LEMBAR KERJA SISWA
Nama : ¬____________
Kelas :_____________ Tujuan memahami sastra klasik:___________
Tanggal :____________
1) Bacalah hikayat di bawah ini!
HIKAYAT SRI RAMA
Awal hikayat, diceritakan perihal lahirnya Rawana setelah dikandung ibunya, Raksagandi, selama dua tahun. Pada usia 12 tahun Rawana sudah biasa memukul mati teman-teman sepermainannya sehingga ia dibuang oleh kakeknya, Bermaraja ke bukit Srandib. Setelah bertapa selama 12 tahun di sana, ia bertemu dengan Nabi Adam. Dengan syarat taat akan hukum Allah SWT., ia dianugerahi empat alam kearajaan yang kesemua rajanya tunduk kepadanya, yaitu kerajaan alam keindraan, kerajaan di dalam bumi, kerajaan di laut, dan kerajaan di permukaan bumi. Di negeri keindraan ia berkuasa, beristri Nila Utama dan beranak yang dinamainya Indrajit. Di dalam bumi ia berkuasa, beristri Putri Pertiwi Dewi beranak Patala Maharayan. Di laut ia berkuasa, beristri Gangga Mahadewi dan beranak Rawana Gangga Mahasura. Dalam usia 12 tahun anak-anaknya diangkatnya menjadi raja. Di Serandib sendiri Rawana mendirikan istana kerajaan besar, Langkapuri. Semua kerajaan di permukaan bumi (alam dunia) takluk kepadanya kecuali kerajaan Indrapuri, Birukasyapurwa, Lakurkatakina, dan negeri Aspahaboga.
Sepeninggal Rawana, Negeri Indrapurinegara, Bermaraja, kakek Rawana meninggal digantikan oleh Badanul. Setelah Badanul meninggal, naik tahtalah Raja Citrabaha, ayah Rawana. Citrabaha memiliki tiga orang anak, yaitu Kumbakarna, Bibusanam, dan Surapandaki. Citrabaha meninggal digantikan oleh Naruna. Naruna meninggal digantikan oleh Raja Syaksya.
Alkisah, terjadi permusuhan antara kerajaan Biruhasyapurwa dengan kerajaan Indrapurinegara. Citrabaha menyerang Birukasyapurwa dan membunuh keluarga raja Datikawaca. Balikasya, anak adik Datikawaca, naik takhta. Setelah mengembalikan kejayaan Birukasyapurwa, Balikasya ingin membalas dendam, menyerang kerajaan Indrapuranegara. Untuk itu, Balikasya mengutus Sipanjalma dan hulubalang lainnya, menyelidiki negeri Indrapuranegara. Dalam penyelidikannya Sipanjalma meracuni menteri dan hulubalang musuh. Setelah meninggalkan surat tantangan, Sipanjalma mengundurkan diri ke negerinya. Sardal dan Kemendekata atas suruhan Raja Syaksya, mengejar Sipanjalma ke Biruhasyapurwa. Terjadilan perang besar-besaran. Rawana berusaha dan berhasil mendamaikan peperangan antara kerajaan-kerajaan tersebut.
Alkisah pula, Dasarata Raman cucu Nabi Adam dari Dasarata Cakrawati, menikah dengan putri Mandudari, anak Mahabisnu. Dari perkawinan mereka, lahirlah Sri Rama dan Laksmana. Sebagai balas jasa atas pertolongannya, Dasarata juga mengawini Baliadari. Dari baliadari Dasarata dikaruniai dua orang anak, yaitu Berdana dan Citradana.
Rawana mendengar kabar bahwa Dasarata memiliki seorang istri yang sangat cantik. Merasa tertarik, dia menemui Dasarata dan meminta Mandudari. Tanpa sepengetahuan suaminya, Mandudari berusaha menciptakan Mandudari tiruan. Mandudari tiruan inilah yang diberikan Dasarata kepada Rawana. Dengan menyamar sebagai anak-anak, Dasarata menemuni Mandudari tiruan. Pada malam harinya, Dasarata kembali ke wujud aslinya dan bersetubuh dengan Mandudari tiruan. Pagi hari Dasarata kembali menjadi anak-anak dan pulang.
Beberapa bulan kemudian Mandudari tiruan melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik. Akan tetapi, karena ramalan Bibusyanam, saudaranya, bahwa suami anak tersebut akan membahayakannya, anak perempuan tersebut dimasukkan ke dalam lung besi dan dibuangnya ke laut.
Lung besi itu hanyut ke laut negeri Darwatipura dan ditemukan oleh raja negeri itu, Maharaja Kala. Dengan serta merta air susu istrinya, Minuram Dewi pun terpancar. Putri temuannya itu dinamai oleh Maharaja Kala Sita Dewi. Maharaja Kala menamam 40 pohon lontar berbanjar dan berkata, “barang siapa yang berhasil memanah 40 pohon lontar tersebut dengan sekali panah, maka putri itu akan diberikan kepadanya”.
Mencapai usia 12 tahun, Sita Dewi tumbuh dan termashur sebagai putri Maharaja Kala yang sangat cantik. Banyak putra raja yang datang memintanya untuk dijadikan istri. Maka Maharaja Kala mengumumkan bahwa siap yang dapat memanah 40 pohon lontar yang ditanamnya dalam sekali panah, maka Sita Dewi akan diberikan kepadanya. Dalam sayembara itu, atas panggilan langsung Maharaja Kala, Sri Rama datang mengikuti sayembara. Sri Rama memenangkan sayembara. Akhirnya Sri Rama menikah dengan Sita Dewi.
Setelah berhasil melewati peperangan dengan empat anak raja yang sama-sama menginginkan Sita Dewi, Sri Rama memutuskan untuk tinggal di hutan Dalinam, artinya rimba manikam. Mereka ditemani oleh Laksmana. Di hutan itu, Sri Rama dan Sita Dewi mandi di kolam jernih Kala Sehari Bunting. Serta merta mereka jadi kera. Pada saat menjadi kera itu mereka melakukan hubungan intim. Akibatnya, kata Laksmana, Sita akan melahirkan seekor kera. Dengan diurut, akhirnya Sita Dewi mengeluarkan manikam melalui kerongkongannya. Dengan bantuan Bayu Bata, manikam yang telah dibungkus dengan daun budi, dimasukkan ke dalam mulut Dewi Anjani yang sedang bertapa. Akhirnya Dewi Anjani melahirkan seorang anak laki-laki serupa kera yang dinaminya Hanuman.
Merasa sakit hati karena hidung Surapandaki, saudaranya, dirumpungkan oleh Laksmana, Rawana berniat membalas dendam melalui Sita Dewi. Dengan akal dan kesaktiannya, Rawana menculik Sita Dewi.
Dalam perjalanannya mencari Sita Dewi, Sri Rama bertemu dengan bangau yang memberikan kabar bahwa istrinya diculik Rawana. Sri Rama juga bertemu dengan Jentayu yang melawan Rawana ketika Rawana menculik Sita Dewi. Rawana juga bertemua dengan Sugriwa serta Baliraja. Pada saat di Negeri Lakurkatakina, negeri baliraja itu, datanglah Citradana dan Berdana, dua saudaranya dari negeri Indrapura. Mereka datang untuk mengabarkan kematian ayah mereka, Dasarata, dan ingin menjemput Sri Rama agar bersedia menjadi raja di Inderapuri. Sri Rama menolaknya.
Di negeri Lakurkatakina, Sri Rama memperoleh bantuan. Di sini Sri Rama bertemu dengan Hanuman, anaknya yang lahir melalui Dewi Anjani. Hanuman pula yang disuruhnya untuk menyelidiki keadaan Sita Dewi di Langkapuri . Di Langkapuri Hanuman membakar semua istana kecuali tempat tinggal Sita Dewi. Kalau pada saat pergi bertumpukan lengan Sri Rama, maka ketika pulang Hanuman bertumpukan batu kecil di bukit Serandib.
Berdasarkan informasi hasil penyelidikan Hanuman, Sri Rama memutuskan untuk menyerang negeri Rawana itu. Untuk menyeberang ke Langkapuri, dibuatlah tambak dan jembatan penyeberangan. Dalam pekerjaan itu Sri Rama dibantu oleh Maharesi Sahagentala. Setelah tambak dan jembatan penyeberangan selesai dibangun, dimulailah penyeberangan ke Langkapuri dan pecahlah perang antara pihak Sri Rama dan pihak Rawana. Betapa banyaknya rakyat dan prajurit dari kedua belah pihak yang gugur dalam peperangan itu. Sri Rama sendiri berhasil membinasakan Kumbakarna, Badubisa, Patala Marayan, Gangga Mahasura, Indrajit, dan Mulamatani.
Dalam peperangan itu, Sri Rama keluar sebagai pemenang. Dengan begitu Sri Rama berhak menguasai Langkapuri dan menjadi raja yang kedaulatannya sangat luas. Ucapan selamat datang dari kerajaan-kerajaan lain, antara lain dari Maharaja Kala dari negeri Darwati dan Citradana serta Berdana, saudaranya, dari negeri Mandupuranegara. Karena ragu akan kesuciannya, Sita Dewi diuji Sri Rama dengan cara dibakar. Ternyata Sita Dewi tidak terbakar sedikit pun. Artinya, Sita Dewi masih suci.
Atas saran Bibusanam, Sri Rama mendirikan negeri baru, yaitu negeri Daryapuranegara. Adapun kerajaan Langkapuri dikuasakan kepada Jamumenteri. Di negeri baru itu, Sri Rama mendirikan pemerintahan yang adil dan makmur. Pada saat itu pula, Sita Dewi hamil atas upaya Maharesi Kala. Namun, Sita Dewi dipitnah Kikuwi, adik Sri Rama, sehingga Sita Dewi pergi dan menetap selama 12 tahun di negeri Darwati, bersama Maharesi Kala. Dalam pembuangannya itu Sita Dewi melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamai Tilawi. Karena kehilangan Tilawi, saat diasuhnya, Maharesi Kala menciptakan seorang anak laki-laki lain yaitu Gusi yang segalanya persis Tilawi. Kedua anak tersebut akhirnya hidup bersama seperti dua saudara kandung.
Setelah sekian lama, Sri Rama mmenyadari kekeliruannya. Menurut keyakinannya Sita Dewi tidak bersalah. Justru Kikuwilah yang bersalah. Karena itu, Sri Rama menjemput Sita Dewi. Sri Rama dan Sita Dewi dikawinkan lagi dengan upacara kebesaran. Mereka kembali ke negeri Daryapuranegara, hidup rukun dan bahagia di negeri yang adil makmur.
