilai yang artinya dia hanya belajar saat ujian tiba. Ada juga yang hanya mementingkan penampilannya saja. padahal kita sudah sama-sama mengetahui bahwa pendiknas hanya mengharapkan mahasiswa yang benar-benar mempunyai pengetahuan yang luas, dan dapat mengaplikasikannya dalam dunia pendidikan.

Daftar Pustaka
http://taufiq.blog.unair.ac.id/2008/06/14/orientasi-yang-benar-dalam-hidup/
http://www.sabdaspace.com/kemana_tujuan_hidup_mu
http://risalahperjalanan.wordpress.com/2009/08/27/orientasi-hidup/
http://deasukata.blogspot.com/2011/02/orientasi-hidup.html
http://www.radarbanten.com/newversion/utama/2114-meluruskan-orientasi-hidup.html

Kamis, 02 Juni 2011

Pemerolehan Bahasa Anak Usia 2-4 Tahun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses pemerolehan dan penguasaan bahasa anak-anak merupakan satu perkara yang rencam dan cukup menakjubkan bagi para penyelidik dalam bidang psikoliguistik. Bagaimana manusia memperoleh bahasa merupakan satu isu yang amat mengagumkan dan sukar dibuktikan. Berbagai teori dari bidang disiplin yang berbeda telah dikemukakan oleh para pengkaji untuk menerangkan bagaimana proses ini berlaku dalam kalangan anak-anak. Memang diakui bahwa disadari ataupun tidak, sistem-sistem linguistik dikuasai dengan pantas oleh individu anak-anak walaupun umumnya tiada pengajaran formal.

“…learning a first language is something every child does successfully, in a matter of a few years and without the need for formal lessons.” (Language Acquisition: On-line).

Walaupun rangsangan bahasa yang diterima oleh anak-anak tidak teratur. Namun mereka berupaya memahami sistem-sistem linguistik bahasa pertama sebelum menjangkau usia lima tahun. Fenomena yang kelihatan menakjubkan ini telah berlaku dan terus berlaku dalam kalangan semua masyarakat dan budaya pada setiap masa. Mengikut penyelidik secara empirikal, terdapat dua teori utama yang membincangkan bagaimana manusia memperoleh bahasa. Teori pertama mempertahankan bahwa bahasa diperoleh manusia secara alamiah atau dinuranikan. Teori ini juga dikenali sebagai Hipotesis Nurani dalam linguistik. Teori yang kedua mempertahankan bahwa bahasa diperoleh manusia secara dipelajari.


Kajian saintifik dalam bidang pemerolehan bahasa telah dimulakan sejak kurun ke-16 lagi (Zulkifly, 1990:326-331). Kajian ini dimulakan oleh Tiedeman, seorang ahli biologi berbangsa Jerman pada tahun 1787. Charles Darwin, pengazas teori evolusi turut menjalankan kajian dalam bidang pemerolehan bahasa pada tahun 1877. Kajian-kajian yang seterusnya telah dilakukan oleh Preyer pada tahun 1882 dan kajian Sally pada tahun 1885.

Pemerolehan bahasa merupakan satu proses perkembangan bahasa manusia. Lazimnya pemerolehan bahasa pertama dikaitkan dengan perkembangan bahasa anak-anak manakala pemerolehan bahasa kedua bertumpu kepada perkembangan bahasa orang dewasa (Language Acquisition: On-line).

Perkembangan bahasa anak-anak pula bermaksud pemerolehan bahasa ibu anak-anak berkenaan. Namun terdapat juga pandangan lain yang mengatakan bahwa terdapat dua proses yang terlibat dalam pemerolehan bahasa dalam kalangan anak-anak yaitu pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa. Dua faktor utama yang sering dikaitkan dengan pemerolehan bahasa ialah faktor nurture dan faktor nature. Namun para pengkaji bahasa dan linguistik tidak menolak kepentingan tentang pengaruh faktor-faktor seperti biologi dan sekitarnya.

Kajian-kajian telah dijalankan untuk melihat sama ada manusia memang sudah dilengkapi dengan alat biologi untuk kebolehan berbahasa seperti yang dikatakan oleh ahli linguistik Noam Chomsky dan Lenneberg ataupun kebolehan berbahasa ialah hasil dari pada kebolehan kognisi umum dan interaksi manusia dengan sekitarannya. Mengikut Piaget, semua anak-anak sejak lahir telah dilengkapi dengan alat nurani yang berbentuk mekanikal umum untuk semua kebolehan manusia termasuklah kebolehan berbahasa. Alat mekanisme kognitif yang bersifat umum digunakan untuk menguasai segala-galanya termasuk bahasa. Bagi Chomsky dan Miller pula, alat yang khusus ini dikenali sebagai Language Acquisition Device (LAD) yang fungsinya sama seperti yang pernah dikemukakan oleh Lenneberg yang dikenali sebagai “Innate Prospensity for Language”.

Bayi-bayi yang baru lahir sudah mulai mengecam bunyi-bunyi yang terdapat di sekitarnya. Mengikut Brookes (dlm. Abdullah Yusoff dan Che Rabiah Mohamed, 1995:456), kelahiran atau pemerolehan bahasa dalam bentuk yang paling sederhana bagi setiap bayi bermula pada waktu bayi itu berumur lebih kurang 18 bulan dan mencapai bentuk yang hampir sempurna ketika berumur lebih kurang empat tahun. Bagi Mangantar Simanjuntak (1982), pemerolehan bahasa bermaksud penguasaan bahasa oleh seseorang secara tidak langsung dan dikatakan aktif berlaku dalam kalangan kanak-kanak dalam lingkungan umur 2-6 tahun. Hal ini tidak bermakna orang dewasa tidak memperoleh bahasa tetapi kadarnya tidak sehebat anak-anak.

Pemerolehan bahasa dikaitkan dengan penguasaan sesuatu bahasa tanpa disadari atau dipelajari secara langsung yaitu tanpa melalui pendidikan secara formal untuk mempelajarinya, sebaliknya memperolehnya dari bahasa yang dituturkan oleh ahli masyarakat di sekitarnya. Beliau seterusnya menegaskan bahwa kajian tentang pemerolehan bahasa sangat penting terutamanya dalam bidang pengajaran bahasa. Pengetahuan yang cukup tentang proses dan hakikat pemerolehan bahasa boleh membantu bahkan menentukan kejayaan dalam bidang pengajaran bahasa.

1.2 Rumusan Masalah
Sampel kajian yang pertama ialah seorang anak laki-laki yang bertutur dalam bahasa Indonesia. Bahasa tersebut merupakan bahasa ibu anak itu. Anak tersebut tinggal bersama-sama dengan ayah dan ibunya sendiri, tetapi kalau siang diasuh ibunya saja, karena ditinggal kerja oleh ayahnya. Anak tersebut dilahirkan pada 12 Desember 2009. Anak tersebut berumur dua tahun lima bulan. Nama lengkap anak tersebut ialah Audi Firmansyah M Siregar.

Sampel kajian yang kedua ialah seorang anak laki-laki juga yang bertuturan dalam bahasa Indonesia. Bahasa tersebut merupakan bahasa ibu si anak tersebut. Anak ini tinggal bersama keluarganya sendiri, tetapi anak ini sering berinteraksi atau bermain di lingkungan sekitarnya. Anak tersebut dilahirkan pada tanggal 26 Desember 2008. Anak tersebut berumur tiga tahun lima bulan. Nama lengkap anak tersebut ialah Andika Pratama.

Sample kajian yang ketiga ialah seorang anak perempuan yang bertuturan dalam bahasa Indonesia. Bahasa tersebut merupakan bahasa ibu anak tersebut. Anak ini tinggal bersama ayah dan ibunya sendiri, tetapi kalau siang hari dia di asuh oleh neneknya karena ditinggal kerja oleh ayah dan ibunya. Anak tersebut dilahirkan pada tanggal 8 Oktober 2008. Anak tersebut berumur tiga tahun tuju bulan. Dan nama lengkap anak tersebut ialah Meliza Yuspi.
Pendekatan interaksi yang digunakan dalam kajian ini memandangkan subjek kajian yang dipilih selalu berpeluang berinteraksi dengan anggota keluarganya. Bentuk interaksi observasi ini terdiri daripada interaksi yang tidak dirancang. Sebagai langkah untuk menjamin data kajian yang lebih autentik, latar yang tidak dirancang digunakan. Analisis pertuturan Audi dilakukan dalam berbagai situasi dan keadaan dalam lingkungan keluarganya sendiri. Pengalaman Audi juga digunakan dan dianggap sebagai alat kajian ini. Transkripsi pertuturan subjek kajian ini dibuat dalam bentuk dan sistem ejaan fonemik.
Sehingga berdasarkan latar belakang dalam subek kajian “Pemerolehan Bahasa Anak Usia Tiga Tahun Dalam Lingkungan Keluarga” dapat peneliti rumuskan yaitu Bagaimana ujaran setiap giliran tutur yang digunakan anak usia tiga tahun dalam bertutur?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini dilakukan oleh peneliti adalah untuk dapat mengetahui bagaimana pemerolehan bahasa anak usia tiga tahun, dan mendapatkan gambaran mengenai bagaiman ujaran setiap giliran tutur yang digunakan anak usia tiga tahun dalam bertutur.


BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pemerolehan Bahasa
2.1.1 Pengertian Pemerolehan Bahasa
Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama (Bl) anak terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.
Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa. Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual, yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik.
Penelitian mengenai bahasa manusia telah menunjukkan banyak hal mengenai pemerolehan bahasa, mengenai apa yang dilakukan atau tidak dilakukan seorang anak ketika belajar atau memperoleh bahasa (Fromkin dan Rodman, 1998:318).
1. Anak tidak belajar bahasa dengan cara menyimpan semua kata dan kalimat dalam sebuah kamus mental raksasa. Daftar kata-kata itu terbatas, tetapi tidak ada kamus yang bisa mencakup semua kalimat yang tidak terbatas jumlahnya.
2. Anak-anak dapat belajar menyusun kalimat, kebanyakan berupa kalimat yang belum pernah mereka hasilkan sebelumnya.
3. Anak-anak belajar memahami kalimat yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka tidak dapat melakukannya dengan menyesuaikan tuturan yang didengar dengan beberapa kalimat yang ada dalam pikiran mereka.
Anak-anak selanjutnya harus menyusun "aturan" yang membuat mereka dapat menggunakan bahasa secara kreatif. Tidak ada yang mengajarkan aturan ini. Orang tua tidak lebih menyadari aturan fonologis, morfologis, sintaktis, dan semantik daripada

anak-anak. Selain memperoleh aturan tata bahasa (memperoleh kompetensi linguistik), anak-anak juga belajar pragmatik, yaitu penggunaan bahasa secara sosial dengan tepat, atau disebut para ahli dengan kemampuan komunikatif. Aturan-aturan ini termasuk mengucap salam, kata-kata tabu, bentuk panggilan yang sopan, dan berbagai ragam yang sesuai untuk situasi yang berbeda. Ini dikarenakan sejak dilahirkan, manusia terlibat dalam dunia sosial sehingga ia harus berhubungan dengan manusia lainnya. Ini artinya manusia harus menguasai norma-norma sosial dan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Sebagian dari norma ini tertanam dalam bahasa sehingga kompetensi seseorang tidak terbatas pada apa yang disebut pemakaian bahasa (language usage) tetapi juga penggunaan bahasa (language use) (Dardjowidjojo, 2000:275).
Pemerolehan bahasa pertama erat sekali kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya juga erat hubungannya dengan pembentukan identitas sosial. Mempelajari bahasa pertama merupakan salah satu perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota penuh suatu masyarakat. Bahasa memudahkan anak mengekspresikan gagasan, kemauannya dengan cara yang benar-benar dapat diterima secara sosial. Bahasa merupakan media yang dapat digunakan anak untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral, agama, dan nilai-nilai lain dalam masyarakat.

2.1.2 Masa Waktu dan Perkembangan Pemerolehan Bahasa
Perkembangan pemerolehan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu (a) perkembangan prasekolah (b) perkembangan ujaran kombinatori, dan (c) perkembangan masa sekolah. Perkembangan pemerolehan bahasa pertama anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata dan ujaran kombinasi permulaan.
Perkembangan pralinguistik ditandai oleh adanya pertukaran giliran antara orang tua (khususnya ibu) dengan anak. Pada masa perkembangan pralinguistik anak mengembangkan konsep dirinya. la berusaha membedakan dirinya dengan subjek, dirinya dengan orang lain serta hubungan dengan objek dan tindakan pada tahap satu kata.