Dalam kondisi yang sentosa itu, Sri Rama mengawinkan Tilawi dengan putri Indra Kusuma Dewi, anak Indrajit. Sedangkan Gusi dikawinkan dengan Gangga Surani Dewi, putri Gangga Mahasura. Adapun Hanuman menolak untuk dikawinkan dengan putri Balikasya dari negeri Biruhsyapurwa.
Hanuman sempat berperang dengan Tilawi dan Gusi. Peperangan terjadi karena Hanuman menodai istri muda Tilawi, Sendari Dewi. Peperangan terhenti karena Sri Rama turun tangan mendamaikan mereka.
Setelah kejadian itu, Sri Rama mengasingkan diri bertapa di Indipuri bersama Sita Dewi. Di sana Sri Rama ditemani Laksmana dan Hanuman. Dalam masa pertapaan Sri Rama dan Sita Dewi mengajari anak-anaknya tentang tata tertib kerajaan. Demikian juga raja-raja lain banyak yang datang menemuinya. Setelah hampir selama empat puluh tahun, Sri Rama akhirnya meninggal dunia.
2) Pahamilah isi hikayat di atas
3) Tentukan unsur intrinsik dari hikayat Sri Rama!
a) Tema dan Amanat
b) Alur
c) Latar
4) Menceritakan kembali isi hikayat Sri Rama dengan kata-kata sendiri!
FORMAT PENILAIAN
Nomor Aspek Skor
1 Tem dan Amanat 1-2
2 Alur 1-2
3 Latar 1-2
4 Menceritakan kembali 1-4
NILA SARI HUTASUHUT 209411018
DIK. A REGULER ‘09
Jumat, 02 Desember 2011
prota/prosem
PROGRAM TAHUNAN
SMP NEGERI 275 Jakarta
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas : VIII
Tahun Pelajaran : 2007 – 2008
SMT STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR ALOKASI WAKTU KET
1 Mendengarkan
1. Memahami wacana lisan berbentuk laporan membaca Menganalisis laporan 4
3. Menanggapi laporan 2
4. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memintai, membaca cepat 3.3 Menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata per menit 2
Membaca
7. Memahami teks drama dan novel remaja 7.1 Mengidentifikasi unsur intrinsik teks drama 4
Menulis
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan, surat dinas dan petunjuk 4.1 Menulis laporan dengan bahasa yang baik dan benar 2
Berbicara
2. Mengungkapkan berbagai informasi melalui wawancara dan presentasi laporan 2.2 Menyampaikan laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar 4
3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memindai, membaca cepat Menemukan informasi secara cepat dan tepat dari ensiklopedi/buku telepon dengan membaca memindai 4
Membaca
7. Memahami teks drama dan novel remaja 7.2 Membuat sinopsis novel remaja Indonesia 4
Berbicara
2. Mengungkapkan berbagai informasi melalui wawancara dan presentasi laporan Berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara 4
Menulis
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan, surat dinas, petunjuk Menulis surat dinas berkenaan dengan kegiatan sekolah dengan sistematika yang tepat dan bahasa baku 2
Mendengarkan
5. Mengapresiakan pementasan drama 5.1 Menanggapi unsur pementasan naskah drama 4
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan keaslian ide
4
Berbicara
10. Mengemukakan pikiran, perasaan dan informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler 10.2 Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar serta santun
4
Menulis
4. Mengungkapkan indormasi dalam bentuk laporan, surat dinas dan petunjuk Menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif 2
Mendengarkan
5. Mengapresiasikan pementasan drama 5.2 Mengevaluasi pemeran tokoh dalam pementasan drama 4
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama 4
Berbicara
10. Mengemukakan pikiran, perasaan dan informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler Menyampaikan persetujuan, sanggahan dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai dengan bukti atau alasan 4
Membaca
3. Memahami ragam Mendeskripsikan tempat atau arah dalam konteks yang sebenar-benarnya sesuai dengan yang tertera dalam denah 4
Berbicara
6. Mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan bermain peran 6.1 Bermain peran sesuai dengan naskah yang ditulis siswa 4
6.2 Bermain peran dengan cara improvisasi sesuai dengan kerangka naskah yang ditulis oleh siswa 4
2 Mendengarkan
9. Memahami isi / berita dari radio / televisi 9.1 Menemukan pokok-pokok berita (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana) yang didengar atau ditonton melalui radio / televisi 2
9.2 Mengemukakan pokok-pokok berita yang didengar dan atau ditonton 4
Membaca
11. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif dan membaca nyaring Menemukan masalah utama dari beberapa berita yang bertopik sama melalui membaca ekstensif 4
Menemukan informasi untuk bahan diskusi melalui membaca intensif 4
Membacakan teks berita dengan intonasi yang tepat serta artikulasi dan volume suara yang jelas 4
Menulis
12. Mengungkapkan informasi dalam bentuk rangkuman teks berita, slogan/poster Menulis rangkuman isi buku ilmu pengetahuan populer 4
Menulis teks berita secara singkat, padat dan jelas 4
Menulis slogan / poster untuk berbagai keperluan dengan pilihan kata dan kalimat yang bervariasi, serta persuasif 2
Mendengarkan
13. Memahami unsur intrinsik novel remaja (asli/terjemahan) yang dibaca Mengidentifikasi karakter tokoh novel remaja (asli/terjemahan) yang dibacakan 2
Menjelaskan tema dan latar novel remaja (asli/terjemahan) yang dibacakan 4
Mendeskripsikan alur novel remaja (asli/terjemahan) yang dibacakan 2
Berbicara
14. Mengapresiasikan kutipan novel remaja (asli/terjemahan melalui kegiatan diskusi) Mengomentari kutipan novel remaja (asli/terjemahan) 2
Menanggapi hal yang menarik dari kutipan novel remaja (asli/terjemahan) 4
Membaca
15. Memahami buku novel (asli/terjemahan) antologi puisi Menjelaskan alur cerita, pelaku dan latar novel remaja (asli/terjemahan) 4
15.2 Mengenali ciri-ciri umum puisi dari buku antologi puisi 4
Menulis
16. Mengungkapkan pikiran, dan perasan dalam puisi Menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai 4
Menulis puisi bebas dengan menggunakan unsur persajakan 2
JUMLAH
Jakarta, Juli 2007
Mengetahui
Kepala SMP Negeri 275 Jakarta Guru Mata Pelajaran
Dra.Hj.Adriati,M.M. Dra.Hj.Adriati,M.M.
NIP.131265285 NIP.131265285
PROGRAM SEMESTER
SMP NEGERI 275 JAKARTA
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / Semester : VIII / 1 (Satu)
Tahun Pelajaran : 2007 – 2008
No KOMPETENSI DASAR Alokasi Waktu BULAN
Juli Agustus September Oktober November Desember
3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 1.1 Menganalisis laporan 4 M
1.2 Menanggapi laporan 2 O
Menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata per menit 2 S
7.1 Mengidentifikasi unsur intrinsik teks drama 4
2 4.1 Menulis laporan dengan bahasa yang baik dan benar 2
2.2 Menyampaikan laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar 4
Menemukan informasi secara cepat dan tepat dari ensiklopedi/buku telepon dengan membaca memindai 4
7.2 Membuat sinopsis novel remaja Indonesia 4
Ulangan Harian 1
3 2.1 Berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara
Menulis surat dinas berkenaan dengan kegiatan sekolah dengan sistematika yang tepat dan bahasa baku 2
5.1 Menanggapi unsur pementasan naskah drama 4
8.1 Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan keaslian ide 4
Ulangan Harian 2 2
4 Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar serta santun 4
Menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif 2
5.2 Mengevaluasi pemeran tokoh dalam pementasan drama 4
8.2 Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama 4
5 Menyampaikan persetujuan, sanggahan dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai dengan bukti atau alasan 4
Mendeskripsikan tempat atau arah dalam konteks yang sebenar-benarnya sesuai dengan yang tertera dalam denah 4
6.1 Bermain peran sesuai dengan naskah yang ditulis siswa 4
6.2 Bermain peran dengan cara improvisasi sesuai dengan kerangka naskah yang ditulis oleh siswa 4
Ulangan Harian 3 2
Ulangan Umum 4
Mengetahui, Jakarta, Juli 2007
Kepala SMP Negeri 275 Jakarta Guru Mata Pelajaran
Dra.Hj.Adriati,M.M. Dra.Hj.Adriati,M.M.
NIP.131265285 NIP.131265285
PROGRAM SEMESTER
SMP NEGERI 275 JAKARTA
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / Semester : VIII / 2 (DUA)
Tahun Pelajaran : 2007 – 2008
No KOMPETENSI DASAR Alokasi Waktu BULAN
Januari Februari Maret April Mei Juni
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. 9.1 Menemukan pokok-pokok berita (apa, siapa, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana) yang didengar dan atau ditonton melalui radio/televisi 2 LIBUR SMT 1 UJIAN NASIONAL UJIAN SEKLAH ULANGAN UMUM SEMESTER GENAP
9.2 Mengemukakan kembali yang didengar/ditonton melalui radio/televisi 4
11.1 Menemukan maslah utama dan berbagai berita yang bertopik sama melalui membaca intensif 4
11.2 Menemukan informasi untuk bahan diskusi melalui membaca intensif 4
11.3 Membacakan teks berita dengan intonasi yang tepat serta artikulasi dan volume suara yang keras 4
Ulangan Harian 1 2
2 12.1 Menulis rangkuman buku ilmu pengetahuan populer 4
12.2 Menulis teks berita secara singkat, padat, dan jelas 4
12.3 Menulis slogan/poster untuk berbagai keperluan dengan pilihan berita 2
3 13.1 Mengidentifikasi karakter tokoh novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan 2
Ulangan Mid Semester 4
13.2 Menjelaskan tema dan latar novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan 4
13.3 Mendeskripsikan alur novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan 2
Ulangan Harian 2
14.1 Mengomentari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan) 2
14.2 Menanggapi hal yang menarik dari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan) 4
4 15.1 Menjelaskan alur cerita, pelaku dan latar novel remaja (asli atau terjemahan) 4
15.2 Mengenali ciri-ciri umum puisi dari buku antologi puisi 4
16.1 Menulis puisi bebas dengan pilihan kata yang sesuai 4
16.2 Menulis puisi bebas dengan memperhatikan persajakan 2
Ulangan Harian 3 2
Cadangan 4
Mengetahui, Jakarta, Juli 2007
Kepala SMP Negeri 275 Jakarta Guru Mata Pelajaran
Dra.Hj.Adriati,M.M. Dra.Hj.Adriati,M.M.
NIP.131265285 NIP.13126528
SMP NEGERI 275 Jakarta
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas : VIII
Tahun Pelajaran : 2007 – 2008
SMT STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR ALOKASI WAKTU KET
1 Mendengarkan
1. Memahami wacana lisan berbentuk laporan membaca Menganalisis laporan 4
3. Menanggapi laporan 2
4. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memintai, membaca cepat 3.3 Menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata per menit 2
Membaca
7. Memahami teks drama dan novel remaja 7.1 Mengidentifikasi unsur intrinsik teks drama 4
Menulis
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan, surat dinas dan petunjuk 4.1 Menulis laporan dengan bahasa yang baik dan benar 2
Berbicara
2. Mengungkapkan berbagai informasi melalui wawancara dan presentasi laporan 2.2 Menyampaikan laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar 4
3. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memindai, membaca cepat Menemukan informasi secara cepat dan tepat dari ensiklopedi/buku telepon dengan membaca memindai 4
Membaca
7. Memahami teks drama dan novel remaja 7.2 Membuat sinopsis novel remaja Indonesia 4
Berbicara
2. Mengungkapkan berbagai informasi melalui wawancara dan presentasi laporan Berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara 4
Menulis
4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan, surat dinas, petunjuk Menulis surat dinas berkenaan dengan kegiatan sekolah dengan sistematika yang tepat dan bahasa baku 2
Mendengarkan
5. Mengapresiakan pementasan drama 5.1 Menanggapi unsur pementasan naskah drama 4
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan keaslian ide
4
Berbicara
10. Mengemukakan pikiran, perasaan dan informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler 10.2 Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar serta santun
4
Menulis
4. Mengungkapkan indormasi dalam bentuk laporan, surat dinas dan petunjuk Menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif 2
Mendengarkan
5. Mengapresiasikan pementasan drama 5.2 Mengevaluasi pemeran tokoh dalam pementasan drama 4
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama 4
Berbicara
10. Mengemukakan pikiran, perasaan dan informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler Menyampaikan persetujuan, sanggahan dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai dengan bukti atau alasan 4
Membaca
3. Memahami ragam Mendeskripsikan tempat atau arah dalam konteks yang sebenar-benarnya sesuai dengan yang tertera dalam denah 4
Berbicara
6. Mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan bermain peran 6.1 Bermain peran sesuai dengan naskah yang ditulis siswa 4
6.2 Bermain peran dengan cara improvisasi sesuai dengan kerangka naskah yang ditulis oleh siswa 4
2 Mendengarkan
9. Memahami isi / berita dari radio / televisi 9.1 Menemukan pokok-pokok berita (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana) yang didengar atau ditonton melalui radio / televisi 2
9.2 Mengemukakan pokok-pokok berita yang didengar dan atau ditonton 4
Membaca
11. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif dan membaca nyaring Menemukan masalah utama dari beberapa berita yang bertopik sama melalui membaca ekstensif 4
Menemukan informasi untuk bahan diskusi melalui membaca intensif 4
Membacakan teks berita dengan intonasi yang tepat serta artikulasi dan volume suara yang jelas 4
Menulis
12. Mengungkapkan informasi dalam bentuk rangkuman teks berita, slogan/poster Menulis rangkuman isi buku ilmu pengetahuan populer 4
Menulis teks berita secara singkat, padat dan jelas 4
Menulis slogan / poster untuk berbagai keperluan dengan pilihan kata dan kalimat yang bervariasi, serta persuasif 2
Mendengarkan
13. Memahami unsur intrinsik novel remaja (asli/terjemahan) yang dibaca Mengidentifikasi karakter tokoh novel remaja (asli/terjemahan) yang dibacakan 2
Menjelaskan tema dan latar novel remaja (asli/terjemahan) yang dibacakan 4
Mendeskripsikan alur novel remaja (asli/terjemahan) yang dibacakan 2
Berbicara
14. Mengapresiasikan kutipan novel remaja (asli/terjemahan melalui kegiatan diskusi) Mengomentari kutipan novel remaja (asli/terjemahan) 2
Menanggapi hal yang menarik dari kutipan novel remaja (asli/terjemahan) 4
Membaca
15. Memahami buku novel (asli/terjemahan) antologi puisi Menjelaskan alur cerita, pelaku dan latar novel remaja (asli/terjemahan) 4
15.2 Mengenali ciri-ciri umum puisi dari buku antologi puisi 4
Menulis
16. Mengungkapkan pikiran, dan perasan dalam puisi Menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai 4
Menulis puisi bebas dengan menggunakan unsur persajakan 2
JUMLAH
Jakarta, Juli 2007
Mengetahui
Kepala SMP Negeri 275 Jakarta Guru Mata Pelajaran
Dra.Hj.Adriati,M.M. Dra.Hj.Adriati,M.M.
NIP.131265285 NIP.131265285
PROGRAM SEMESTER
SMP NEGERI 275 JAKARTA
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / Semester : VIII / 1 (Satu)
Tahun Pelajaran : 2007 – 2008
No KOMPETENSI DASAR Alokasi Waktu BULAN
Juli Agustus September Oktober November Desember
3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 1.1 Menganalisis laporan 4 M
1.2 Menanggapi laporan 2 O
Menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata per menit 2 S
7.1 Mengidentifikasi unsur intrinsik teks drama 4
2 4.1 Menulis laporan dengan bahasa yang baik dan benar 2
2.2 Menyampaikan laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar 4
Menemukan informasi secara cepat dan tepat dari ensiklopedi/buku telepon dengan membaca memindai 4
7.2 Membuat sinopsis novel remaja Indonesia 4
Ulangan Harian 1
3 2.1 Berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara
Menulis surat dinas berkenaan dengan kegiatan sekolah dengan sistematika yang tepat dan bahasa baku 2
5.1 Menanggapi unsur pementasan naskah drama 4
8.1 Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan keaslian ide 4
Ulangan Harian 2 2
4 Membawakan acara dengan bahasa yang baik dan benar serta santun 4
Menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan bahasa yang efektif 2
5.2 Mengevaluasi pemeran tokoh dalam pementasan drama 4
8.2 Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama 4
5 Menyampaikan persetujuan, sanggahan dan penolakan pendapat dalam diskusi disertai dengan bukti atau alasan 4
Mendeskripsikan tempat atau arah dalam konteks yang sebenar-benarnya sesuai dengan yang tertera dalam denah 4
6.1 Bermain peran sesuai dengan naskah yang ditulis siswa 4
6.2 Bermain peran dengan cara improvisasi sesuai dengan kerangka naskah yang ditulis oleh siswa 4
Ulangan Harian 3 2
Ulangan Umum 4
Mengetahui, Jakarta, Juli 2007
Kepala SMP Negeri 275 Jakarta Guru Mata Pelajaran
Dra.Hj.Adriati,M.M. Dra.Hj.Adriati,M.M.
NIP.131265285 NIP.131265285
PROGRAM SEMESTER
SMP NEGERI 275 JAKARTA
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / Semester : VIII / 2 (DUA)
Tahun Pelajaran : 2007 – 2008
No KOMPETENSI DASAR Alokasi Waktu BULAN
Januari Februari Maret April Mei Juni
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. 9.1 Menemukan pokok-pokok berita (apa, siapa, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana) yang didengar dan atau ditonton melalui radio/televisi 2 LIBUR SMT 1 UJIAN NASIONAL UJIAN SEKLAH ULANGAN UMUM SEMESTER GENAP
9.2 Mengemukakan kembali yang didengar/ditonton melalui radio/televisi 4
11.1 Menemukan maslah utama dan berbagai berita yang bertopik sama melalui membaca intensif 4
11.2 Menemukan informasi untuk bahan diskusi melalui membaca intensif 4
11.3 Membacakan teks berita dengan intonasi yang tepat serta artikulasi dan volume suara yang keras 4
Ulangan Harian 1 2
2 12.1 Menulis rangkuman buku ilmu pengetahuan populer 4
12.2 Menulis teks berita secara singkat, padat, dan jelas 4
12.3 Menulis slogan/poster untuk berbagai keperluan dengan pilihan berita 2
3 13.1 Mengidentifikasi karakter tokoh novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan 2
Ulangan Mid Semester 4
13.2 Menjelaskan tema dan latar novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan 4
13.3 Mendeskripsikan alur novel remaja (asli atau terjemahan) yang dibacakan 2
Ulangan Harian 2
14.1 Mengomentari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan) 2
14.2 Menanggapi hal yang menarik dari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan) 4
4 15.1 Menjelaskan alur cerita, pelaku dan latar novel remaja (asli atau terjemahan) 4
15.2 Mengenali ciri-ciri umum puisi dari buku antologi puisi 4
16.1 Menulis puisi bebas dengan pilihan kata yang sesuai 4
16.2 Menulis puisi bebas dengan memperhatikan persajakan 2
Ulangan Harian 3 2
Cadangan 4
Mengetahui, Jakarta, Juli 2007
Kepala SMP Negeri 275 Jakarta Guru Mata Pelajaran
Dra.Hj.Adriati,M.M. Dra.Hj.Adriati,M.M.
NIP.131265285 NIP.13126528
Rabu, 30 November 2011
cerpen ku
Nama: NIla Sari Hutasuhut
Nim: 209411018
Kelas: Dik. A REguler ‘09
SAHABATKU JUGA KELUARGAKU
Satu demi satu, motor yang terparkir di garasi samping rumah aku keluarkan ke teras depan. Memang hari masih pagi, teman-teman yang lain masih tertidur dengan pulasnya. Kecuali Nur yang semenjak shubuh tadi pergi untuk mengantar koran, dia memang nyambi kerja sebagai loper koran. Jam di dinding masih menjukkan pukul enam kurang lima belas menit. Tak mengherankan memang, tadi malam kita begadangan sampai adzan shubuh terdengar. Entah mengapa, tiba-tiba kami berkeinginan untuk sekedar berbagi cerita. Sesuatu yang sudah mulai jarang kita lakukan. Terutama ketika berbagai macam laporan sudah mulai menerjang tanpa henti. Memang berbagi cerita menjadi hal yang sering kami lakukan ketika memasuki masa awal-awal kuliah.
Kami tinggal berenam di rumah kontrakan ini. Aku dan tiga temanku, Lamsa, Lili dan Evi, memang sudah sahabat lama. Kami berteman semenjak masih duduk di bangku SMA. Sedangkan satu orang yang lain, Siti, adalah teman kuliahku satu angkatan dan satunya lagi, Nur, teman kuliah dari Lili. Nur dan Siti sebenarnya kami ajak tinggal di kontrakan ini hanya untuk memenuhi kuota dan memperingan biaya urunan kontrakan. Lumayan, kami mengontrak rumah mungil dengan tiga kamar ini empat juta pertahunnya. Kami sudah terhitung satu tahun lewat delapan bulan tinggal di rumah ini.