Anak terus-menerus berupaya mengumpulkan nama benda-benda dan orang yang ia jumpai. Kata-kata yang pertama diperolehnya tahap ini lazimnya adalah kata yang menyatakan perbuatan, kata sosialisasi, kata yang menyatakan tempat, dan kata yang menyatakan pemerian.
Perkembangan bahasa pertama anak lebih mudah ditandai dari panjang ucapannya. Panjang ucapan anak kecil merupakan indikator atau petunjuk perkembangan bahasa yang lebih baik dari pada urutan usianya. Jumlah morfem rata-rata per ucapan dapat digunakan sebagai ukuran panjangnya. Ada lima tahapan pemerolehan bahasa pertama. Setiap tahap dibatasi oleh panjang ucapan rata-rata tadi. Untuk setiap tahap ada Loncatan Atas (LA).
Walaupun perkembangan bahasa setiap anak sangat unik, namun ada persamaan umum pada anak-anak, ada persesuaian satu sama lain semua mencakup eksistensi, non eksistensi, rekurensi, atribut objek dan asosiasi objek dengan orang. Pada masa tahap 2 ada tiga sarana ekspresif yang dipakai oleh anak-anak, yang dapat membuat kalimat-kalimat mereka menjadi lebih panjang yaitu kemunculan morfem-morfem gramatikal secara inklusif dalam ujaran anak, pengertian atau penyambungan bersama-sama hubungan dua hal tersebut, dan perluasan istilah dalam suatu hubungan/relasi.
Perkembangan pemerolehan bunyi anak-anak bergerak dari membuat bunyi menuju ke arah membuat pengertian. Periode pembuatan pembedaan atas dua bunyi dapat dikenali selama tahun pertama yaitu (1) periode vokalisasi dan prameraban serta (2) periode meraban. Anak lazimnya membuat pembedaan bunyi perseptual yang penting selama periode ini, misalnya membedakan antara bunyi suara insani dan noninsani antara bunyi yang berekspresi marah dengan yang bersikap bersahabat, antara suara anak-anak dengan orang dewasa, dan antara intonasi yang beragam. Anak-anak mengenali makna-makna berdasarkan persepsi mereka sendiri terhadap bunyi kata-kata yang didengarnya. Anak-anak menukar atau mengganti ucapan mereka sendiri dari waktu ke waktu menuju ucapan orang dewasa, dan apabila anak-anak mulai menghasilkan segmen bunyi tertentu, hal itu yang akan jadi pembendaharaan mereka.

Perkembangan ujaran kombinatori anak-anak dapat dibagi dalam empat bagian yaitu perkembangan negatif/penyangkalan, perkembangan interogratif/pertanyaan, perkembangan penggabungan kalimat, dan perkembangan sistem bunyi. Ada tiga tipe struktur interogatif yang utama untuk mengemukakan persyaratan, yaitu pertanyaan yang menuntut jawaban ya atau tidak, pertanyaan yang menuntut informasi, dan pertanyaan yang menuntut jawaban salah satu dari yang berlawanan (polar). Penggabungan beberapa proposisi menjadi sebuah kalimat tunggal memerlukan rentangan masa selama beberapa tahun dalam perkembangan bahasa anak-anak.
2.2 Pemerolehan Tindak Tutur
Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari aspek pemakaian aktualnya. Leech (1983:5-6) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada siapa, di mana, bilamana, bagaimana.
Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral di dalam pragmatik dan juga merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain di bidang ini seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan. Di dalam bukunya How to Do Things with Words, Austin (1962:1-11) membedakan tuturan yang kalimatnya bermodus deklaratif menjadi dua yaitu konstatif dan performatif. Tindak tutur konstatif adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang kebenarannya dapat diuji benar atau salah dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia.
Sedangkan tindak tutur performatif adalah tindak tutur yang pengutaraannya digunakan untuk melakukan sesuatu, pemakai bahasa tidak dapat mengatakan bahwa tuturan itu salah atau benar, tetapi sahih atau tidak. Berkenaan dengan tuturan, Austin membedakan tiga jenis tindakan: (1) tindak tutur lokusi, yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna di dalam kamus dan menurut kaidah sintaksisnya. (2) tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang mengandung maksud; berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan, dan di mana tindak tutur itu dilakukan,dsb. (3) tindak tutur perlokusi, yaitu tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk mempengaruhi mitra tutur.
Pencetus teori tindak tutur, Searle (1975:59-82) membagi tindak tutur menjadi lima kategori:
1. Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan
2. Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu
3. Ekspresif/evaluatif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.
4. Komisif, yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya
5. Deklarasi/establisif/isbati, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru.
Tindak tutur juga dibedakan menjadi dua yaitu tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Penggunaan tuturan secara konvensional menandai kelangsungan suatu tindak tutur langsung. Tuturan deklaratif, tuturan interogatif, dan tuturan imperatif secara konvensional dituturkan untuk menyatakan suatu informasi, menanyakan sesuatu, dan mernerintahkan mitra tutur melakukan sesuatu.


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Subjek Penelitian/Sumber Data
Adapun subjek penelitian yang telah diteliti berjumlah 3 orang anak yang usianya berkisar 2-4 tahun. Berikut identitas masing-masing anak tersebut :
A. Indentitas Anak Pertama
1. Identitas Anak
Nama : Audi Firmansyah M Siregar
Tanggal Lahir :12 Desember 2009
Tempat Lahir : Jln. Bersama Gg. Matahari no 5. Medan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : Dua Tahun Lima Bulan
Anak Ke : 1
Alamat : Jln. Bersama Gg. Matahari no 5. Medan

2. Identitas Orang Tua
a. Ayah
Nama : Muharram Siregar
Tanggal lahir : 25 Desember 1977
Tempat lahir : Palopat Maria
Umur : 34 Tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jln. Bersama Gg. Matahari no 5. Medan

b. Ibu
Nama : Nursyawiyah Siregar
Tanggal lahir : 27 Juli 1989
Tempat lahir : Batu Tunggal
Jenis Kelmin : Perempuan
Umur : 21 Tahun
Pekerjaan : Mengurus Rumah Tangga
Alamat : Jln. Bersama Gg. Matahari no 5. Medan

B. Identitas Anak kedua
1. Identitas Anak
Nama : Andika Pratama
Tanggal Lahir : 26 Desember 2007
Tempat Lahir : Medan
Umur : 3 tahun 5 bulan
Anak Ke : 1
Alamat : Jl. Mesjid gg Pelita, Tembung

2. Identitas Orang Tua
a. Ayah
Nama : Ali Andi
Tanggal lahir : 23 Juli 1981
Tempat lahir : Tembung
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 30 Tahun
Pekerjaan : Wiraswata
Alamat : Jl. Mesjid gg Pelita, Tembung
b. Ibu
Nama : Sri Lestari
Tanggal lahir : 9 September 1986
Tempat lahir : Sei Rotan
Janis Kelamin : Perempuan
Umur : 25 Tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Jl. Mesjid gg Pelita, Tembung
C. Identitas Anak ketiga

1. Identitas Anak
Nama : Meliza Yuspi.
Tanggal Lahir : 8 Oktober 2008
Tempat Lahir : Medan
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : Tiga tahun enam bulan
Anak Ke : 2
Alamat : Jl. Mesjid gg Pelita, Tembung

2. Identitas Orang Tua
a. Ayah
Nama : Muhammad Iskandar
Tanggal lahir : 20 juli 1980
Tempat lahir : Tembung
Janis Kelamin : Laki-laki
Umur : 31 Tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Mesjid, Gg Pelita, Tembung

b. Ibu
Nama : Handayani
Tanggal lahir : 30 April 1987
Tempat lahir : Batang Kuis
Umur : 26 Tahun
Janis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Mesjid, Gg Pelita, Tembung


3.2 Teknik Pengumpulan Data
Peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yang diusulkan oleh Sudaryanto (1993:133-136), yaitu teknik simak libat cakap. Teknik ini berarti peneliti juga berpartisipasi langsung di dalam percakapan yang terjadi. Peneliti juga menggunakan teknik simak bebas libat cakap, di mana ia tidak terlibat dalam percakapan (hanya menyimak saja). Teknik ini dikombinasikan dengan teknik wawancara serta teknik catat. Data dikumpulkan secara natural dengan beberapa tambahan untuk memancing objek penelitian dalam memunculkan suatu ujaran untuk menanggapi sesuatu. Alat yang digunakan adalah pulpen, buku, dan hp. Alat ini digunakan untuk mendokumentasikan percakapan antara anak dan peneliti. Wawancara dilakukan ketika objek penelitian bercakap-cakap dengan satu atau dua orang teman atau dengan orang yang lebih tua. Selain wawancara, peneliti juga menggunakan metode pencatatan untuk mendukung data wawancara. Ketika objek penelitian bercakap-cakap, peneliti mencatat percakapan tersebut. Cara ini dilakukan terutama ketika peneliti sedang tidak terlibat di dalam percakapan tersebut atau ketika mengamati dari jarak yang tidak terlalu dekat.
3.3 Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil wawancara adalah berupa tuturan langsung objek penelitian dan cacatan tentang percakapan objek penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik interpretasi dengan cara menganalisis data sesuai dengan jenis-jenis tindak tutur yang ditetapkan dalam teori tindak tutur.
Pengumpulan data dilakukan selama 2 (dua) bulan dari bulan Maret 2011 hingga Mei 2011. Dan pelaksanaannya dilakukan di rumah ketiga anak tersebut. Penelitian ini telah peneliti lakukan sebanyak 8 kali observasi dengan situasi informal. Namun, tidak ada jadwal khusus untuk melakukan pengumpulan data.


a) Anak Pertama (Audi Firmansyah M Siregar)
Konteks : Memberikan anak mainan
Peneliti : Dari mana dek?
Audi : Hmmm (Dengan menunjukkan suatu tempat permainan)
Peneliti : Maen sama kakak yok?
Audi : Akh, ngantuk…
Peneliti : Kakak ada mainan lo!
Audi : analah.. (Manalah).
Peneliti : Ini sama kakak, sinilah biar kakak kasih…

b) Anak Kedua (Andika Pratama)
Konteks : Menanyakan ayah si anak
Peneliti : Tama, ayah kemana?
Andika : Kerja
Peneliti : Kerjanya dimana?
Andika : jauh…..
Peneliti : Tama, dah makan pa belum?
Andika : udah makan adek…

c) Anak Ketiga (Meliza Yuspi)
Konteks : Membujuk Anak
Peneliti : Cup… cup…. Udah besar kog nangis?
Meliza : Huu….(sambil menangis)
Peneliti : Liza kenapa…?
Meliza : jatuh……(sambil masih menangis)
Peneliti : Ya udah jangan nangis lagi, za kan udah besar, ntar gak cantik lagi lo…
Meliza : mama…….


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Analisis Bahasa Anak Pertama
Subjek peneleitian yang pertama adalah Audi Firmansya M Siregar, yang sehari-harinya dipanggil “Audi”. Dia dilahirkan di pada tanggal 12 Desember 2008. Ibunya Nursyawiyah Siregar dan ayahnya Muharram Siregar. Audi tumbuh dalam keluarga yang termasuk kelas menengah yang untuk kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan primer yang lain tercukupi. Disamping mainan seperti mobil-mobilan atau bola dan sebagainya, orang tua Audi juga banyak memberikan gambar-gambar, seperti gambar buah, kendaraan dan sebagainya.

Pengambil giliran (turn taking) merupakan satu strategi yang penting dalam suatu komunikasi khususnya dalam komunikasi dua hal. Dengan adanya strategi ini, suatu tuturan dapat berjalan dengan lancar dan teratur menurut prinsip-prinsip komunikasi. Dalam kajian ini, didapat bahwa ujaran setiap giliran untuk subjek kajian, Audi dengan peneliti. Hal ini mungkin disebabkan observasi yang dilakukan itu lebih merupakan tuturan yang berupa soal jawab antara Audi dengan peneliti. Oleh karena itu, dalam percakapan tersebut, Audi hanya berperan untuk menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh peneliti tadi.
Cuplikan wacana di atas membuktikan bahwa Audi dalam bertutur hanya menjawab pertanyan dengan menggunakan cari telunjuk. Tetapi Jumlah ujaran-ujaran yang diucapkan sangat pendek dan sangat sederhana. Akan tetapi dia belum dapat memahami semua ujaran yang kita sebutkan terhadapnya. Dan untuk meminta sesuatu pun dia tidak berbicara melainkan dia hanya menunjuk apa atau benda apa yang ia inginkan tersebut. Hal ini disebabkan karena bahasa pertama yang anak kuasai adalah bahasa yang sesuai dengan lingkungan pembelajar.
4.1.2 Analisis Bahasa anak Kedua
Subjek peneleitian yang kedua adalah Andika Pratama, yang sehari-harinya dipanggil “Tama”. Dia dilahirkan di pada tanggal 26 Desember 2007. Ibunya Sri Lestari dan ayahnya Ali Andi. “Tama” tumbuh dalam keluarga yang termasuk kelas menengah yang untuk kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan primer yang lain tercukupi. Orang tuanya sangat aktif dalam mengajaknya berbicara, hal ini menyebabkan kemampuan “Tama” dalam merespon percakapan sanga baik. Orang tuanya juga melengkapi mainan seperti mobil-mobilan atau bola dan sebagainya, orang tua Tama juga banyak mengenalkan gambar-gambar, seperti gambar buah, kendaraan dan sebagainya.

Pengambil giliran (turn taking) merupakan satu strategi yang penting dalam suatu komunikasi khususnya dalam komunikasi dua hal. Dengan adanya strategi ini, suatu tuturan dapat berjalan dengan lancar dan teratur menurut prinsip-prinsip komunikasi. Dalam kajian ini, didapat bahwa ujaran setiap giliran untuk subjek kajian, Tama dengan peneliti. Hal ini mungkin disebabkan observasi yang dilakukan itu lebih merupakan tuturan yang berupa soal jawab antara Tama dengan peneliti. Oleh karena itu, dalam percakapan tersebut, Tama berperan aktif dalam menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh peneliti tadi.

Dari cuplikan wacana di atas membuktikan bahwa Tama dalam bertutur menjawab pertanyan dari lawan tutur dengan baik. Dari jawaban-jawaban yang dituturkan tersebut sangat jelas bahwa dia sangat lancar dan mudah mencerna apa yang ditanyakan oleh peneliti terhadapnya. Dan hal-hal yang tidak ditanyakan pun dia menceritakannya. Terkadang dia menggunakan bahasa baku dalam percakapannya. Dia juga sering menggunakan kata-kata seperti “sudah”. Jumlah ujaran-ujaran yang diucapkan relatif panjang dan sangat mudah untuk dimengerti. Dia mampu menceritakan suatu hal kepada orang dewasa dengan sangat lancar. Hal ini disebabkan karena bahasa pertama yang dikuasai adalah bahasa yang sesuai dengan lingkungan pembelajar. Dan juga karena bahasa yang dipakainya telah dipengaruhi oleh lingkungan.

4.1.3 Analisis Bahasa Anak Ketiga

Subjek peneleitian yang ketiga adalah Meliza Yuspi, yang sehari-harinya dipanggil “Liza”. Dia dilahirkan di pada tanggal 8 Oktober 2008. Ibunya Handayani dan ayahnya Muhammad Iskandar. “Liza” tumbuh dalam keluarga yang termasuk kelas menengah atas yang kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan primer yang lain telah tercukupi dengan baik. Orang tuanya sangat memanjakannya dengan cara melengkapi mainan-maianan serta boneka-boneka kesukaannya.

Pengambil giliran (turn taking) merupakan satu strategi yang penting dalam suatu komunikasi khususnya dalam komunikasi dua hal. Dengan adanya strategi ini, suatu tuturan dapat berjalan dengan lancar dan teratur menurut prinsip-prinsip komunikasi. Dalam kajian ini, didapat bahwa ujaran setiap giliran untuk subjek kajian, Liza dengan peneliti. Hal ini mungkin disebabkan observasi yang dilakukan itu lebih merupakan tuturan yang berupa soal jawab antara Liza dengan peneliti. Oleh karena itu, dalam percakapan tersebut, Liza hanya berperan untuk menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh peneliti tadi. Dan respon yang diberikan Liza dalam percakapan tersebut kurang begitu aktif.

Dari cuplikan wacana di atas membuktikan bahwa Liza dalam bertutur hanya menjawab pertanyan dari lawan tutur. Dari jawaban-jawaban yang dituturkan tersebut sangat jelas bahwa dia tidak begitu mampu merespon pertanyaan dengan baik, sehingga jawaban yang diberikan hanya sepenggal kata saja. Dalam wacana di atas, jelas bahwa Liza mengucapkan kata-kata yang terpenggal. Jadi, dapat disimpulkan anak usia tiga tahun sebenarnya sudah bisa berkomunikasi, meskispun secara terbatas. Kamunikasi secara terbatas dalam tutur ini karena keadaan situasi yang sedang dialami Liza. Dalam keadaan menangis Liza secara tidak langsung akan memanggil yang mamanya, karena hanya mamanya orang yang terdekat (yang merawat) dia.


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Sejalan dengan rumusan masalah dan tujuan penulisan yang disampaikan di bagian pendahuluan, maka sebagai kesimpulan dapatlah disampaikan hal-hal berikut.
Berdasarkan panjang ayat anak usia tiga tahun dalam bertutur pada umumnya mengucapkan kata-kata secara terpenggal. Serta penguasaan bahasa yang dikuasai anak diperoleh melalui tahapan-tahapan tertentu. Anak umur tiga tahun sudah mampu menyusun kalimat dalam bertutur meskipun masih sangat sederhana dan terbatas. Berdasarkan jumlah ujaran setiap giliran tutur dibuktikan anak tiga tahun dalam bertutur hanya menjawab pertanyaan dari lawan tutur.
Dari hasil penelitian ini, kami mendapatkan bahwa anak umur tiga tahun seperti “Tama” bertutur dengan baik kepada lawan tuturnya. Hal ini dikarenakan orang tuanya aktif mengajaknya berbicara sehingga dia memiliki kemampuan bertutur yang lebih baik jika dibandingkan dengan kedua anak lainnya yang kami teliti. Oleh karena itu faktor lingkungan sangat mempengaruhi pemerolehan bahasa pada anak.

5.2 Saran
Adapun saran-saran perbaikan yang dapat kami berikan untuk melengkapi keilmuan kebahasaan anak khususnya pada penelitian pemerolehan tindak tutur pada anak usia 2-4 tahun ialah:
1. Orang tua harus mampu memberikan input bahasa yang baik kepada anaknya, karena anak umur 2-4 sangat peka dalam menirukan kata-kata yang didengarnya.
2. Perilaku pertuturan yang dikaji berdasarkan jenis-jenis tindak tutur yang dilakukan terhadap bahasa lain semisal bahasa ibu (daerah) dari anak usia 2-4 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

Dardjowidjojo, Soenjono dan Unika Atma Jaya. 2000. Echa Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Dardjowidjojo, Soenjono dan Unika Atma Jaya. 2003. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Anggota IKAPI DKI.
Yuniarti. 2010. Kompetensi Tindak Tutur Direktif Anak Usia Prasekolah. Semarang : Universitas Diponegoro.
Kushartanti, B. -----. Strategi Kesantunan Bahasa pada Anak-anak Usia Prasekolah: Mengungkapkan Keinginan. Jakarta : Universitas Indonesia.
Halijah, Abd dan Hamid. 1996. Bagaimana Manusia Memperoleh Bahasa?. Jakarta: Pelita Bahasa (Jurnal penyelidikan IPBL, jilid 7, 2006)
http://www.infodiknas.com/pemerolehan-bahasa-anak-usia-tiga-tahundalam-lingkungan-keluarga/

CERPEN

TAK ADA YANG BERUBAH

Oleh Nila Sari Hutasuhut
Aku berjalan menyusuri gang setapak dan berliku dari rumah-rumah besar menuju jalan raya, hendak menemui seseorang dari masa lalu. Sebenarnya bukan hendak menemui tapi hanya sekedar lewat depan rumahnya yang di pinggir jalan raya untuk melihat dia yang sedang duduk di depan rumahnya. Namun orang yang dimaksud tidak ada. Aku kecewa tak melihat wajah pujaan hati. Padahal liburan sudah hampir usai. Sepertinya aku tak akan lihat wajahnya lagi untuk beberapa bulan ke depan. Kuliah padat menantiku di Medan. Jadi aku meneruskan jalanku. Berhenti sejenak, berpikir mau kemana aku sekarang.
Di sepanjang jalan aku melihat kiri kanan. Tak banyak berubah. Masih ada tukang cukur yang dulu pernah beberapa kali dia potong rambut di sana. Masih ada warung yang sering kudatangi membeli jajanan. Aku ingat ibu setengah baya yang menjaga warung, tetapi tak dapat kulihat wajahnya hari ini. Kulangkahkan kakiku terus ke depan. Beberapa meter di depanku kilang padi yang kutuju. Tepat di sebelah kananku sekarang adalah kantor pos tua yang tak pernah disentuh orang lagi. Aku ingat beberapa kali aku pernah mengirim surat di kantor pos itu.
Kilang padi merupakan salah satu tempat bermain favoritku waktu kecil. Bermain perosotan atau menangkap belakang yang menempel didaun ataupun didinding kilang padi. belalang itu kutangkap dengan tanganku sendiri. Aku sangat ahli melakukannya.
Pandanganku dimanjakan oleh hamparan sawah hijau membentang luas di sebelah kiriku. Gunung menjulang tinggi di kejauhan. Sejauh mata memandang semuanya hijau. Kuhirup udara sore sebanyak yang aku bisa. Udaranya bersih dan segar. Rasanya tak ingin kembali ke kota dimana udara bersih sangat langka dan warna hijau seringnya hanya didapat dari warna angkot (angkutan umum) nomor 40, 60, dan 65 .
Aku berjalan pelan-pelan karena tak ingin cepat sampai dipersimpangan menuju kampungku yang terdapat beberapa meter di depanku. Nampak di depanku sekarang adalah beberapa pemuda dari kampungku yang sedang memancing ikan di sawah entah punya siapa. Ada seorang yang bermain gitar di undakan semen di sebelah sawah. Setelah kuamati ternyata dia tetanggaku yang seumuran denganku. Karena tak begitu akrab, jadi aku tetap berdiri jauh dari mereka sambil menonton pertunjukan mereka. Aku jadi ingat bahwa seumur hidup aku belum pernah memancing ikan. Aku juga tak pernah berniat melakukannya.
Sudah cukup lama aku mengamati mereka. Beberapa orang melihat kepadaku namun tak ada yang menyapa. Aku memang tak akrab dengan orang-orang itu walaupun aku tahu nama mereka satu per satu. Rasanya sudah cukup aku mengenang masa kecil. Aku berjalan menuju persimpangan kampungku.
Di depanku ada seorang gadis yang sepertinya kukenal. Dia berjalan ke arahku, semakin mendekat. Tentu saja, dia teman SMA-ku dan teman lesku dulu. Aku tahu dia melihat kepadaku namun dia langsung menoleh ke arah lain, mengamati sesuatu yang kutahu itu tak ada. Sambil berjalan aku melihatnya terus namun dia tetap melihat ke arah lain. Dia memang tak ingin atau mungkin sedang malas menyapaku. Padahal beberapa bulan lalu kami berpapasan, kami saling menyapa seperti biasa.
Apakah dunia ini telah berubah? Apakah bertegur sapa adalah hal sulit untuk dilakukan sekarang ini? Mereka semua berubah! Atau mereka tak melihatku? Apa aku tak terlihat?
Aku memutuskan akan memastikannya dengan bercermin di kaca gerobak sate tetangga yang terletak beberapa langkah lagi di depan. Sayang sekali, ternyata gerobak satenya sudah tak berada disitu lagi. Sepertinya krisis ekonomi tak berpihak pada usahanya jualan sate. Kupikir lagi, bodoh sekali rasanya jika aku harus bercermin di kaca gerobak sate untuk melihat bayanganku ada atau tidak. Aku tersenyum malu dengan ide bodohku itu.
Rumahku sudah dekat, tinggal beberapa meter lagi. Perjalanan singkatku mengelilingi kampung cukup melelahkan. Lima belas menit hidupku, aku isi dengan kenangan-kenangan indah masa lalu yang tak bisa kubeli di toserba manapun. Agak berat kulangkahkan kaki ini menuju rumahku sendiri. Enggan pulang, inginnya aku terus berjalan di duniaku yang tak kenal duka, dunia masa kecilku. Namun tetap saja kuseret kaki ini menuju rumah. Kembali ke rumah atau tepatnya kembali ke kenyataan hidup, masalah di depan mata.
Siti dan yang lainnya (teman SMA) melihat ke arahku dengan pandangan aneh. Aku tak memperdulikannya dan juga tak menyapanya. Aku masih tersinggung karena tadi diabaikan saat berpapasan di depan rumah Pak Endi. Mereka bertiga sekarang kompak meninggalkanku begitu saja, pergi ke arah rumahku yang bagian depan. Lalu masuk ke dalam rumah. Mereka masuk ke dalam rumahku? Mau apa mereka?. Aku mengikuti mereka dengan tergesa. Aku lihat di ruang tamu banyak orang berkerumun. Banyak diantaranya yang mengenakan pakaian hitam. Entah kenapa perasaanku tak enak. Dan entah kenapa pikiranku hanya tertuju pada satu orang, yaitu bapakku.
Na’udzubillahimindaliq. Dalam hati aku berucap beribu kali. Bapak sudah renta, sudah sering sakit-sakitan. Ketakutanku selama ini adalah jika Allah memutuskan sudah saatnya bagi Bapak beristirahat dari segala lelah deritanya.
Aku takut, Aku tak berani masuk. Aku menunggu cukup lama di luar rumah, tak berani masuk. Orang-orang berbaju hitam makin banyak menghampiri rumahku. Air mataku meleleh. Kenapa harus sekarang ya Allah? Impianku untuk mengajak Bapak saat wisudaku tak bisakah Engkau kabulkan?
Astagfirullah. Aku beristigfar sebanyak aku bisa karena tak selayaknya aku meragukan kemampuan Dia Sang Maha Kuasa. Cukup! Aku membentak diriku sendiri. Aku akan masuk ke dalam rumah. Di depan pintu ruang tamu aku melihat sosok kaku, terbujur mati di depan mataku. Aku tak tahan lagi menahan tangis. Semua mata pelayat tertuju pada mayat bisu di tengah ruang tamu. Tak sedikit di antara mereka yang menunduk terisak.
Aku berjalan lemas mendekati jenazah bapakku. Semua orang tak ada yang menegur atau sekedar menepuk-nepuk pundakku sebagai tanda empati. Semua sibuk dengan kesedihan masing-masing. Aku teringat ibuku. Sekarang Bapak sudah kembali bertemu dengan kekasih sejatinya, pikirku. Aku duduk di sebelah jenazah Bapak. Tak sanggup aku menyibak kain penutup wajahnya. Seorang lagi pelayat datang histeris. Ternyata bibiku, adik dari Bapak. Dia menghampiri Bapak lalu duduk lama menunduk, mencoba menghentikan tangisnya. Dia tak melihatku atau entah bagaimana, tapi aku mulai merasa aneh dengan seluruh penghuni ruang tamu ini. Apa kalian tak memperdulikanku?!
Akhirnya dia gerakkan tangannya, menyibak penutup wajah yang enggan kubuka tadi perlahan. Aku menunduk tak mau melihat.
“Dea! Dea!” Bibiku meraung memanggil namaku. Aku mengangkat kepalaku ingin menjawab panggilan bibiku. Namun tak ada daya untuk mengucapkan sepatah kata, setelah kulihat wajah jenazah di hadapanku ini. Wajahku sendiri.
Apa ini? Apa maksud semua ini? Tuhan mempermainkanku? Aku harus segera bangun dari mimpi ini. Aku tak suka mimpi seperti ini.
Aku coba menarik diriku dari alam mimpi dengan memejamkan mata sekuat tenaga sambil memerintahkan otakku untuk membangunkan ragaku.
Bangun! Bangun! Bangun! Bangun! Kubuka mataku. Tak ada foto yang biasa kulihat di depanku, jika aku bangun tidur. Foto yang kupasang di dinding, tepat di hadapan ranjangku. Fotoku dan kedua orang tuaku. Alih-alih foto itu, wajah pucat pasi yang kulihat dihadapanku. Wajah jenazahku.
“Dea! Dea!” Bibiku meraung semakin keras. Seorang pelayat menenangkannya dan menyeretnya mundur dari jasadku.
“Dimana bang Rudi?” Sekarang Bibi menanyakan keberadaan bapakku.
“Di kamar. Dari tadi tak sadarkan diri. Bi Nana yang menjaga.” Pantas tak kulihat dimana Bapak. Orang yang kukira sudah tak ada sekarang tak jauh beda keadaannya denganku. Sedang tak sadarkan diri, bedanya aku tak akan pernah sadar kembali.
Aku melihat wajahku kembali. Entah mengapa aku merasa melihat wajah penuh kedamaian. Kedamaian yang kurasakan terakhir kali sebelum aku mati. Aku teringat jalan singkatku berkeliling kampung beberapa saat tadi. Andai saja gerobak sate itu ada. Setidaknya aku akan tahu lebih cepat. Lucu. Aku tersenyum menertawakan diriku sendiri.
Kini aku tahu. Tak ada yang berubah. Mereka tak berubah. Akulah yang berubah.