Pertama kali memang hubungan antara kami berempat dengan Siti dan Nur kurang begitu dekat. Namun seiring berjalannya waktu, mereka berdua pun akhirnya bisa dekat dengan kami berempat. Semenjak itulah, kami berenam suka berbagi cerita. Kami berenam kebetulan sama-sama kuliah di UNIMED Aku dan Siti kebetulan kuliah di Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas FBS. Lili dan Nur kuliah di Jurusan Biologi, Fakultas FMIPA. Sedangkan Lamsa kuliah di FIS dan Evi kuliah di FIK.
Tadi malam sebenarnya kejadian tersebut berlangsung mengalir. Berawal dari aku dan Siti nonton bareng pertandingan sepakbola Liga Inggris antara Chelsea lawan Manchester United. Kebetulan aku penggemar berat Chelsea, sedangkan Siti penggemar berat Manchester United. Agar suasana nonton jadi lebih seru, kami bertaruh kecil-kecilan. Yang menang dapat jatah dipijat oleh yang kalah. Seusai nonton, kami berdua memasak mie, yang ternyata diikuti oleh yang lainnya, kecuali oleh Nur. Memang selama beberapa hari ini, Nur terlihat murung dan suka menyendiri.
Beberapa kali kami secara bergantian bertanya, namun tak satupun jawaban kami dapat. Acara makan mie bersama akhirnya berlanjut menjadi acara curhat bersama. Mulai dari praktikum yang gagal, dosen yang galak, makanan di kantin kampus yang semakin hari semakin mahal, sampai kisah cinta Siti yang selalu kandas sebelum sempat “proklamasi”. Selama kami curhat, Nur memilih untuk tiduran di kamarnya. Tak bergabung dengan kami. Sampai akhirnya, Lili yang sekamar dengan Nur, lebih memilih tidur di karpet ruang tengah. Sesuai kesepakatan tadi malam, hari ini kami berencana untuk jalan-jalan bersama ke pantai. Meskipun hari minggu, kami kesulitan untuk bisa menghabiskan hari bersama seperti ini. Kami berenam, memang punya aktifitas lain di luar kuliah. Aku, Nur, Lili dan Evi memilih untuk aktif di lembaga intra kampus. Sedangkan Siti dan Lamsa memilih aktif di lembaga ekstra kampus. Rencana dadakan jalan-jalan ke pantai hari ini saja, membuat kami harus menunda agenda masing-masing.
Hari ini saja, aku sudah berjanji dengan teman-teman kampus untuk memperbaiki majalah dinding. Tak apalah, sekali-kali kita perlu untuk sekedar menyenangkan diri sendiri. Akhirnya pada pukul sepuluh kurang lima menit, kami berangkat menuju pantai Putra Deli. Pantai Putra Deli terletak di sebelah barat Pantai Gudang Garam. Di Pantai Putra Deli juga terdapat Tempat Pelelangan Ikan. Sempat kami mengajak Nur ikut serta, tetapi ia enggan untuk ikut. Nur lebih memilih tinggal di kontrakan. “Biar saya di sini saja, jaga kontrakan. Khawatir kalau ada apa-apa”, jawabnya. Dengan tiga motor kami berangkat bersama-sama. Memang, keluarga Nur termasuk keluarga kurang mampu. Nur bisa kuliah di UNIMED juga karena beasiswa. Uang kirimannya sangat terbatas, bahkan untuk makan sehari-hari saja kurang. Membeli buku adalah sesuatu yang sangat istimewa baginya. Untunglah, Siti yang orang tuanya relatif berada, mempunyai sepeda onthel yang jarang ia pakai. Sepeda tersebut akhirnya ia berikan pada Nur, karena Siti sendiri juga membawa motor. Bagi Nur, sepeda sudah lebih dari cukup.
Dengan mempunyai sepeda, ia tak perlu mengeluarkan biaya transport ke kampus. Semenjak mengetahui kondisi keluarganya, kami tak pernah lagi meminta Nur untuk ikut urunan biaya listrik dan air bulanan. Sekitar pukul setengah dua belas, kami sampai di Pantai Putra Deli. Hari ini sangat cerah. Kami memutuskan untuk duduk-duduk terlebih dahulu di sisi barat pantai. Kurang lebih selama satu jam kami bermain-main layaknya anak kecil. Bodoh amat dengan komentar orang, yang penting hari ini memang kami gunakan untuk bersenang-senang. Setelah kelelahan, kami memilih untuk memesan makanan di salah satu warung. Sembari makan, kami membicarakan tentang apa yang terjadi tentang Nur. Jujur saja, aku sendiri merasa risih dan kurang nyaman dengan sikap Nur akhir-akhir ini. Ternyata apa yang kurasakan tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh teman-teman yang lain.
“Beberapa hari yang lalu, sebelum tidur, aku pernah coba tanya pada Nur. Kamu kenapa? Kok kelihatannya murung dan agak pucat?”, ucap Lili. “Dia hanya menjawab. Nggak papa kok. Paling-paling cuma maag-ku lagi kumat. Sudahlah gak usah dipikirin. Ntar paling sembuh-sembuh sendiri. Udah ah, aku ngantuk banget.”, lanjut Lili. “Aku juga pernah tanya. Tapi yang gitu itu. Dia nggak ngomong apa-apa. Ditanya baik-baik, eh … dia malah mlengos. Kalau bukan temen sendiri udah aku damprat.”, tambah Siti. “Kelihatannya dia punya masalah. Tapi nggak mau ngomong ke kita. Mungkin dia minder atau sudah merasa nggak enak ssama kita. Kan semenjak kita tahu kondisi keuangannya, kita nggak pernah minta ke dia uang urunan listrik dan air.”, komentar Lamsa. “Ya nggak bisa gitu, dong. Temen, ya temen. Kita kan sudah seperti keluarga sendiri. Kalau ada masalah, ya ngomong. Siapa tahu kita bisa bantu. Kayak sama orang lain saja.”, keluh Evi. “Aku dulu pas waktu nabrak Udin, kan juga ngomong sama kalian.
Akhirnya kita urunan untuk biaya rumah sakit Udin.”, tambah Evi. “Iya. Tapi kamu untung, kita-kita yang buntung. Kamu yang nabrak orang, kita yang ikutan kena getahnya. Udah gitu, yang ditabrak malah kamu jadiin pacar. Mrongos kita…”, timpal Lili. Kami pun tertawa. Memang pernah pada suatu ketika. Evi menabrak seorang pria yang sedang menyeberang. Walau pelan, namun tak ayal membuat pria tersebut tangannya patah. Karena waktu itu dalam kondisi mendesak, kami akhirnya memutuskan untuk urunan menutupi biaya operasi pria tersebut. Sampai-sampai pada waktu itu Nur merelakan sebagian besar uang jatah bulanan dari beasiswanya.
Memang pria yang ditabrak Evi wajahnya cukup ganteng bagi kebanyakan orang. Dengan alasan agar terlihat bertanggung jawab, Evi sering menengok pria yang ditabraknya itu. Pria itu ternyata karyawan baru FMIPA dan bernama Udin. Karena sering bertemu, lama kelamaan mereka berdua pun jadian. Kata orang, itu sengsara membawa nikmat. Pembicaraan kami mengenai Nur pun berlanjut. Sampai akhirnya kami sepakat, malam nanti kami akan menyIsdangnya. Terlihat kasar memang, namun apa boleh buat. Hanya itulah alternatif penyelesaian yang tersisa. Tak lupa pula, lima kilogram ikan segar kami bawa sebagai oleh-oleh.
Tentu bukan untuk untuk Udin, tetapi untuk Bu Isda, tetangga depan kami sekaligus pemilik rumah yang kami kontrak. Yang selama ini sudah kami anggap seperti ibu sendiri. Bu Isda memang jago masak. Balado ikannya memang dahsyat. Tak terasa satu piring nasi sudah memenuhi perutku. Teman-teman yang lain juga sampai kekenyangan. Tinggal Nur saja yang belum mencicipi balado ikan Bu Isda. Bu Isda hanya senyam-senyum saja melihat kelakuan kami. Kebetulan waktu itu, Bu Isda mengajak kami makan di rumahnya. Beliau juga sempat menanyakan, mengapa Nur nggak ikut makan di tempatnya. Seusai ngobrol sejenak, kami pun kembali ke kontrakan.
Kelihatannya ini adalah waktu yang tepat untuk melaksanakan rencana kami tadi siang. Memang pertama kali Nur terlihat malas sekali, namun karena kami memaksa akhirnya ia mau juga. “Ma, kita ini berteman walau nggak begitu lama, tapi juga nggak bisa dihitung sebentar. Kita ini sudah seperti keluarga. Masalah satu orang, juga merupakan masalah bagi yang lain. Kita ini saling bantu. Jujur, kami merasa risih dan nggak nyaman dengan sikapmu akhir-akhir ini. Walau kamu masih tetap menjalankan tugas piket harian, tapi bukan hanya itu yang kami minta. Dengan sikpamu selama ini kami merasa semakin nggak nyaman tinggal di sini. Kayak ada orang lain saja yang tinggal di sini. Selama beberapa hari ini, kalau kamu pergi juga nggak pernah bilang kemana, pulang jam berapa. Pulang-pulang juga begitu, masukin sepeda, trus langsung ke kamar, baca buku, nggak keluar-keluar seharian.
Keesokan harinya juga begitu, sepulang dari loper koran, mandi, trus plas… ilang entah kemana. Kayak nggak ada orang lain aja di sini.”, buka Evi. “Sebenarnya kamu ini kenapa? Ada masalah? Ngomong aja. Siapa tahu kita bisa bantu.”, tambah Lamsa. Suasana berubah menjadi hening sejenak, Nur hanya bisa terdiam dan tertunduk lesu. Air mata terlihat mulai meleleh di pipinya. Dengan terbata ia menjawab, “Jujur, aku beberapa hari ini instropeksi diri. Aku merasa nggak enak dengan kalian. Selama ini aku nggak pernah ikut urunan bayar listrik dan air. Mungkin bagi kalian nggak papa, tapi aku merasa nggak enak. Trus kemudian beberapa hari yang lalu aku dapat kabar dari rumah.
Tahun depan kelihatannya aku nggak bisa bayar kontrakan, karena nggak ada jatah dari orang tuaku. Uang jatah kontrakanku akan dipakai untuk biaya adikku yang mau masuk SMA. Aku bingung harus cari uang darimana untuk bayar uang kontrakan. Uang kiriman ditambah honor loper koran ditambah dengan jatah bulanan dari beasiswaku juga habis untuk makan sehari-hari. Sedangkan honor dari ngirim tulisan ke koran juga nggak tentu. Jujur, aku jadi bingung.” “Ma, kami semua tahu bagaimana kondisi ekonomi keluargamu. Kami sudah maklum dengan itu. Kalau memang kamu nggak bisa urunan lagi untuk bayar kontrakan tahun depan, ya sudah, nggak papa.
Santai aja. Kita-kita nggak keberatan kalau harus menutupi bagianmu. Untuk tahun depan, kamu nggak bisa urunan nggak papa. Kamu tetap tinggal di sini. Ntar bagianmu biar aku yang tanggung.”, timpal Siti. “Jujur, Van. Aku makin nggak enak sama kamu. Sepeda yang aku pakai sehari-hari itu juga punyamu. Trus ini ditambah kamu bayarin jatah kontrakanku. Itu uang orang tuamu, bukan uangmu.”, elak Nur. “Ma, uang itu cuman titipan dari Tuhan. Bukan orang tuaku atau aku yang punya. Kamu nggak usah merasa nggak enak begitu. Toh semenjak tinggal serumah dengan kamu aku juga banyak belajar dari kamu. Bagaimana caranya bisa hidup prihatin dan hidup hemat. Jujur saja, mungkin kalau nggak kenal kamu, mungkin tabunganku nggak akan pernah sebesar seperti sekarang ini.
Dulu sewaktu aku SMA, aku boros banget. Sehari aku bisa menghabiskan seratus ribu hanya untuk nongkrong nggak jelas ngapain dengan teman-temanku. Sekarang uang segitu bisa aku buat hidup selama tiga-empat hari. Itu juga karena kamu yang ngajari aku. Mana yang benar-benar kebutuhan, mana yang hanya sekedar keinginan, bagaimana menentukan skala prioritas. Apa yang aku pelajari dari kamu itu, kalau diuangkan nggak bakalan bisa keitung. Toh uang kiriman dari ortuku juga berlebih.”, jawab Siti. Pembicaraan kamipun mengalir, terlihat Nur sudah mulai semakin tenang. Nur yang ceria sudah mulai terlihat kembali.
Bersahabat bukanlah bisnis, yang bisa dihitung secara matematis, apakah kita untung atau rugi. Persahabatan takkan pernah bisa dihitung dengan uang. Bersahabat adalah hubungan antar manusia yang paling tulus, tanpa pamrih. Dengan sahabatlah kita berbagi suka dan duka, dari sahabatlah kita belajar tentang kehidupan. Malam itu kami berenam melaluinya dengan nonton bareng pertandingan sepakbola antara Arsenal melawan Tottenham Hotspur, the derby of North London. Untuk kali ini gantian Lamsa dengan Evi yang bertaruh. Lamsa menjagokan Arsenal sedangkan Evi merupakan penggemar berat Tottenham. Untuk kali ini, yang kalah bakalan dapat tugas masak untuk sarapan kita besok pagi. Itulah lika-liku kehidupanku di kontrakan.
Nim: 209411018
Kelas: Dik. A REguler ‘09
SAHABATKU JUGA KELUARGAKU
Satu demi satu, motor yang terparkir di garasi samping rumah aku keluarkan ke teras depan. Memang hari masih pagi, teman-teman yang lain masih tertidur dengan pulasnya. Kecuali Nur yang semenjak shubuh tadi pergi untuk mengantar koran, dia memang nyambi kerja sebagai loper koran. Jam di dinding masih menjukkan pukul enam kurang lima belas menit. Tak mengherankan memang, tadi malam kita begadangan sampai adzan shubuh terdengar. Entah mengapa, tiba-tiba kami berkeinginan untuk sekedar berbagi cerita. Sesuatu yang sudah mulai jarang kita lakukan. Terutama ketika berbagai macam laporan sudah mulai menerjang tanpa henti. Memang berbagi cerita menjadi hal yang sering kami lakukan ketika memasuki masa awal-awal kuliah.
Kami tinggal berenam di rumah kontrakan ini. Aku dan tiga temanku, Lamsa, Lili dan Evi, memang sudah sahabat lama. Kami berteman semenjak masih duduk di bangku SMA. Sedangkan satu orang yang lain, Siti, adalah teman kuliahku satu angkatan dan satunya lagi, Nur, teman kuliah dari Lili. Nur dan Siti sebenarnya kami ajak tinggal di kontrakan ini hanya untuk memenuhi kuota dan memperingan biaya urunan kontrakan. Lumayan, kami mengontrak rumah mungil dengan tiga kamar ini empat juta pertahunnya. Kami sudah terhitung satu tahun lewat delapan bulan tinggal di rumah ini.
Pertama kali memang hubungan antara kami berempat dengan Siti dan Nur kurang begitu dekat. Namun seiring berjalannya waktu, mereka berdua pun akhirnya bisa dekat dengan kami berempat. Semenjak itulah, kami berenam suka berbagi cerita. Kami berenam kebetulan sama-sama kuliah di UNIMED Aku dan Siti kebetulan kuliah di Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas FBS. Lili dan Nur kuliah di Jurusan Biologi, Fakultas FMIPA. Sedangkan Lamsa kuliah di FIS dan Evi kuliah di FIK.
Tadi malam sebenarnya kejadian tersebut berlangsung mengalir. Berawal dari aku dan Siti nonton bareng pertandingan sepakbola Liga Inggris antara Chelsea lawan Manchester United. Kebetulan aku penggemar berat Chelsea, sedangkan Siti penggemar berat Manchester United. Agar suasana nonton jadi lebih seru, kami bertaruh kecil-kecilan. Yang menang dapat jatah dipijat oleh yang kalah. Seusai nonton, kami berdua memasak mie, yang ternyata diikuti oleh yang lainnya, kecuali oleh Nur. Memang selama beberapa hari ini, Nur terlihat murung dan suka menyendiri.
Beberapa kali kami secara bergantian bertanya, namun tak satupun jawaban kami dapat. Acara makan mie bersama akhirnya berlanjut menjadi acara curhat bersama. Mulai dari praktikum yang gagal, dosen yang galak, makanan di kantin kampus yang semakin hari semakin mahal, sampai kisah cinta Siti yang selalu kandas sebelum sempat “proklamasi”. Selama kami curhat, Nur memilih untuk tiduran di kamarnya. Tak bergabung dengan kami. Sampai akhirnya, Lili yang sekamar dengan Nur, lebih memilih tidur di karpet ruang tengah. Sesuai kesepakatan tadi malam, hari ini kami berencana untuk jalan-jalan bersama ke pantai. Meskipun hari minggu, kami kesulitan untuk bisa menghabiskan hari bersama seperti ini. Kami berenam, memang punya aktifitas lain di luar kuliah. Aku, Nur, Lili dan Evi memilih untuk aktif di lembaga intra kampus. Sedangkan Siti dan Lamsa memilih aktif di lembaga ekstra kampus. Rencana dadakan jalan-jalan ke pantai hari ini saja, membuat kami harus menunda agenda masing-masing.
Hari ini saja, aku sudah berjanji dengan teman-teman kampus untuk memperbaiki majalah dinding. Tak apalah, sekali-kali kita perlu untuk sekedar menyenangkan diri sendiri. Akhirnya pada pukul sepuluh kurang lima menit, kami berangkat menuju pantai Putra Deli. Pantai Putra Deli terletak di sebelah barat Pantai Gudang Garam. Di Pantai Putra Deli juga terdapat Tempat Pelelangan Ikan. Sempat kami mengajak Nur ikut serta, tetapi ia enggan untuk ikut. Nur lebih memilih tinggal di kontrakan. “Biar saya di sini saja, jaga kontrakan. Khawatir kalau ada apa-apa”, jawabnya. Dengan tiga motor kami berangkat bersama-sama. Memang, keluarga Nur termasuk keluarga kurang mampu. Nur bisa kuliah di UNIMED juga karena beasiswa. Uang kirimannya sangat terbatas, bahkan untuk makan sehari-hari saja kurang. Membeli buku adalah sesuatu yang sangat istimewa baginya. Untunglah, Siti yang orang tuanya relatif berada, mempunyai sepeda onthel yang jarang ia pakai. Sepeda tersebut akhirnya ia berikan pada Nur, karena Siti sendiri juga membawa motor. Bagi Nur, sepeda sudah lebih dari cukup.
Dengan mempunyai sepeda, ia tak perlu mengeluarkan biaya transport ke kampus. Semenjak mengetahui kondisi keluarganya, kami tak pernah lagi meminta Nur untuk ikut urunan biaya listrik dan air bulanan. Sekitar pukul setengah dua belas, kami sampai di Pantai Putra Deli. Hari ini sangat cerah. Kami memutuskan untuk duduk-duduk terlebih dahulu di sisi barat pantai. Kurang lebih selama satu jam kami bermain-main layaknya anak kecil. Bodoh amat dengan komentar orang, yang penting hari ini memang kami gunakan untuk bersenang-senang. Setelah kelelahan, kami memilih untuk memesan makanan di salah satu warung. Sembari makan, kami membicarakan tentang apa yang terjadi tentang Nur. Jujur saja, aku sendiri merasa risih dan kurang nyaman dengan sikap Nur akhir-akhir ini. Ternyata apa yang kurasakan tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan oleh teman-teman yang lain.
“Beberapa hari yang lalu, sebelum tidur, aku pernah coba tanya pada Nur. Kamu kenapa? Kok kelihatannya murung dan agak pucat?”, ucap Lili. “Dia hanya menjawab. Nggak papa kok. Paling-paling cuma maag-ku lagi kumat. Sudahlah gak usah dipikirin. Ntar paling sembuh-sembuh sendiri. Udah ah, aku ngantuk banget.”, lanjut Lili. “Aku juga pernah tanya. Tapi yang gitu itu. Dia nggak ngomong apa-apa. Ditanya baik-baik, eh … dia malah mlengos. Kalau bukan temen sendiri udah aku damprat.”, tambah Siti. “Kelihatannya dia punya masalah. Tapi nggak mau ngomong ke kita. Mungkin dia minder atau sudah merasa nggak enak ssama kita. Kan semenjak kita tahu kondisi keuangannya, kita nggak pernah minta ke dia uang urunan listrik dan air.”, komentar Lamsa. “Ya nggak bisa gitu, dong. Temen, ya temen. Kita kan sudah seperti keluarga sendiri. Kalau ada masalah, ya ngomong. Siapa tahu kita bisa bantu. Kayak sama orang lain saja.”, keluh Evi. “Aku dulu pas waktu nabrak Udin, kan juga ngomong sama kalian.