Selasa, 24 Mei 2011

analisis terhadap novel "Orang Miskin Dilarang sekolah" karya Wiwid Prasetyo

KAJIAN TEORI

A. TEMA DAN AMANAT
Gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu karya sastra disebut tema. Ada beberapa macam tema, yaitu:
a. Ada tema didaktis, yaitu tema pertentangan antara kebaikan dan kejahatan
b. Ada tema yang dinyatakan secara eksplisit
c. Ada tema yang dinyatakan secara simbolik
d. Ada tema yang dinyatakan dalam dialog tokoh utamanya
Dalam menentukan tema cerita, pengarang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Minat pribadi
b. Selera pembaca
c. Keinginan penerbit atau penguasaan
Kadang-kadang terjadi perbedaan antara gagasan yang dipikirkan oleh pengarang dengan gagasan yang dipahami oleh pembaca melalui karya sastra. Gagasan sentral yang terdapat atau ditemukan dalam karya sastra disebut makna muatan, sedangkan makna atau gagasan yang dimaksud oleh pengarang (pada waktu menyusun cerita tersebut) disebut makna niatan.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan makna aniatan kadang-kadang tidak sama dengan makna muatan yaitu:
a. Pengarang kurang pandai menjabarkan tema yang dikehendakinya di dalam karyanya.
b. Beberapa pembaca berbeda pendapat tentang gagasan dasar suatu karta.
Yang diutamakan adalah bahwa penafsiran itu dapat dipertanggungjawabkan dengan adanya unsur-unsur di dalam karya sastra yang menunjang tafsiran tersebut.
Dalam suatu karya sastra ada tema sentral dan ada pula tema samapingan. Yang dimaksud tema sentral adalah tema yang menjadi pusat seluruh rangkaian peristiwa dalam cerita. Yang dimaksud tema sampingan adalah tema-tema lain yang mengiringi tema sentral.
Ada tema yang terus berulang dan dikaitkan dengan tokoh, latar, serta unsur-unsur lain dalam cerita. Tema semacam itu disebut leitmotif. Leitmotif ini mengantar pembaca pada suatu amanat. Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir, dapat pula secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita.

B. TOKOH DAN PENOKOHAN
Yang dimaksud dengan tokoh adalah individu ciptaan/rekaan pengarang yang mengalami peristiwa-peristiwa atau lakukan dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan. Berdasarkan fungsi tokoh dalam cerita, tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu tokoh sentral dan tokoh bawahan. Tokoh sentral adalah tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita.
Tokoh sentral dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Tokoh sentral protagonis. Tokoh sentral protagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai pisitif.
b. Tokoh sentral antagonis. Tokoh sentral antagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif.
Tokoh bawahan adalah tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral. Tokoh bawahan dibedakan menjadi tiga, yaitu
a. Tokoh andalan. Tokoh andalan adalah tokoh bawahan yang menjadi kepercataan tokoh sentral (protagonis atau antagonis).
b. Tokoh tambahan. Tokoh tambahan adalah tokoh yang sedikit sekali memegang peran dalam peristiwa cerita.
c. Tokoh lataran. Tokoh lataran adalah tokoh yang menjadi bagian atau berfungsi sebagai latar cerita saja.

Berdasarkan cara menampikan perwatakannya, tokoh dalam cerita dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Tokoh datar/sederhana/pipih. Yaitu tokoh yang diungkapkan atau disoroti dari satu segi watak saja. Tokoh ini bersifat statis, wataknya sedikit sekali berubah, atau bahkan tidak berubah sama sekali (misalnya tokoh kartun, kancil, film animasi).
b. Tokoh bulat/komplek/bundar. Yaitu tokoh yang seluruh segi wataknya diungkapkan. Tokoh ini sangat dinamis, banyak mengalami perubahan watak.
Yang dimaksud penokohan adalah penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh. Ada beberapa metode penyajian watak tokoh, yaitu:
a. Metode analitis/langsung/diskursif. Yaitu penyajian watak tokoh dengan cara memaparkan watak tokoh secara langsung.
b. Metode dramatik/taklangsung/ragaan. Yaitu penyajian watak tokoh melalui pemikiran, percakapan, dan laku tokoh yang disajikan pengarang. Bahkan dapat pula dari penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh.
c. Metode kontekstual. Yaitu penyajian watak tokoh melalui gaya bahasa yang dipakai pengarang.
Menurut Jakob Sumardjo dan Saini KM., ada lima cara menyajikan watak tokoh, yaitu:
a. Melalui apa yang dibuatnya, tindakan-tindakannya, terutama abagaimana ia bersikap dalam situasi kritis.
b. Melalui ucapana-ucapannya. Dari ucapan kita dapat mengetahui apakah tokoh tersebut orang tua, orang berpendidikan, wanita atau pria, kasar atau halus.
c. Melalui penggambaran fisik tokoh.
d. Melalui pikiran-pikirannya
e. Melalui penerangan langsung.
Tokoh dan latar memang merupakan dua unsur cerita rekaan yang erat berhubungan dan saling mendukung.

C. ALUR/PLOT
Alur adalah urutaan atau rangkaian peristiwa dalam cerita rekaan. Urutan peristiwa dapat tersusun berdasarkan tiga hal, yaitu:
a. Berdasarkan urutan waktu terjadinya. Alur dengan susunan peristiwa berdasarkan kronologis kejadian disebut alur linear
b. Berdasarkan hubungan kausalnya/sebab akibat. Alur berdasarkan hubungan sebab-akibat disebut alur kausal.
c. Berdasarkan tema cerita. Alur berdasarkan tema cerita disebut alur tematik.
 Struktur Alur
Setiap karya sastra tentu saja mempunyai kekhususan rangkaian ceritanya. Namun demikian, ada beberapa unsur yang ditemukan pada hampir semua cerita. Unsur-unsur tersebut merupakan pola umum alur cerita. Pola umum alur cerita adalah:
a. Bagian awal
1. paparan (exposition)
2. rangkasangan (inciting moment)
3. gawatan (rising action)
b. Bagian tengah
4. tikaian (conflict)
5. rumitan (complication)
6. klimaks
c. Bagian akhir
7. leraian (falling action)
8. selesaian (denouement)

Bagian Awal Alur
Jika cerita diawali dengan peristiwa pertama dalam urutan waktu terjadinya, dikatakan bahwa cerita itu disusun abovo. Sedangkan jika yang mengawali cerita bukan peristiwa pertama dalam urutan waktu kejadian dikatakan bahwa cerita itu dudun in medias res.
Penyampaian informasi pada pembaca disebut paparan atau eksposisi. Jika urutan konologis kejadian yang disajikan dalam karya sastra disela dengan peristiwa yang terjadi sebelumnya, maka dalam cerita tersebut terdapat alih balik/sorot balik/flash back.
Sorot balik biasanya digunakan untuk menambah tegangan/gawatan, yaitu ketidakpastian yang berkepanjangan dan menjadi-jadi. Dalam membuat tegangan, penulis sering menciptakan regangan, yaitu proses menambah ketegangan emosional, sering pula menciptakan susutan, yaitu proses pengurangan ketegangan. Sarana lain yang dapat digunakan untuk menciptakan tegangan adalah padahan (foreshadowing), yaitu penggambaran peristiwa yang akan terjadi.

Bagian Tengah Alur
Tikaian adalah perselisihan yang timbul sebagai akibat adanya dua kekuatan yang bertentangan. Perkembangan dari gejala mula tikaian menuju ke klimaks cerita disebut rumitan. Rumitan mempersiapkan pembaca untuk menerima seluruh dampak dari klimaks. Klimaks adalah puncak konflik antartokoh cerita.

Bagian Akhir Alur
Bagian sesudah klimaks adalah leraian, yaitu peristiwa yang menunjukkan perkembangan peristiwa ke arah selesaian. Selesaian adalah bagian akhir atau penutup cerita.

Dalam membangun peristiwa-peristiwa cerita, ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan agar alur menjadi dinamis. Faktor-faktor penting tersebut adalah
a. faktor kebolehjadian (pausibility). Yaitu peristiwa-peristiwa cerita sebaiknya meyakinkan, tidak selalu realistik tetapi masuk akal. Penyelesaian masalah pada akhir cerita sesungguhnya sudah terkandung atau terbayang di dalam awal cerita dan terbayang pada saat titik klimaks.
b. Faktor kejutan. Yaitu peristiwa-peristiwa sebaiknya tidak dapat secara langsung ditebak/dikenali oleh pembaca.
c. Faktor kebetulan. Yaitu peristiwa-peristiwa tidak diduga terjadi, secara kebetulan terjadi.
Kombinasi atau variasi ketiga faktor tersebutlah yang menyebabkan peristiwa-peristiwa cerita menjadi dinamis.
Selain itu ada hal yang harus dihindari dalam alur, yaitu lanturan atau digresi. Lanturan atau digresi adalah peristiwa atau episode yang tidak berhubungan dengan inti cerita atau menyimpang dari pokok persoalan yang sedang dihadapi dalam cerita.