Akhirnya kita urunan untuk biaya rumah sakit Udin.”, tambah Evi. “Iya. Tapi kamu untung, kita-kita yang buntung. Kamu yang nabrak orang, kita yang ikutan kena getahnya. Udah gitu, yang ditabrak malah kamu jadiin pacar. Mrongos kita…”, timpal Lili. Kami pun tertawa. Memang pernah pada suatu ketika. Evi menabrak seorang pria yang sedang menyeberang. Walau pelan, namun tak ayal membuat pria tersebut tangannya patah. Karena waktu itu dalam kondisi mendesak, kami akhirnya memutuskan untuk urunan menutupi biaya operasi pria tersebut. Sampai-sampai pada waktu itu Nur merelakan sebagian besar uang jatah bulanan dari beasiswanya.
Memang pria yang ditabrak Evi wajahnya cukup ganteng bagi kebanyakan orang. Dengan alasan agar terlihat bertanggung jawab, Evi sering menengok pria yang ditabraknya itu. Pria itu ternyata karyawan baru FMIPA dan bernama Udin. Karena sering bertemu, lama kelamaan mereka berdua pun jadian. Kata orang, itu sengsara membawa nikmat. Pembicaraan kami mengenai Nur pun berlanjut. Sampai akhirnya kami sepakat, malam nanti kami akan menyIsdangnya. Terlihat kasar memang, namun apa boleh buat. Hanya itulah alternatif penyelesaian yang tersisa. Tak lupa pula, lima kilogram ikan segar kami bawa sebagai oleh-oleh.
Tentu bukan untuk untuk Udin, tetapi untuk Bu Isda, tetangga depan kami sekaligus pemilik rumah yang kami kontrak. Yang selama ini sudah kami anggap seperti ibu sendiri. Bu Isda memang jago masak. Balado ikannya memang dahsyat. Tak terasa satu piring nasi sudah memenuhi perutku. Teman-teman yang lain juga sampai kekenyangan. Tinggal Nur saja yang belum mencicipi balado ikan Bu Isda. Bu Isda hanya senyam-senyum saja melihat kelakuan kami. Kebetulan waktu itu, Bu Isda mengajak kami makan di rumahnya. Beliau juga sempat menanyakan, mengapa Nur nggak ikut makan di tempatnya. Seusai ngobrol sejenak, kami pun kembali ke kontrakan.
Kelihatannya ini adalah waktu yang tepat untuk melaksanakan rencana kami tadi siang. Memang pertama kali Nur terlihat malas sekali, namun karena kami memaksa akhirnya ia mau juga. “Ma, kita ini berteman walau nggak begitu lama, tapi juga nggak bisa dihitung sebentar. Kita ini sudah seperti keluarga. Masalah satu orang, juga merupakan masalah bagi yang lain. Kita ini saling bantu. Jujur, kami merasa risih dan nggak nyaman dengan sikapmu akhir-akhir ini. Walau kamu masih tetap menjalankan tugas piket harian, tapi bukan hanya itu yang kami minta. Dengan sikpamu selama ini kami merasa semakin nggak nyaman tinggal di sini. Kayak ada orang lain saja yang tinggal di sini. Selama beberapa hari ini, kalau kamu pergi juga nggak pernah bilang kemana, pulang jam berapa. Pulang-pulang juga begitu, masukin sepeda, trus langsung ke kamar, baca buku, nggak keluar-keluar seharian.
Keesokan harinya juga begitu, sepulang dari loper koran, mandi, trus plas… ilang entah kemana. Kayak nggak ada orang lain aja di sini.”, buka Evi. “Sebenarnya kamu ini kenapa? Ada masalah? Ngomong aja. Siapa tahu kita bisa bantu.”, tambah Lamsa. Suasana berubah menjadi hening sejenak, Nur hanya bisa terdiam dan tertunduk lesu. Air mata terlihat mulai meleleh di pipinya. Dengan terbata ia menjawab, “Jujur, aku beberapa hari ini instropeksi diri. Aku merasa nggak enak dengan kalian. Selama ini aku nggak pernah ikut urunan bayar listrik dan air. Mungkin bagi kalian nggak papa, tapi aku merasa nggak enak. Trus kemudian beberapa hari yang lalu aku dapat kabar dari rumah.
Tahun depan kelihatannya aku nggak bisa bayar kontrakan, karena nggak ada jatah dari orang tuaku. Uang jatah kontrakanku akan dipakai untuk biaya adikku yang mau masuk SMA. Aku bingung harus cari uang darimana untuk bayar uang kontrakan. Uang kiriman ditambah honor loper koran ditambah dengan jatah bulanan dari beasiswaku juga habis untuk makan sehari-hari. Sedangkan honor dari ngirim tulisan ke koran juga nggak tentu. Jujur, aku jadi bingung.” “Ma, kami semua tahu bagaimana kondisi ekonomi keluargamu. Kami sudah maklum dengan itu. Kalau memang kamu nggak bisa urunan lagi untuk bayar kontrakan tahun depan, ya sudah, nggak papa.
Santai aja. Kita-kita nggak keberatan kalau harus menutupi bagianmu. Untuk tahun depan, kamu nggak bisa urunan nggak papa. Kamu tetap tinggal di sini. Ntar bagianmu biar aku yang tanggung.”, timpal Siti. “Jujur, Van. Aku makin nggak enak sama kamu. Sepeda yang aku pakai sehari-hari itu juga punyamu. Trus ini ditambah kamu bayarin jatah kontrakanku. Itu uang orang tuamu, bukan uangmu.”, elak Nur. “Ma, uang itu cuman titipan dari Tuhan. Bukan orang tuaku atau aku yang punya. Kamu nggak usah merasa nggak enak begitu. Toh semenjak tinggal serumah dengan kamu aku juga banyak belajar dari kamu. Bagaimana caranya bisa hidup prihatin dan hidup hemat. Jujur saja, mungkin kalau nggak kenal kamu, mungkin tabunganku nggak akan pernah sebesar seperti sekarang ini.
Dulu sewaktu aku SMA, aku boros banget. Sehari aku bisa menghabiskan seratus ribu hanya untuk nongkrong nggak jelas ngapain dengan teman-temanku. Sekarang uang segitu bisa aku buat hidup selama tiga-empat hari. Itu juga karena kamu yang ngajari aku. Mana yang benar-benar kebutuhan, mana yang hanya sekedar keinginan, bagaimana menentukan skala prioritas. Apa yang aku pelajari dari kamu itu, kalau diuangkan nggak bakalan bisa keitung. Toh uang kiriman dari ortuku juga berlebih.”, jawab Siti. Pembicaraan kamipun mengalir, terlihat Nur sudah mulai semakin tenang. Nur yang ceria sudah mulai terlihat kembali.
Bersahabat bukanlah bisnis, yang bisa dihitung secara matematis, apakah kita untung atau rugi. Persahabatan takkan pernah bisa dihitung dengan uang. Bersahabat adalah hubungan antar manusia yang paling tulus, tanpa pamrih. Dengan sahabatlah kita berbagi suka dan duka, dari sahabatlah kita belajar tentang kehidupan. Malam itu kami berenam melaluinya dengan nonton bareng pertandingan sepakbola antara Arsenal melawan Tottenham Hotspur, the derby of North London. Untuk kali ini gantian Lamsa dengan Evi yang bertaruh. Lamsa menjagokan Arsenal sedangkan Evi merupakan penggemar berat Tottenham. Untuk kali ini, yang kalah bakalan dapat tugas masak untuk sarapan kita besok pagi. Itulah lika-liku kehidupanku di kontrakan.
suku nias
Masyarakat dan Kebudayaan "Suku Nias" di Pulau Nias
Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah).
1) Sejarah Kebudayaan Suku Nias
Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.
2) Mitologi
Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.
3) Penelitian Arkeologi
Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan hasilnya ada yang dimuat di Tempointeraktif, Sabtu 25 November 2006 dan di Kompas, Rabu 4 Oktober 2006 Rubrik Humaniora menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.
4) Marga Nias
Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga umumnya berasal dari kampung-kampung pemukiman yang ada.
5) Makana dan Minuman Khas Nias
a) Makanan Khas
• Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)
• Harinake (daging Babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil)
• Godo-godo (ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)
• köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap)
• Ni'owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan lama)
• raki gae (pisang goreng)
• tamboyo (ketupat)
• loma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu)
2. Minuman Khas
• Tuo Nifarö (minuman yang berasal dari air sadapan pohon nira (dalam bahasa Nias "Pohon Nira" = "töla nakhe") yang telah diolah dengan cara penyulingan)
• Tuo mbanua (minuman tuak mentah yang berasal dari air sadapan pohon kelapa)
6) Budaya Nias
• Lompat Batu
• Tari Perang
• Maena
• Tari Moyo
• Tari Mogaele
• Sapaan Yaahowu
• Fame ono niahalo (pernikahan)
• Omohada (rumah adat)
• Fame'e toi nono nihalo(pemberian nama bagi perempuan yang sudah menikha)
Dalam budaya Ono Niha terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.
7) Pakaian Adat Suku Nias
Pakaian adat suku Nias dinamakan Baru Oholu untuk pakaian laki-laki dan Õröba Si’öli untuk pakaian perempuan. Pakaian adat tersebut biasanya berwarna emas atau kuning yang dipadukan dengan warna lain seperti hitam, merah, dan putih. Adapun filosofi dari warna itu sendiri antara lain:
• Warna kuning yang dipadukan dengan corak persegi empat (Ni’obakola) dan pola bunga kapas (Ni’obowo gafasi) sering dipakai oleh para bangsawan untuk menggambarkan kejayaan kekuasaan, kekayaan, kemakmuran dan kebesaran.
• Warna merah yang dipadukan dengan corak segi-tiga (Ni’ohulayo/ ni’ogöna) sering dikenakan oleh prajurit untuk menggambarkan darah, keberanian dan kapabilitas para prajurit.
• Warna hitam yang sering dikenakan oleh rakyat tani menggambarkan situasi kesedihan, ketabahan dan kewaspadaan.
• Warna putih yang sering dikenakan oleh para pemuka agama kuno (Ere) menggambarkan kesucian, kemurnian dan kedamaian.
Pendapat Saya :
Pulau nias sebagai pulau utama dengan luas sekitar 5.500 kilometer persegi, menyimpan sejumlah misteri dan keunikan, mulai dari kehidupan sehari-hari didesa tradisional, suasana budaya (cultural landscape) hingga peninggalan megalitik dan arsitektur yang mengagumkan.