 Macam Alur
Pada umumnya orang membedakan alur menjadi dua, yaitu alur maju dan alur mundur. Yang dimaksud alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian. Sedangkan yang dimaksud alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian.
Pembagian seperti itu sebenarnya hanyalah salah satu pembagian jenis alur yaitu pembagian alur berdasarkan urutan waktu. Secara lebih lengkap dapat dikatakan bahwa ada tiga macam alur, yaitu:
a. alur berdasarkan urutan waktu
b. alur berdasarkan urutan sebab-akibat
c. alur berdasarkan tema. Dalam cerita yang beralur tema setiap peristiwa seolah-olah berdiri sendiri. Kalau salah satu episode dihilangkan cerita tersebut masih dapat dipahami.
Dalam hubungannya dengan alur, ada beberapa istilah lain yang perlu dipahami. Pertama, alur bawahan. Alur bawahan adalah alur cerita yang ada di samping alur cerita utama. Kedua, alur linear. Alur linear adalah rangkaian peristiwa dalam cerita yang susul-menyusul secara temporal. Ketiga, alur balik. Alur balik sama dengan sorot balik atau flash back. Keempat, alur datar. Alur datar adalah alur yang tidak dapat dirasakan adanya perkembangan cerita dari gawatan, klimaks sampai selesaian. Kelima, alur menanjak. Alur menanjak adalah alur yang jalinan peristiwanya semakin lama semakin menanjak atau rumit.
D. LATAR
Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar meliputi penggambaran letak geografis (termasuk topografi, pemandangan, perlengkapan, ruang), pekerjaan atau kesibukan tokoh, waktu berlakunya kejadian, musim, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional tokoh.
 Macam Latar
Latar dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Latar fisik/material. Latar fisik adalah tempat dalam ujud fisiknya (dapat dipahami melalui panca indra).
Latar fisik dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Latar netral, yaitu latar fisik yang tidak mementingkan kekhususan waktu dan tempat.
b. Latar spiritual, yaitu latar fisik yang menimbulkan dugaan atau asosiasi pemikiran tertentu.
2. Latar sosial. Latar sosial mencakup penggambaran keadaan masyarakat, kelompok sosial dan sikap, adat kebiasaan, cara hidup, bahasa, dan lain-lain.
 Fungsi Latar
Ada beberapa fungsi latar, antara lain:
1. memberikan informasi situasi sebagaimana adanya
2. memproyeksikan keadaan batin tokoh
3. menciptakan suasana tertentu menciptakan kontras

E. SUDUT PANDANG DAN GAYA BAHASA
Bennison Gray membedakan pencerita menjadi pencerita orang pertama dan pencerita orang ketiga.
1. Pencerita orang pertama (aku).
Yang dimaksud sudut pandang orang pertama adalah cara bercerita di mana tokoh pencerita terlibat langsung mengalami peristiwa-peristiwa cerita. Ini disebut juga gaya penceritaan aku.Gaya penceritaan aku dibedakan menjadi dua, yaitu
a. Pencerita aku sertaan, yaitu pencerita aku di mana pencnerita menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.
b. Pencerita aku taksertaan, yaitu pencerita aku di mana pencerita tidak terlibat menjadi tokoh sentral dalam cerita tersebut.
2. Pencerita orang ketiga (dia).
Yang dimaksud sudut pandang orang ketiga adalah sudut pandang bercerita di mana tokoh pencnerita tidak terlibat dalam peristiwa-peristiwa cerita. Sudut pandang orang ketiga ini disebut juga gaya penceritaan dia. Gaya pencerita dia dibedakan menjadi dua, yaitu
a. Pencerita dia serba tahu, yaitu pencerita dia yang tahu segala sesuatu tentang semua tokoh dan peristiwa dalam cerita. Tokoh ini bebas bercerita dan bahkan memberi komentar dan penilaian terhadap tokoh cerita.
b. Pencerita dia terbatas, yaitu pencerita dia yang membatasi diri dengan memaparkan atau melukiskan laku dramatik yang diamatinya. Jadi seolah-olah dia hanya melaporkan apa yang dilihatnya saja.
Kadang-kadang orang sulit membedakan antara pengarang dengan tokoh pencerita. Pada prinsipnya pengarang berbeda dengan tokoh pencerita. Tokoh pencerita merupakan individu ciptaan pengarang yang mengemban misi membawakan cerita. Ia bukanlah pengarang itu sendiri. Jakob Sumardjo membagi point of view menjadi empat macam, yaitu
a. Sudut penglihatan yang berkuasa (omniscient point of view). Pengarang bertindak sebagai pencipta segalanya. Ia tahu segalanya.
b. Sudut penglihatan obyektif (objective point of view). Pengarang serba tahu tetapi tidak memberi komentar apapun. Pembaca hanya disuguhi pandangan mata, apa yang seolah dilihat oleh pengarang.
c. Point of view orang pertama. Pengarang sebagai pelaku cerita.
d. Point of view peninjau. Pengarang memilih salah satu tokohnya untuk bercerita. Seluruh kejadian kita ikuti bersama tokoh ini.
Menurut Harry Shaw, sudut pandang dalam kesusastraan mencakup
a. Sudut pandang fisik. Yaitu sudut pandang yang berhubungan dengan waktu dan ruang yang digunakan pengarang dalam mendekati materi cerita.
b. Sudut pandang mental. Yaitu sudut pandang yang berhubungan dengan perasaan dan sikap pengarang terhadap masalah atau peristiwa yang diceritakannya.
c. Sudut pandang pribadi. Adalah sudut pandang yang menyangkut hubungan atau keterlibatan pribadi pengarang dalam pokok masalah yang diceritakan. Sudut pandang pribadi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu pengarang menggunakan sudut pandang tokoh sentral, pengarang menggunakan sudut pandang tokoh bawahan, dan pengarang menggunakan sudut pandang impersonal (di luar cerita).
Menurut Cleanth Brooks, fokus pengisahan berbeda dengan sudut pandang. Fokus pengisahan merupakan istilah untuk pencerita, sedangkan sudut pandang merupakan istilah untuk pengarang. Tokoh yang menjadi fokus pengisahan merupakan tokoh utama cerita tersebut. Fokus pengisahan ada empat, yaitu
A. Tokoh utama menyampaikan kisah dirinya.
B. Tokoh bawahan menyampaikan kisah tokoh utama.
C. Pengarang pengamat menyampaikan kisah dengan sorotan terutama kepada tokoh utama.
D. Pengarang serba tahu.
Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat, pemilihan diksi, penggunaan majas, dan penghematan kata. Jadi, gaya merupakan seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya. Bahasa dalam cerita memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa dalam cerita ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya. Itulah sebabnya, terkadang dalam karya sastra sering dijumpai kalimat-kalimat khas.

ANALISIS UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK DALAM NOVEL ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH

A. UNSUR INTRINSIK

1. Tema
• Tema pada bab pertama ini adalah Segala sesuatu dimulai dari mimpi.
• Tema pada bab dua ini adalah Kesenjangan sosial yang menyedihkan.
• Tema pada bab tiga ini adalah Perjalanan jauh untuk mencapai kesempurnaan.
• Tema pada bab empat ini adalah kesendirian Mat Karmin.
• Tema dari bab lima, enam dan tujuh adalah pentingnya memperoleh pendidikan. Setiap orang punya kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.
• Tema pada bab delapan ini adalah Kenangan indah bersama kiai tukang becak.
• Tema pada bab sembilan ini adalah Perjuangan mendapatkan cinta Kania.
• Tema pada bab sepuluh ini adalah Gedong sapi sepanjang jalan kenangan.
• Tema pada bab sebelas ini adalah Calon ilmuwan dan gejala sakit jiwa.
• Tema pada bab dua belas dan tiga belas ini adalah Persahabatan dan perjuangan dalam hidup.
• Tema pada bab empat belas adalah Kejamnya kehidupan seseorang.
• Tema pada bab lima belas adalah Bangkitlah dari kegagalan.
• Tema pada bab enam belas adalah Sempitnya dalam bergaul.
Adapun tema umum dalam novel Orang Miskin Dilarang Sekolah adalah Perjuangan untuk mengecap bangku sekolah.
2. Amanat
• Amanat pada bab 1 adalah Janganlah serakah dan tidak mau mengalah terutama pada anak kecil, itu adalah perbuatan yang memalukan.
• Amanat pada bab 2 adalah Jangan pernah memperlakukan orang miskin seenaknya, sebab semua sama di mata Tuhan.
• Amanat pada bab 3 dan bab 4 adalah Dengan membaca kita akan mengetahui informasi dan tidak gampang ditipu.
• Amanat bab 5, bab 6 dan bab 7 adalah Jangan mudah menyerah untuk suatu tekad yang mulia. Semangat yang tinggi akan mengalahkan rintangan apapun.
• Amanat bab 8 adalah Kita tidak bisa menilai baik atau tidaknya kepribadian seseorang itu dari tampilan luarnya saja.
• Amanat bab 9 adalalah Pengorbanan harus dibarengi dengan kesabaran dan tetap optimis.
• Amanat bab 10 adalah Janganlah kita mempunyai sifat yang licik, karena sifat licik akan menyusahkan diri sendiri.
• Amanat bab 11 dan bab12 adalah Jangan mudah dihasut orang. Saling membantu, menghargai kepada sesama.
• Amanat bab 13 adalah Jika kita menginginkan sesuatu maka bersungguh-sungguhlah.
• Amanat bab 14 adalah Sebelum memvonis seseorang seharusnya dilihat dulu penyebabnya.
• Amanat bab 15 dan bab 16 adalah Harus semangat menggapai cita-cita walau banyak halangan dan cobaan yang di hadapi..
Amanat secara dalam novel Orang Miskin Dilarang Sekolah yaitu:
 Jangan pernah takut untuk bermimpi besar, sebab orang yang tak punya mimpi berarti tak punya cita-cita.
 Jangan pernah takut untuk mencoba sesuatu yang baru selama itu bersifat positif.
 Jika kita menginginkan sesuatu maka bersungguh-sungguhlah untuk meraihnya dan hargailah usaha orang untuk berjuang mendapatkan keinginannya. Perasaan cinta seharusnya dibuat sebagai motivasi agar hidup lebih baik bukan menjerumuskan seseorang kejalan yang salah.
 Kita tidak bisa menilai baik atau tidaknya kepribadian seseorang itu dari tampilan luarnya saja.

3. Tokoh
1) Faisal : Seorang anak berbadan kecil yang berkemauan keras, pantang menyerah dan selalu memberi motivasi.
2) Pambudi : Anak yang bergigi kelinci, tidak suka membebani orang lain, bijaksana dan rela berkorban.
3) Pepeng : Anak yang bertubuh kecil dan tidak menghargai usaha orang lain serta suka berpikir untuk menghalalkan segala cara.
4) Yudi : Anak yang bisa bersyukur, dan bijaksana.
5) Koh A Kiong : Seorang yang setengah tua, bermata sipit, berkumis tipis, yang suka marah-marah
6) Ibu : Seorang yang memakai daster hijau yang bersimbah peluh karena baru selesai mencuci.
7) Pak Zainal : baik, berwibawa, bijaksana.
8) Bu Mutia : baik, pintar, ramah
9) Murid-murid I-2
Rena, Guruh dan Catur: anak-anak orang kaya yang angkuh, sombong.
10) Kania : gadis yang cantik, cerdas dan berhati emas.
11) Kanir : cantik, penyendiri, pintar dan suka membaca.
12) Baron : periang dan konyol.
13) Bu Darsih : bijaksana, guru yang baik dan sabar.
14) Pak Sukri : bertanggung jawab.
15) Sahrul : sombong dan suka menghina kawan-kawannya.
16) Ustad Muhsin : Soleh, ramah, pintar.
17) Kiai Khadis : bijaksana, berwibawa.
18) Pak Cokro : pintar dan semangat belajar, dukun kampung.
19) Mat Karmin : suka membuat layang-layang, kreatif, kelainan seks.
20) Ketiga ayah anak-anak alam: patuh pada atasan, pekerja keras, bijaksana dan penyayang.