Masyarakat nias secara turun temurun menyebut diri sebagai one niba (orang nias) secara harafiah berarti anak manusia yang diyakini oleh sebagian ahli antropologi dan arkeologi sebagai salah satu puak-puak (suku) berbahasa Austronesia—salah satu leluhur nusantara yang datang paling awal dari suatu tempat di daratan asia.
Berdasarkan sejumlah bukti peradaban tertua, orang nias dihubungkan dengan perkembangan tradisi megalitik (batu besar) yang hingga saat ini masih terlihat keberadaannya. Tinggalan-tinggalan para leluhur seperti rumah adat, tradisi lompat batu, dan tari perang telah menjadi ikon peristiwa yang luluh lantak. Terlebih lagi setelah tertimpa dua bencana : gelombang tsunami pada 2004 dan gempa bumi pada 2005. untuk mengembalikan kejayaan seperti sedia kala, sejumlah pihak telah berupaya membangun kembali nias dengan berbasiskan nilai-nilai budaya yang kini terancam lenyap.
Desa-desa tradisional di pulau nias, yang masih menyimpan sejumlah tinggalan budaya dan para penutur sejarah, dapat menjadi pilihan wisata yang menarik bagi para tetamu yang datang dari jauh. Harapannya, selain menjalankan roda perekonomian Pulau Nias, kegiatan ini mampu mengembalikan kecintaan pada nilai-nilai tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.
Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah).
1) Sejarah Kebudayaan Suku Nias
Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.
2) Mitologi
Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.
3) Penelitian Arkeologi
Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan hasilnya ada yang dimuat di Tempointeraktif, Sabtu 25 November 2006 dan di Kompas, Rabu 4 Oktober 2006 Rubrik Humaniora menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.
4) Marga Nias
Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga umumnya berasal dari kampung-kampung pemukiman yang ada.
5) Makana dan Minuman Khas Nias
a) Makanan Khas
• Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)
• Harinake (daging Babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil)
• Godo-godo (ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)
• köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap)
• Ni'owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan lama)
• raki gae (pisang goreng)
• tamboyo (ketupat)
• loma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu)
2. Minuman Khas
• Tuo Nifarö (minuman yang berasal dari air sadapan pohon nira (dalam bahasa Nias "Pohon Nira" = "töla nakhe") yang telah diolah dengan cara penyulingan)
• Tuo mbanua (minuman tuak mentah yang berasal dari air sadapan pohon kelapa)
6) Budaya Nias
• Lompat Batu
• Tari Perang
• Maena
• Tari Moyo
• Tari Mogaele
• Sapaan Yaahowu
• Fame ono niahalo (pernikahan)
• Omohada (rumah adat)
• Fame'e toi nono nihalo(pemberian nama bagi perempuan yang sudah menikha)
Dalam budaya Ono Niha terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.
7) Pakaian Adat Suku Nias
Pakaian adat suku Nias dinamakan Baru Oholu untuk pakaian laki-laki dan Õröba Si’öli untuk pakaian perempuan. Pakaian adat tersebut biasanya berwarna emas atau kuning yang dipadukan dengan warna lain seperti hitam, merah, dan putih. Adapun filosofi dari warna itu sendiri antara lain:
• Warna kuning yang dipadukan dengan corak persegi empat (Ni’obakola) dan pola bunga kapas (Ni’obowo gafasi) sering dipakai oleh para bangsawan untuk menggambarkan kejayaan kekuasaan, kekayaan, kemakmuran dan kebesaran.
• Warna merah yang dipadukan dengan corak segi-tiga (Ni’ohulayo/ ni’ogöna) sering dikenakan oleh prajurit untuk menggambarkan darah, keberanian dan kapabilitas para prajurit.
• Warna hitam yang sering dikenakan oleh rakyat tani menggambarkan situasi kesedihan, ketabahan dan kewaspadaan.
• Warna putih yang sering dikenakan oleh para pemuka agama kuno (Ere) menggambarkan kesucian, kemurnian dan kedamaian.
Pendapat Saya :
Pulau nias sebagai pulau utama dengan luas sekitar 5.500 kilometer persegi, menyimpan sejumlah misteri dan keunikan, mulai dari kehidupan sehari-hari didesa tradisional, suasana budaya (cultural landscape) hingga peninggalan megalitik dan arsitektur yang mengagumkan.
Masyarakat nias secara turun temurun menyebut diri sebagai one niba (orang nias) secara harafiah berarti anak manusia yang diyakini oleh sebagian ahli antropologi dan arkeologi sebagai salah satu puak-puak (suku) berbahasa Austronesia—salah satu leluhur nusantara yang datang paling awal dari suatu tempat di daratan asia.
Berdasarkan sejumlah bukti peradaban tertua, orang nias dihubungkan dengan perkembangan tradisi megalitik (batu besar) yang hingga saat ini masih terlihat keberadaannya. Tinggalan-tinggalan para leluhur seperti rumah adat, tradisi lompat batu, dan tari perang telah menjadi ikon peristiwa yang luluh lantak. Terlebih lagi setelah tertimpa dua bencana : gelombang tsunami pada 2004 dan gempa bumi pada 2005. untuk mengembalikan kejayaan seperti sedia kala, sejumlah pihak telah berupaya membangun kembali nias dengan berbasiskan nilai-nilai budaya yang kini terancam lenyap.
Desa-desa tradisional di pulau nias, yang masih menyimpan sejumlah tinggalan budaya dan para penutur sejarah, dapat menjadi pilihan wisata yang menarik bagi para tetamu yang datang dari jauh. Harapannya, selain menjalankan roda perekonomian Pulau Nias, kegiatan ini mampu mengembalikan kecintaan pada nilai-nilai tradisi yang diwariskan oleh para leluhur.
Minggu, 25 September 2011
artikel
Orientasi Hidup (Kehidupan Mahasiswa Saat Ini)
Nila Sari Hutasuhut
Abstrak
Bagaimanakah yang disebut hidup tanpa orientasi? Adakah memang kondisi yang demikian? Membiarkan hidup berlalu apa adanya. “Let it flow ajalah”, demikian kata beberapa orang. Ikut arus saja. Menikmati arah gerak angin kehidupan. Mencukupkan diri pada gerak gravitasi bumi, pergantian siang dan malam, menjalani hari-hari secara fun, menikmati tiap sisi duniawi tanpa perlu dipusingkan oleh kejadian-kejadian sekitar yang berpotensi mengusik kemapanan kondisi nyaman yang ditawarkan alam. Jika demikian, bagaimana dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Apakah mahasiswa juga membiarkan hidupnya berlalu begitu saja.
Kata kunci: Mahasiswa, Orientasi Hidup
Pendahuluan
Miris sekali ketika menyaksikan banyak diantara mahasiswa yang belum memiliki orientasi hidup. Hidup dijalankan dengan seadanya dan apa adanya saja. Mengikuti arus air yang mengalir tapi tidak tahu akan bermuara dimanakah air tersebut? Ya. Aku ingin berbicara terkait itu semua.
Inilah yang terjadi dalam kehidupan mahasiswa yang menjalani proses perjalanan kehidupannya di dunia. Banyak mahasiswa yang tidak mengetahui kemana tujuan yang hakiki dari akhir perjalanan hidupnya, kemudian tidak sedikit pula yang juga tidak mengetahui jalan mana yang harus ditempuh agar selamat sampai ke tujuan. Selain itu juga, mahasiswa tidak tahu aturan-aturan yang harus digunakan dalam menempuh jalan tersebut, atau katakanlah mahasiswa tahu bahwa ada peraturan yang dapat mengantarkannya ke jalan keselamatan, tetapi mahasiswa tersebut tidak dapat memahami bagaimana menggunakan peraturan itu dengan benar. Padahal, hakikat dari setiap perjalanan mahasiswa dalam perkulianhan adalah menambah wawasan dan pengetahuan
Pembahasan
Orientasi adalah arah, pandangan. Orientasi Hidup adalah arah atau pandangan kemana dan apa tujuan kehidupan. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (versi online) menyatakan : (1) peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yg tepat dan benar; (2) pandangan yg mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan.
Dalam perjalanan kehidupan mahasiswa termasuk saya, tujuan atau orientasi hidup merupakan satu hal yang sangat penting. Pernahkah mahasiswa bertanya pada diri sendiri apa tujuan hidup kita? Hendak kemanakah setelah kehidupan dunia ini berakhir?, lalu apa yang sudah dipersiapkan dalam menyambut kehidupan tersebut?, atau apa bekal untuk kehidupan selanjutnya?, cara apa yang sudah dilakukan dalam menempuh perjalanan tersebut?, petunjuk dan aturan apa yang digunakan dalam menempuh jalan tersebut?.
Tujuan akhir dari setiap mahasiswa adalah untuk mendapatkan ilmu yang dapat diaplikasikan kepada masyarakat, tetapi ada sebagian mahasiswa yang hanya ingin mengejar nilai yang artinya dia hanya belajar saat ujian tiba. Ada juga yang hanya mementingkan penampilannya saja. padahal kita sudah sama-sama mengetahui bahwa pendiknas hanya mengharapkan mahasiswa yang benar-benar mempunyai pengetahuan yang luas, dan dapat mengaplikasikannya dalam dunia pendidikan.
Masa kuliah merupakan masa yang paling indah bagi mahasiswa, jika mahasiswa yang menjalaninya dengan sabar dan tetap tawakkal, dan tidak pernah menganggap tugas-tugas kuliah sebagai beban dalam hidupnya. Jangan sampai masa kuliah yang sementara ini berakhir begitu saja tanpa ada tujuan yang dicapai. Sebagai seorang mahasiswa akan merasa hidupnya sia-sia jika masa kuliah dianggap sebagai beban yang sangat berat dalam hidupnya.
Padahal, hakikat dari setiap perjalanan mahasiswa dalam perkuliahan ini adalah menambah wawasan dan pengetahuan. Dan juga menjadikan mahasiswa lebih mandiri, dewasa, sehingga dia dapat menetukan tujuan dari hidupnya sendiri. Tetapi jika ditanya apakah mahasiswa tersebut sudah mengetahui apa orientasi hidupnya (tujuan hidupnya), lebih dari 50% yang menjawab tidak tahu atau pun bingun. Hal ini disebabkan karena ketidak seriusannya dalam belajar ataupun yang diminati sebelumnya adalah masuk di fakultas lain.
Jika mahasiswa kehilangan orientasi pada masa kuliah, baik secara individual maupun sosial, maka akan terjadi ketimpangan dalam kehidupannya. Mungkin ada di antara kita yang diciptakan dengan penuh keberhasilan secara materi, dikaruniai jabatan tinggi, karier yang selalu sukses, tapi jangan lupa, untuk apa semua karunia yang kita miliki itu?.