4. ALUR/PLOT
Alur yang digunakan daam novel ini adalah alur campuran. Ini terlihat pada kutipan berikut:
Alur maju “”Maka, sepulang orang tua mereka dari rumah angkuh Yok Bek menuju gubuk reot yang memprihatinkan ini, tanpa sepengetahuan orangtua, mereka mengikuti dari belakang, masing-masing............”. (hal. 75)
Alur mundur “Aku waktu itu benar-benar bangga mempunyai kiai seorang tukang becak, tukang becak tidak identik dengan kebodohan, justru.........”. (hal. 103)

5. LATAR/SETTING
a. Latar tempat : Di sebuah kampung, dan di sebuah reruntuhan gedung yang tak terpakai. Dapat dilihat dari kutipan berikut:
“Di kampung kami, jika musim layang-layang tiba, langit tiba-tiba penuh dengan hiasan warna-warni.” Dan pada kutipan berikut :
“Aku berada di belakang bisa menyusul di antara mereka, terengah-engah, dan saling melepaskan lelah di sebuah reruntuhan gedung yang tak terpakai.”
• Area Gedong Sapi
• Rumah mewah Yok Bek
• Rumah Pambudi, Yudi dan Pepeng.

b. Latar waktu : Saat musim layang-layang, siang hari. Terlihat dari cuplikan berikut:
“Musim layang-layang telah tiba.” Dan pada kutipan berikut :
“Kami berlari ketakutan, merobek jalanan yang pengap, menembus matahari siang yang membakar peluh-peluh kami menguapmenjadi aroma tak sedap karena keringat di antara gang-gang sempit.”

c. Latar Sosial : Setiap musim layang-layang di kampung tersebut langit penuh dengan layang-layang yang indah, jika layang-layang tersangkut di kabel listrik maka orang-orang dewasa akan marah karena itu akan membuat aliran listrik terputus. Kemudian warga-warga yang berada di kampung tersebut sering secara diam-diam mencuri badan jalan untuk dijadikan halaman karena tanah dihabiskan untuk bangunan.

6. SUDUT PANDANG
Novel ini menggunakan sudut pandang oran pertama. Karena tokoh aku bertindak sebagai tokoh yang maha tahu.
7. GAYA BAHASA
Novel ini menggunakan gaya bahasa Indonesia, dan menampilkan beberapa peribahasa dalam ceritanya.


B. UNSUR EKSTRINSIK
1. Latar Belakang Pengarang
Wiwid Prasetyo atau sering juga menulis dengan nama Prasmoedya Tohari, lahir pada 9 November 1981 di Semarang. Alumnus Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, Semarang, tahun 2005 ini sehari-harinya aktif di Majalah FURQON, PESANTrend, Si Dul (majalah anak-anak), serta tabloid Info Plus Semarang, baik selaku redaktur maupun reporter. Selain itu, ia juga peduli terhadap dunia pendidikan, terbukti masih menjadi pengajar di Bimbingan Belajar Smart Kids Semarang.
Di sela-sela kesibukannya, ia masih menyempatkan diri untuk menulis beberapa karya dalam bentuk buku. Beberapa karyanya yang sudah terbit adalah Orang Miskin Dilarang Sekolah (DIVA Press, 200), Sup Tujuh Samudra (Bersama Badiatul Rozikin, DIVA Press, 2009), Chicken Soup Asma’ul Husna (Garailmu, 2009), dan Miskin Kok Mau Sekolah…?! (DIVA Press, 2009), Idolaku Ya Rasulullah Saw…! (DIVA Press, 2009), Demi Cintaku pada-Mu (DIVA Press, 2009), Aha, Aku Berhasil Kalahkan Harry Potter (DIVA Press, 2010), The Chronicle of Kartini (DIVA Press, 2010), dan Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu (DIVA Press, 2010).

2. Psikologi Pengarang dan Psikologi Pembaca
Pengarang menganggap dunia pendidikan dan dunia kepenulisan adalah dua dunia yang saling melengkapi. Ia punya mimpi seandainya seorang pendidik memiliki keahlian menulis maka generasi muda kita tidk akan terseret dalam jurang degradasi moral yang amat dalam. Sehingga Ia berusaha untuk menyatukan kedua dunia tersebut.
Novel ini ditujukan kepada semua kalangan agar kita lebih peka terhadap nasib orang miskin, terutama dalam hal memperoleh pendidikan.
“Novel ini menggetarkan hati gugatan atas sistematisasi kemiskinan di negeri ini, dari sudut pandang sang bocah yang tak pernah mengerti mengapa ia tidak boleh sekolah”. Taufiqurrahman al-Azizy.

3. Keadaan lingkungan
”Orang miskin dilarang sekolah,” bunyi pernyataan ini mewakili secara sungguh-sungguh kenyataan pendidikan kita. Pendidikan kita masih diragukan kemampuannya untuk membuat orang pintar dan dengan demikian mampu melepaskan belenggu masyarakat dari kemiskinan. Di sisi lain, kaum miskin memang menjadi kaum ”terlarang” untuk memasuki kawasan pendidikan tinggi.
Siapa tak heran, sudah jelas disaksikan bagaimana angka kemiskinan dan rendahnya pendapatan yang diderita oleh sebagian besar masyarakat, nyatanya itu tak membuat pemerintah bergeming untuk menaikkan harga segala biaya masuk dan biaya perlengkapan pendidikan.
Lalu pendidikan itu akan diperuntukkan siapa? Apakah hanya kelas atas saja —yang jumlahnya sangat kecil, dan kelas bawah tetap dengan ketertindasannya? Tampak terang, kebijakan-kebijakan pendidikan yang direkayasa oleh pemodal dan penguasa ini menjadi cermin betapa buruknya negara ini mengelola pendidikan, betapa tidak warasnya para penguasa ini memperlakukan masyarakat miskin.
Pertama, soal keterbatasan anggaran pendidikan yang disediakan negara kepada masyarakat. Kedua, soal deetatisme yang digembar-gemborkan sebagai jalan menuju otonomi kampus sepenuhnya. Ketiga, soal kapitalisme global yang semakin lama semakin pasti mensyaratkan privatisasi berbagai lembaga milik negara untuk dipersaingkan di tengah pasar bebas.

4. Pandangan Hidup Suatu Negara
Penjelasan gamblang untuk alasan pertama adalah ketidakmampuan negara untuk memberikan subsidi sebesar-besarnya bagi masyarakat untuk menikmati dan mengenyam pendidikan. Dengan kata lain, ini merupakan kegagalan fungsi negara untuk memberikan pendidikan semurah-murahnya kepada masyarakat.
Atas alasan krisis ekonomi berkepanjangan dengan berbagai aspeknya, negara berpikir tidak lagi perlu memberikan subsidi pendidikan, terutama untuk pendidikan tinggi. Krisis ini diperparah dengan tidak kunjung membaiknya perekonomian Indonesia di tengah-tengah negara-negara lain yang sudah bangkit. Karena itu, seakan-akan absah jika negara menghendaki pemotongan anggaran pendidikan bagi masyarakat.
Ibarat sudah jatuh, masyarakat miskin yang memiliki kemampuan akademik di atas rata-rata, akhirnya tertimpa tangga pula. Orientasi mereka sudah digeser untuk sekedar mencari uang dan uang, kualifikasi akademis sudah dipinggirkan jauh-jauh.

5. Akar Budaya
Pemerintah telah melakukan terobosan dalam dunia pendidikan dengan mencanangkan adanya Bantuan Operasional Sekolah (BOS), namun kebijakan ini disalahgunakan karena masih adanya budaya korupsi di negara ini. Sehingga anggaran yang ditujukan untuk pendidikan pun tidak tersalurkan sesuai dengan perencanaan. Oleh karena itu nasib orang miskin akan terus terabaikan terutama dalam dunia pendidikan. Dan orang miskin memang benar-benar terlarang bersekolah.
Intinya masyarakat Indonesia belum membudayakan sifat jujur dalam diri masing-masing. Masih mementingkan kepentingan diri sendiri dan acuh pada kepentingan atau kebutuhan orang lain.

Ringkasan Psikolingusitik: Pengantar Pemahaman

BAB I
PENDAHULUAN

Judul Buku : Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman
Pengarang : Soenjono Dardjowidjojo
Penerbit :Yayasan Obor Indonesia Anggota IKAPI DKI Jakarta
ISBN : 979-461-9
Edisi Pertama : April 2003
Jumlah Halaman : 340 Halaman
Jumlah Bab : 12 Bab

• Bab 1: Pengantar Dasar
• Bab 2: Bagaimana Manusia Mempersepsi Ujaran
• Bab 3: Bagaimana Manusia Memahami Ujaran
• Bab 4: Pelaksanaan Tindak Ujar
• Bab 5: Produksi Ujaran
• Bab 6: Produksi Kalimat
• Bab 7: Penyimpanan dan Retrival Kata
• Bab 8: Landasan Biologis Pada Bahasa
• Bab 9: Landasan Neurologis Pada Bahasa
• Bab 10: Pemerolehan Bahasa
• Bab 11: Memori, Pikiran, dan Bahasa
• Bab 12: Membaca dan Psikolinguistik

Pada buku Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa karya Soenjono Dardwowidjojo ini terdiri dari 12 bab, dari ke dua-belas bab ini yang akan saya analisis ialah bab I sampai dengan Bab IV.

BAB II
PEMBAHASAN

BAB I: BAGIAN DASAR
1.1 Sejarah Lahirnya Psikolinguistik
Psikolinguistik adalah ilmu hidriba, yakni ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu psikologi dan linguistik. Benih ilmu ini sudah tampak pada abad ke 20 tatkala psikolog Jerman Wilhelm Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar prinsip-prinsip psikologis (Kess, 1992).
Sementara itu di benua Amerika kaitan antara bahasa dan ilmu jiwa juga mulai tumbuh. Perkembangan ini dapat dibagi menjadi empat tahap (Kess, 1992): a) tahap formatif, b) tahap linguistik, c) tahap kognitif, dan d) tahap psokolinguistik, realita psikolinguistik, dan ilmu kognitif.
a) Tahap Formatif
Pada pertengahan abad ke dua-puluh Jonh W. Gardner, seorang psikolog dari Corporation, Amerika mulai menggagas hidridisasi (penggabungan) kedua ilmu ini. Hasil pertemuan ini membuat gema yang begitu kuat di antara para ahli jiwa maupun ahli bahasa sehingga banyak penelitiaan yang kemudian dilakukan terarah pada kaitan antara istilah Psycholinguistics pertama kali dipakai.
b) Tahap Linguistik
Perkembangan ilmu linguistik, yang semula berorientasi pada aliran behaviorisme dan kemudian beralih ke mentalisme (yang sering juga disebut sebagai nativisme) pada tahun 1957 dengan diterbitkannya buku Chomsky, syntatic Structures, dan kritik tajam dari Chomsky terhadap teori behavioristik B.F. Skinner (Chomsky 1959) telah membuat psikolinguistik sebagai ilmu yang banyak diminati oarang.
c) Tahap Kognitif
Pada tahap ini psikolinguisti mulai mengarah pada peran kognisi dan landasan biologis manusia dalam pomerolahan bahasa. Pelopor seperti Chomsky mengatakan bahwa linguis itu sebenarnya adalah psikolog kognitif. Pemerolehan bahasa pada manusia bukanlah penguasaan komponen bahasa tanpa berlandaskan pada prinsip-prinsip kognitif.
d) Tahap Teori Psikolinguistik
Pada tahap akhir ini, psikolinguistik tidak lagi berdiri sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu lain karena pemerolehan dan penggunaan bahasa manusia menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan yang lain. Psikolinguistik tidak lagi terdiri dari psiko dan linguistik saja tetapi juga menyangkut ilmu-ilmu lain seperti neurologi, filsafat, primatologi, dan genetika.

1.2 Defenisi Psikolinguistik
Secara rinci psikolinguistik mempelajari empat topik utama: (a) komprehensi, yakni proses-proses mental yang dilalui oleh manusia sehinggga mereka dapat menangkap apa yang dikatakan orang dan memahami apa yang dimaksud, (b) produksi, yakni proses-proses mental pada diri kita yang membuat kita dapat belajar seperti yang kita ujarkan, (c) landasan biologis serta neurologis yang membuat manusia bisa berbahasa, dan (d) pemerolehan bahasa yakni bagaimana anak memperoleh bahasa mereka.

1.3 Kodrat Bahasa
Ciri-ciri khusus yang membedakan bahasa menusia dengan bahasa binatang ialah: pertama, bahasa manusia memiliki ketergantungan struktur (structure dependence). Ciri kedua adalah bahwa bahasa dan pemakai bahasa itu kreatif. Ciri ketiga adalah bahwa bahasa dapat dipakai untuk mengungkapkan situasi atau peristiwa yang sudah lampau atau yang belum tejadi dan bahkan untuk sesuatu yang dibayangkan. Ciri keempat adalah bahwa bahasa memiliki struktur ganda yang dinamakan struktur yang batin (deep structure) dan struktur lain (surface structure). Ciri kelima adalah bahwa bahasa itu diperoleh secara turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Ciri keenam adalah bahwa hubungan antara kata dengan benda, Perbuatan, atau keadaan yang durujuknya itu arbitrer (arbitrary). Ciri yang ketuju adalah bahwa bahasa memiliki pola dualitas. Dan ciri yang terakhir adalah bahwa bahasa itu memiliki semantitas.



1.4 Defenisi Bahasa
Dari gambaran ciri-ciri di atas, bahasa bisa didefinisikan dari berbagai sudut pandang. Namun definisi yang banyak dipakai orang adalah: bahasa adalah suatu simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama.

1.5 Komponen Bahasa
Pada aliran linguistik manapun bahasa selalu dikatakan memiliki tiga komponen yaitu: sintaksis, fonologi, dan semantik. Komponen sintaksi mengenai ihwal yang berkaitan dengan kata, frasa, dan kalimat. Studi tentang kata, seperti telaah tentang bagaimana kata dibentuk dan diturunkan, umumnya ditangani dalam suatu tataran yang dinamakan morfologi. Komponen fonologi bersifat interpretif.
Dalam komponen fonologi tidak hanya diinventarisasi jumlah dan macam bunyi yang ada pada suatu bahsa tetapi juga bagaimana bunyi-bunyi tadi membentuk suatu sistem dalam bahasa tersebut. Komponen semantik membahas tentang ihwal makna dan juga bersifat interpretif. Dalam komponen ini ada seperangkat aturan semantik yang dipakai untuk menentukan apakah masukan dari komponen sintaktik itu memenuhi kaidah semantik yang ada pada bahasa tersebut.

1.6 Pragmatik
Prakmatik bukanlah salah satu dari komponen bahasa, ia hanyalah memberikan prespektif kepada bahasa. Karena pragmatik menyangkut makna maka seringkali ilmu ini dikacaukan dengan ilmu makna, semantik. Sementara itu, pragmatik merujuk kekajian makna dalam interaksi antara seorang penutur dengan penutu yanng lain (Jucker, 1998). Karena pragmatik mencakup penggunaan bahasa dalam interaksi maka pragmatik memperhatikan pula aspek-aspek lain dalam komunikasi seperti pengetahuan dunia (world knowladge), hubungan antara pembaca dengan pendengar atau orang ketiga dan macam-macam tindak ujar (speech acts) dalam kalimat.
BAB II: BAGAIMANA MANUSIA MEMPERSEPSI UJARAN
1. Penelitian Mengenai Persepsi ujaran
Dari segi ilmu pengetahuan, kajian dari penelitian mengenai bagaimana manusia mempersepsi ujaran dapat dikatakan masih sangat baru. Meskipun Willis tahun 1829 dan Helmholtz tahun 1859 telah mempelajari ciri fisik dari bunyi, penelitian bagaimana kita mempersepsi ujaran baru mulai perang dunia II (Gleason dan ratner 1988:109).

2. Masalah Dalam Mempersepsi Ujaran
Masalah yang dihadapi dalam mempersepsi ujaran ini adalah bagaimana kita dapat menangkap dan kemudian mencerna bunyi-bunyi yang diujarkan dengan sengat cepat. Di samping kecepatan, bunyi dalam satu ujaran juga tidak diucapkan secara utuh tetapi sepertinya lebur dengan bunyi yang lain. Suara seorang wanita, seorang pria, dan seorang anak juga berbeda-beda. Getar pita suara untuk wanita berkisar antara 200-300 per detik, sedangkan untuk pria suara untuk pria hanya sekitar 100. Karena itu, suara seorang pria kedengaran lebih “berat”. Sedangkan suara anak lebih tinggi dari pada suara wanita karena getaran pita suaranya bisa mencapai 400 per detik. Perbedaan-perbedaan ini memunculkan bunyi yang berbeda-beda, meskipun kata yang diucapkan itu sama.

3. Mekanisme Ujaran
Sumber dari bunyi adalah paru-paru. Paru-paru kita berkembang dan berkempis untuk menyedot dan mengeluarkan udara. Udara ini kemudian lewat lorong yang dinamakan faring (pharynx). Dari faring itu ada dua jalan yang pertama melalui hidung dan yang kedua melalui rongga mulut. Semua yang dibuat dengan udara melalui hidung disebut bunyi nasal. Sementara itu bunyi yang udaranya keluar melalui mulut dinamakan bunyi oral. Pada mulut terdapat dua bagian-bagian atas dan bagian bawah mulut. Bagian-bagian ini adalah :
1. Bibir : bibir atas dan bibir bawah. Kedua bibir ini dapat dirapatkan untuk membentuk bunyi yang dinamakan bilabial yang artinya dua bibir bertemu. Bunyi seperti [p], [b], dan [m] adalah bunyi babalial.
2. Gigi : untuk ujaran hanya gigi ataslah yang mempunyai peran. Gigi ini dapat berlekatan dengan bibir bawah untuk membentuk bunyi yang dinamakan labiodental. Contoh untuk bunyi seperti ini adalah bunyi [f] dan [v]. Gigi juga dapat berlekatan dengan ujung lidah untuk membentuk bunyi dental seperti bunyi [t] dan[d] dalam bahasa indonesia.
3. Alveolar: daerah ini berada persis dibelakang gigi atas. Pada alveolar dapat ditempelkan ujung lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan bunyi alveolar.
4. Palatal keras (hard plate): daerah ini adalah rongga atas mulut, persis dibelakang daerah alveolar. Pada daerah ini dapat ditempelkan lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan alveo palatal seperti bunyi [c] dan [j].
5. Palatal lunak ( soft falate): Pada palatal lunak dapat diletakkan bagian belakang lidah untuk membentuk bunyi yang dinamakan velar seperti bunyi [k] dan [g].
6. Uvala: pada ujung rahang atas terdapat tulang lunak yang dinamakan uvala.
7. Lidah : adalah bagian mulut yang fleksibel dan dapat bergerak dengan lentur. Lidah dibagi menjadi beberapa bagian: Ujung lidah (tip of the tongue), Mata lidah ( blade), Depan lidah (front), Belakang lidah.
8. Pita suara (vocal cords) adalah sepasang selaput yang berada di jakun (larynx).
9. Faring (pharynx) adalah salurang udara menuju rongga mulut atau rongga hidung.
10. Rongga hidung : rongga untuk bunyi-bunyi nasal seperti /m/ dan /n/
11. Rongga mulut : untuk bunyi-bunyi oral seperti /p/, /b/, /a/, dan /i/.

3.1 Bagaiman Bunyi Dibuat
Bunyi juga dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu konsonan dan vokal. Perbedaan antara keduanya terletak pada pembuatannya.



3.1.1 Pembuatan Bunyi Konsonan
Untuk membuat bunyi konsonan perlu diperhatikan tiga faktor yaitu: Fatkor pertama titik artikulasi, yakni tempat dimana artikulator itu berada, berdekatan, dan berlekatan. Faktor kedua cara artikulasi yakni bagaimana caranya udara dari paru-paru itu kita lepaskan. Faktor yang ketiga ialah status pita suara.

3.1.2 Pembuatan Bunyi Vokal
Berbeda dengan konsonan, kriteria yang dipakai untuk membentuk bunyi vokal adalah (1) tinggi rerndahnya lidah; (2) posisi lidah; (3) ketegangan lidah; dan (4) bentuk bibir.

3.1.3 Fonotatik
Tiap bahasa memiliki sistem sendiri-sendiri untuk menggabungkan fonem agar menjadi suku dan kemudian kata. Dengan demikian maka tidak mustahil adanya dua bahasa yang memiliki dua fonem yang sama tetapi fototatiknya, yakni sistem pengaturan fonemnya berbeda.

3.1.4 Struktur Sukukata
Suatu struktur kata terdiri dari dua bagian utama yakni, onset (pembukaan), dan rima (rhyme). Rima terdiri dari nukleus (ncleus) dan koda (coda).

3.1.5 Fitur Distingtif
Fitur-fitur distingtif yang ada pada konsonan adalah: vokalik dan konsonantal, anterior, koronal, kontinuan (continuant), straiden (strident), nasal, vois. Untuk bunyi vokal fitur-fitur distringtifnya adalah tinggi, vokalik, belakang, bundar, dan tegang.

3.1.6 Voice Onset Time
Voice Onset Time, yang sering disingkat sebagai VOT, adalah waktu antara lepasnya udara untuk mengucaukan suatu konsonan dengan getaran pita suara untuk bunyi vokal yang mengikutinya. Dalam contoh kata bahasa inggris man, karena /m/ adalah [=vois], yang berarti bahwa pita suaranya pastilah bergetar, maka celah waktu untuk bunyi ini meluncur ke bunyi /æ/ adalah nol.

3.2 Transmisi Bunyi
Bunyi yang dikeluarkan oleh menusia ditransmisikan ke telinga pendengar melalui gelombang udara. Pada saat suatu bunyi dikeluarkan, udara bergetar olehnya dan membentuk semacam gelombang. Dengan mekanisme yang ada pada telinga, manusia menerima bunyi dasn dengan melalui syaraf-syaraf sensoris bunyi ini kemudian “dikirimkan” ke otak untuk diproses dan kemudian ditangkapnya. Pemrosesan di otak dibimbing oleh pengetahuan tentang bahasa tersebut, termasuk pengetahuan tentang bagaimana bunyi-bunyi itu dibuat dan fitur apa saja yang terlibat.

4. Persepsi Terhadap Ujaran
Persepsi terhadap suatu ujaran bukanlah suatu yang mudah dilakukan oleh manusia karena ujaran merupakan suatu aktivitas verbal yang meluncur tanpa ada batas waktu yang jelas antara satu kata dengan kata yang lain. Namun demikian manusia tetap saja mempersepsi bunyi-bunyi bahasanya dengan baik. Tentu saja persepsi seperti ini dilakukan melalui tahap-tahap tertentu. Pada dasarnya ada tiga tahap dalam pemrosesan persepsi bunyi (Clark & Clark, 1977): Tahap auditori, Tahap fonetik, dan Tahap fonologis.

5. Model-model Untuk Persepsi
Dalam rangka memahami bagaiman manusia mempersepsi bunyi sehingga akhirnya dapat terbentuk komperhensi, para ahli psikolinguistik mengemukakan model-model teoritis. Sampai saat ini ada empat model teoritis yang telah di ajukan orang yaitu: model teori motor untuk persepsi ujaran, model analisis dengan sintesis, fuzzy logical model, model cohort, model trece.

6. Persepsi Ujaran Dalam Konteks
Persepsi terhadap suatu bunyi dalam deretan bunyi bisa juga dipengaruhi oleh kecepatan ujaran. Suatu bunyi yang diucapkan dengan bunyi-bunyi yang lain secara cepat akan sedikit banyak berubah lafalnya. Akan tetapi, sebagai pendengar tetap saja dapat memilah-milahnya dan akhirnya menentukannya. Faktor lain yang membantu kita dalam mempersepsi suatu ujara adalah pengetahuan kita tentang sintaksis maupun semantik bahasa kita.

BAB III: BAGAIMAN MANUSIA MEMAHAMI UJARAN
1. Struktur Batin dan Struktur lahir
Perbedaan antara struktur lahir dan batin ini sangat penting untuk pemahaman kalimat karena proses mental yang dilalui oleh manusia dalam menanggapi kalimat-kalimat seperti ini berbeda dengan kalimat-kalimat yang tidak ambigu. Meskipun konsep struktur batin dan lahir ini sudah tidak diikuti lagi oleh penggagasannya (Chomsky 1996), dalam kaitannya dengan komprehensi ujaran kedua konsep ini rasanya masih sangat bermamfaat.

2. Proposisi
Unit-unit makna pada kalimat dinamakan proposisi (Clark dan Clark 1977:11). Lobner memdefinisikannya sebagai a set of the referents of all referring element and how they are linked (Lobner, 2002:23-29 dan 99-120). Proposisi terdiri dari dua bagian (a) argument, yakni ihwal atau ihwal- ihwal yang dibicarakan, dan (b) predikasi, yakni pernyataan yang dibuat mengenai argument.

3. Konstituen Sebagai Realita Psikologis
Konstituen bukankah hanya sekedar potongan kalimat yang sifatnya arbitrer saja. Pemotongan kalimat menjadi konstituen mempunyai landasan psikologis maupun sintatik yang kuat. Pertama, konstituen merupakan satu kesatuan yang utuh secara konseptual. Kedua, pemotongan kelompok kata di luar konstituen akan mengganggu komprehensi kita. Ketiga, yang kita simpan dalam memori kita bukanlah kata-kata yang lepas dari konstituennya, tetapi kesatuan makna dari masing-masing konstituen.



4. Strategi Dalam Memehami Ujaran
Dalam memahami suatu ujaran, ada tiga faktor yang ikut membatu kita. Pertama adalah faktor yang berkaitan dengan pengetahuan dunia. Tidak jarang pula pengetahuan dunia ini merupakan satu-satunya faktor yang membantu kita memahami isi suatu ujaran. Pengetahuan tentang dunia yang sifatnya tidak universal adalah pengetahuan yang spesifik terdapat pada budaya atau masyarakat tertentu.
Di samping pengetahuan tentang dunia, memahami tentang ujaran kita juga dibantu oleh faktor-faktor sintatik. Dengan kata lain, kita memakai strategi-strategi sintatik untuk membantu kita memahami suatu ujaran. Strategi itu antara lain:
a) Setelah kita mengidentifikasi kata pertama dari suatu konstituen yang kita dengar, proses mental kita akan mencari kata lain yang selaras dengan kata pertama dalam konstuen tersebut.
b) Setelah mendnegar kata yang pertama dalam konstituen, perhatikan apakah kata berikutnya mengakhiri konstruksi itu.
c) Setelah kita mendengar suatu verba, carilah macam serta argumen yang selaras dengan verba tersebut.
d) Tempelkanlah tiap kata baru pada kata yang baru saja mendahuluinya. Strategi ini berkaitan dengan kenyataan bahwa wujud kalimat memang dalam bentuk linier sehingga kata yang mengikutinya biasanya menjelaskan kata yang mendahuluinya.
e) Pakailah kata pertama atau konstituen dari suatu klausa untuk mengidentifikasi fungsi dari klausa tersebut.
f) Pada bahasa tertentu seperti bahasa inggris, afiks juga memberikan bantuan dalam pemahaman.
Di samping strategi sintatik, orang juga memakai strategi semantik dalam memahami ujaran. Berikut ini beberapa strategi semantik yang kita pakai ialah:
a) Pakailah nalar dalam memahami ujaran.
b) Carilah konstituen yang memahami syarat-syarat semantk tertentu.
c) Apabila ada urutan kata N V N, maka N yang pertama adalah pelaku perbuatan, kecuali ada tanda-tanda lain yang mengingkarinya.
d) Bila dalam wacana kita temukan pronominal seperti dia, mereka, atau kami, carilah antesiden untuk pronominal ini.
e) Informasi lama biasanya mendahului informasi baru.
Dari gambaran di atas tampak bahwa strategi sintatik dan strategi semantik dipelukan untuk memahami ujaran.

5. Ambiguitas
Dalam beberapa hal kadang kita menemukan kalimat yang bermakna lebih dari satu yang umumnya disebut sebagai kalimat yang ambigu atau raksa.

5.1 Macam Ambiguitas
Dilihat dari segi unsur leksikal dan struktur kalimatnya, ambiguitas dapat dibagi menjadi dua macam: (a) ambiguitas leksikal, dan (b) ambiguitas gramatikal. Sesuai dengan namanya, ambiguitas leksikal adalah macam ambiguitas yang penyebabnya adalah bentuk leksikal yang dipakai.
Ambiguitas gramatikal adalah macam ambiguitas yang penyebabnya adalah bentuk struktur kalimat yang dipakai. Ambiguitas gramatikal dapat dibagi menjadi dua macam yaitu ambiguitas sementara (local ambiguity), dan ambiguitas abadi (standing ambiguity) (Gleason dan Ratner 1998).

5.2 Teori Pemrosesan Kalimat Ambigu
Pada dasarnya ada dua macam teori ambigu mengenai pemrosesan kalimat yang bermakna ganda. Teori pertama dinamakna Garden Path Theory (GPT). Menurut teori Fraizer tahun 1987 ini, orang membangun makna berdasarkan pengetahun sintatik. Ada dua principle dalam teori ini: (1) Minimal Attachment Principle (MAP), dan Late Closure Principle (LCP).

5.3 Pemrosesan Kalimat Non-harfiah
Sebagian teori menyatakan bahwa ada tiga tahap dalam pemrosesannya. Pertama, kita berikan tanggapan secara harfiah untuk tiap kata yang msuk terlebih dahulu. Kedua kita berikan makna harfiah terhadap kata-kata yang kita dengar itu. Dan ketiga mencari makna lain di luar makan harfiah yang mustahil itu.
5.4 Pemrosesan Secara Sintatik atau Semantik
Seperti dinyatakan sebelumnya, ada dua macam pendekatan yang membantu kita mempersepsi dan memahami ujaran, dan kedua pendekatan ini seolah-olah merupakan dua kelompok yang berdiri sendiri-sendiri. Dalam kenyataannya kedua kelompok ini saling membantu.
Kompetensi kita sebagai penutur asli tentang sintaksis bahasa kita tentu merupakan bekal intuitif yang membimbing kita untuk menerima, menolak, meragukan, dan mendeteksi ambiguitas suatu kalimat. Sebagai penutur asli, kita juga memiliki intuisi semantik, baik yang bersifat universal maupun yang lokal.

6. Penyimpanan Kata
6.1 Faktor Yang Mempengaruhi Akses Terhadap Kata
Pada dasarnya retrival kata dipegaruhi oleh pelbagai faktor yaitu, Frekuensi kata, Ketergambaran, Keterkaitan semantik, kategori gramatikal, dan fonologi.

6.2 Teori Tentang Makna
Ada dua teori untuk memahami makna yaitu teori fitur dan teori berdasarkan pengetahuan. Teori fitur pada dasarnya menyatakan bahwa kata memiliki seperangkat fitur, atau ciri yang menjadi bagian integral dari kata itu. Manusia dapat memahami ujaran karena mereka dapat mengenali kata-kata yang mereka dengar secara intuitif yang sebenarnya berdasarkan peda pengetahuan yang mereka miliki tentang bahasa dan budaya mereka.

BAB IV: PELAKSAAN TINDAK UJARAN
1. Tujuan Ujaran
Dalam berujar, manusia pastilah mempunyai tujuan. Tujuan itu berupa pemberian informasi kepada pendengar. Dengan demikian, suatu ujaran itu mengandung di dalamnya tiga unsur; (a) tindak ujaran (speech acts); (b) muatan proposisi (propositional content); (c) muatan tematik (thematic content).


1.1 Tindak Ujaran
Searli membagi tindak ujaran kedalam lima kategori yaitu: representative, direktif, komisif, ekspresif, dan deklarasi. (Searli 1969:34; Mey 2002:120).

1.2 Muatan Proposisi
Pada muatan proposisi pendengar meramu satu proposisi dengan proposes yang lain, makin lama makin meninggi shingga terbentuklah suatu pengertian yang menyeluruh dari proposisi-proposisi tersebut.

1.3Muatan Tematik
Muatan tematik merujuk pada pengertian akan adanya dua macam informasi dalam kalimat yakni, informasi lama (old atau given information) dan informasi baru (new information).

2.Langkah Umum dalam Pelaksanaan Ujaran
Langkah apa yang kemudian harus dilakukan oleh pendengar setelah memahami suatu ujaran tergantung pada macam ujaran yang didengar. Dari teori tindak ujaran kita ketahui bahwa ujaran hanya bisa representative, direktif, komisif, ekspresif, atau deklarasi.

3. Pelaksaan Ujaran
3.1Pelaksanaan Tindak Ujaran Representatif
Karena tindak ujaran representatif hanyalah merupakan pernyataan mengenai sesuatu, maka yang perlu kita lakukan adalah menghimpun muatan proposisi dan memahami mana yang merupakan informasi lama dan informasi yang baru.
3.2Pelaksanaan Tindak Ujaran Direktif
Tindakan ujaran direktif dapat dibagi menadi tiga kelompok yaitu: (a) pertanyaan dengan jawaban ya/tidak/bukan/belum; (b) pertanyaan yang memerlukan jawaban mana/(si, meng) apa; dan (c) perintah untuk melaksankan sesuatu.

3.3Pelaksanaan Tindak Ujaran Komisif
Seperti dinyatakan sebelumnya, tindak ujaran komisif berbeda dengan tindak ujaran direktif hanya dalam arahnya direktif kepada sipendengar, komisif kepada diri sipembicara. Karena tindak ujaran komisif tidak menanyakan atau memerintahkan sesuatu maka tidak ada perbuatan yang harus dilakukan.

3.4Pelaksaanaan Tindak Ujaran Ekspresif
Karena tindak ujaran ekspresif menyatakan keadan psikologis seseorang, maka pelaksanaannya pun bukan berupa perbuatan, khususnya perbuatan fisik.

3.5Pelaksaan Tindak Ujaran Deklarasi
Karena dalam tindak ujaran deklarsi diperlukan adanya syarat kelayakan agar kalimat yang diucapkan itu bermakna, maka langkah tambahan dalam memahami dan kemudian melaksanakan ujaran ini adalah untuk meyakinkan diri bahwa si pembicara itu memang mempunyai wewenang untuk mengatakan apa yang dia katakan.

4. Pelaksanaan Tindak Ujaran Tak Langsung
Tony, berapa kali mama telah bilang untuk tidak menaruh handuk dilantai? Mendengar kalimat seperti ini Tony tentu tidak akan menjawab dengan kalimat “lima kali, Ma”, atau “Nggak ingat, Ma berapa kali”. Dia sadari bahwa ibunya sedang marah dan menyuruhnya untuk mengambil handuk itu.
Ujaran seperti ini dinamakan ujaran tak langsung, artinya, apa yang dikatakan dengan apa yang dimaksud tidak sama. Ujaran seperti ini lebih sukar untuk dilaksanakan karena ada satu fase tambahan yang harus dilalui, yakni fase untuk mentransfer dari makna literal ke makna yang tak langsung. Dalam hal ini, prinsipel yang dinamakan prinsipel Kooperatif sangat membantu.

4.1Prinsipel Kooperatif
Dalam kita berkomunikasi kita juga mengikuti prinsipel seprti ini. Prinsipel yang dinamakan prinsipel kooperatif (cooperative principle) ini pertama kali dikemukakan oleh filosof H. Paul Grice pada tahun 1967. Pada dasarnya prinsipel ini memberikan landasan mengapa manusia saling berkomunikasi. Landasan ini disebut sebagai maksim (maxim). Grise memberikan empat macam maksim (Grice 1975; Thomas 1998:176-179; Mey 2001:17-79) yaitu: maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim hubungan (Relation), maksim cara (Manner).

4.2Pelaksanaan Ujaran dan Presipel Kooperatif
Kaitan antara pelaksanaan ujaran dan prinsipel kooperatif adalah bahwa dalam berhasa orang tidak selamanya menyatakan apa yang dimaksud secara rinci dan eksplisit. Perhatikan contoh dibawah ini:
Mama: Don, tuh diangkat telponnya.
Dony: lagi main, ma.
Dari segi sintaksis, kedua percakapan ini tidak ada hubungannya sama sekali. Akan tetapi, karena adanya maksim hubungan yang menekankan adanya informasi yang relevan untuk mencapai tujuan percakapan makanya mamanya tahu apa yang dimaksud oleh Dony.

4.3Langkah-langkah dalam Pelaksanaan Ujaran Tak-langsung
Ujaran tak langsung memerlukan pemerosesan yang lebih rumit dan lebih lama sebelum dapat dilaksanakan. Secara singkat proses tersebut adalah: memerlukan bunyi /j/ dan /r/ dalam bahasa Indonesia, tetapi tetap saja tidak dapat mengeluarkan kedua bunyi itu sampai keadaan biologisnya memungkinkan.

BAB III
PENUTUP

Psikolinguistik adalah ilmu hidrida, yakni ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu psikologi dan linguistik. Dari segi ilmu pengetahuan, kajian dari penelitian mengenai bagaimana manusia mempersepsi ujaran dapat dikatakan masih sangat baru. Meskipun Willis tahun 1829 dan Helmholtz tahun 1859 telah mempelajari ciri fisik dari bunyi, penelitian bagaimana kita mempersepsi ujaran baru mulai perang dunia II (Gleason dan ratner 1988:109).

Masalah yang dihadapi dalam mempersepsi ujaran ini adalah bagaimana kita dapat menangkap dan kemudian mencerna bunyi-bunyi yang diujarkan dengan sengat cepat. Di samping kecepatan, bunyi dalam satu ujaran juga tidak diucapkan secara utuh tetapi sepertinya lebur dengan bunyi yang lain.
Bunyi juga dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu konsonan dan vokal. Perbedaan antara keduanya terletak pada pembuatannya.

Untuk membuat bunyi konsonan perlu diperhatikan tiga faktor yaitu: Fatkor pertama titik artikulasi, yakni tempat diman artikulator itu berada, berdekatan, dan berlekatan. Faktor kedua cara artikulasi yakni bagaiman caranya udara dari paru-paru itu kita lepaskan. Faktor yang ketiga ialah status pita suara.

Dalam berujar, manusia pastilah mempunyai tujuan. Tujuan itu berupa pemberian informasi kepada pendengar. Dengan demikian, suatu ujaran itu mengandung di dalamnya tiga unsur; (a) tindak ujaran (speech acts); (b) muatan proposisi (propositional content); (c) muatan tematik (thematic content).