Oleh karena itu sepintar-pintar mahasiswa tidak akan berguna jika dia hanya mementingkan diri sendiri, atau tidak mengaplikasikannya kepada masyarakat ilmu yang dipeloreh tersebut tidak akan berkembang.
Penutup
Masa kuliah merupakan masa yang paling indah bagi mahasiswa, jika mahasiswa yang menjalaninya dengan sabar dan tetap tawakkal, dan tidak pernah menganggap tugas-tugas kuliah sebagai beban dalam hidupnya. Jangan sampai masa kuliah yang sementara ini berakhir begitu saja tanpa ada tujuan yang dicapai. Sebagai seorang mahasiswa akan merasa hidupnya sia-sia jika masa kuliah dianggap sebagai beban yang sangat berat dalam hidupnya.
Tujuan akhir dari setiap mahasiswa adalah untuk mendapatkan ilmu yang dapat diaplikasikan kepada masyarakat, tetapi ada sebagian mahasiswa yang hanya ingin mengejar nilai yang artinya dia hanya belajar saat ujian tiba. Ada juga yang hanya mementingkan penampilannya saja. padahal kita sudah sama-sama mengetahui bahwa pendiknas hanya mengharapkan mahasiswa yang benar-benar mempunyai pengetahuan yang luas, dan dapat mengaplikasikannya dalam dunia pendidikan.
Daftar Pustaka
http://taufiq.blog.unair.ac.id/2008/06/14/orientasi-yang-benar-dalam-hidup/
http://www.sabdaspace.com/kemana_tujuan_hidup_mu
http://risalahperjalanan.wordpress.com/2009/08/27/orientasi-hidup/
http://deasukata.blogspot.com/2011/02/orientasi-hidup.html
http://www.radarbanten.com/newversion/utama/2114-meluruskan-orientasi-hidup.html
Nila Sari Hutasuhut
Abstrak
Bagaimanakah yang disebut hidup tanpa orientasi? Adakah memang kondisi yang demikian? Membiarkan hidup berlalu apa adanya. “Let it flow ajalah”, demikian kata beberapa orang. Ikut arus saja. Menikmati arah gerak angin kehidupan. Mencukupkan diri pada gerak gravitasi bumi, pergantian siang dan malam, menjalani hari-hari secara fun, menikmati tiap sisi duniawi tanpa perlu dipusingkan oleh kejadian-kejadian sekitar yang berpotensi mengusik kemapanan kondisi nyaman yang ditawarkan alam. Jika demikian, bagaimana dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Apakah mahasiswa juga membiarkan hidupnya berlalu begitu saja.
Kata kunci: Mahasiswa, Orientasi Hidup
Pendahuluan
Miris sekali ketika menyaksikan banyak diantara mahasiswa yang belum memiliki orientasi hidup. Hidup dijalankan dengan seadanya dan apa adanya saja. Mengikuti arus air yang mengalir tapi tidak tahu akan bermuara dimanakah air tersebut? Ya. Aku ingin berbicara terkait itu semua.
Inilah yang terjadi dalam kehidupan mahasiswa yang menjalani proses perjalanan kehidupannya di dunia. Banyak mahasiswa yang tidak mengetahui kemana tujuan yang hakiki dari akhir perjalanan hidupnya, kemudian tidak sedikit pula yang juga tidak mengetahui jalan mana yang harus ditempuh agar selamat sampai ke tujuan. Selain itu juga, mahasiswa tidak tahu aturan-aturan yang harus digunakan dalam menempuh jalan tersebut, atau katakanlah mahasiswa tahu bahwa ada peraturan yang dapat mengantarkannya ke jalan keselamatan, tetapi mahasiswa tersebut tidak dapat memahami bagaimana menggunakan peraturan itu dengan benar. Padahal, hakikat dari setiap perjalanan mahasiswa dalam perkulianhan adalah menambah wawasan dan pengetahuan
Pembahasan
Orientasi adalah arah, pandangan. Orientasi Hidup adalah arah atau pandangan kemana dan apa tujuan kehidupan. Menurut Kamus Bahasa Indonesia (versi online) menyatakan : (1) peninjauan untuk menentukan sikap (arah, tempat, dsb) yg tepat dan benar; (2) pandangan yg mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan.
Dalam perjalanan kehidupan mahasiswa termasuk saya, tujuan atau orientasi hidup merupakan satu hal yang sangat penting. Pernahkah mahasiswa bertanya pada diri sendiri apa tujuan hidup kita? Hendak kemanakah setelah kehidupan dunia ini berakhir?, lalu apa yang sudah dipersiapkan dalam menyambut kehidupan tersebut?, atau apa bekal untuk kehidupan selanjutnya?, cara apa yang sudah dilakukan dalam menempuh perjalanan tersebut?, petunjuk dan aturan apa yang digunakan dalam menempuh jalan tersebut?.
Tujuan akhir dari setiap mahasiswa adalah untuk mendapatkan ilmu yang dapat diaplikasikan kepada masyarakat, tetapi ada sebagian mahasiswa yang hanya ingin mengejar nilai yang artinya dia hanya belajar saat ujian tiba. Ada juga yang hanya mementingkan penampilannya saja. padahal kita sudah sama-sama mengetahui bahwa pendiknas hanya mengharapkan mahasiswa yang benar-benar mempunyai pengetahuan yang luas, dan dapat mengaplikasikannya dalam dunia pendidikan.
Masa kuliah merupakan masa yang paling indah bagi mahasiswa, jika mahasiswa yang menjalaninya dengan sabar dan tetap tawakkal, dan tidak pernah menganggap tugas-tugas kuliah sebagai beban dalam hidupnya. Jangan sampai masa kuliah yang sementara ini berakhir begitu saja tanpa ada tujuan yang dicapai. Sebagai seorang mahasiswa akan merasa hidupnya sia-sia jika masa kuliah dianggap sebagai beban yang sangat berat dalam hidupnya.
Padahal, hakikat dari setiap perjalanan mahasiswa dalam perkuliahan ini adalah menambah wawasan dan pengetahuan. Dan juga menjadikan mahasiswa lebih mandiri, dewasa, sehingga dia dapat menetukan tujuan dari hidupnya sendiri. Tetapi jika ditanya apakah mahasiswa tersebut sudah mengetahui apa orientasi hidupnya (tujuan hidupnya), lebih dari 50% yang menjawab tidak tahu atau pun bingun. Hal ini disebabkan karena ketidak seriusannya dalam belajar ataupun yang diminati sebelumnya adalah masuk di fakultas lain.
Jika mahasiswa kehilangan orientasi pada masa kuliah, baik secara individual maupun sosial, maka akan terjadi ketimpangan dalam kehidupannya. Mungkin ada di antara kita yang diciptakan dengan penuh keberhasilan secara materi, dikaruniai jabatan tinggi, karier yang selalu sukses, tapi jangan lupa, untuk apa semua karunia yang kita miliki itu?.
Oleh karena itu sepintar-pintar mahasiswa tidak akan berguna jika dia hanya mementingkan diri sendiri, atau tidak mengaplikasikannya kepada masyarakat ilmu yang dipeloreh tersebut tidak akan berkembang.
Penutup
Masa kuliah merupakan masa yang paling indah bagi mahasiswa, jika mahasiswa yang menjalaninya dengan sabar dan tetap tawakkal, dan tidak pernah menganggap tugas-tugas kuliah sebagai beban dalam hidupnya. Jangan sampai masa kuliah yang sementara ini berakhir begitu saja tanpa ada tujuan yang dicapai. Sebagai seorang mahasiswa akan merasa hidupnya sia-sia jika masa kuliah dianggap sebagai beban yang sangat berat dalam hidupnya.
Tujuan akhir dari setiap mahasiswa adalah untuk mendapatkan ilmu yang dapat diaplikasikan kepada masyarakat, tetapi ada sebagian mahasiswa yang hanya ingin mengejar nilai yang artinya dia hanya belajar saat ujian tiba. Ada juga yang hanya mementingkan penampilannya saja. padahal kita sudah sama-sama mengetahui bahwa pendiknas hanya mengharapkan mahasiswa yang benar-benar mempunyai pengetahuan yang luas, dan dapat mengaplikasikannya dalam dunia pendidikan.
Daftar Pustaka
http://taufiq.blog.unair.ac.id/2008/06/14/orientasi-yang-benar-dalam-hidup/
http://www.sabdaspace.com/kemana_tujuan_hidup_mu
http://risalahperjalanan.wordpress.com/2009/08/27/orientasi-hidup/
http://deasukata.blogspot.com/2011/02/orientasi-hidup.html
http://www.radarbanten.com/newversion/utama/2114-meluruskan-orientasi-hidup.html
Kamis, 02 Juni 2011
Pemerolehan Bahasa Anak Usia 2-4 Tahun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses pemerolehan dan penguasaan bahasa anak-anak merupakan satu perkara yang rencam dan cukup menakjubkan bagi para penyelidik dalam bidang psikoliguistik. Bagaimana manusia memperoleh bahasa merupakan satu isu yang amat mengagumkan dan sukar dibuktikan. Berbagai teori dari bidang disiplin yang berbeda telah dikemukakan oleh para pengkaji untuk menerangkan bagaimana proses ini berlaku dalam kalangan anak-anak. Memang diakui bahwa disadari ataupun tidak, sistem-sistem linguistik dikuasai dengan pantas oleh individu anak-anak walaupun umumnya tiada pengajaran formal.
“…learning a first language is something every child does successfully, in a matter of a few years and without the need for formal lessons.” (Language Acquisition: On-line).
Walaupun rangsangan bahasa yang diterima oleh anak-anak tidak teratur. Namun mereka berupaya memahami sistem-sistem linguistik bahasa pertama sebelum menjangkau usia lima tahun. Fenomena yang kelihatan menakjubkan ini telah berlaku dan terus berlaku dalam kalangan semua masyarakat dan budaya pada setiap masa. Mengikut penyelidik secara empirikal, terdapat dua teori utama yang membincangkan bagaimana manusia memperoleh bahasa. Teori pertama mempertahankan bahwa bahasa diperoleh manusia secara alamiah atau dinuranikan. Teori ini juga dikenali sebagai Hipotesis Nurani dalam linguistik. Teori yang kedua mempertahankan bahwa bahasa diperoleh manusia secara dipelajari.
Kajian saintifik dalam bidang pemerolehan bahasa telah dimulakan sejak kurun ke-16 lagi (Zulkifly, 1990:326-331). Kajian ini dimulakan oleh Tiedeman, seorang ahli biologi berbangsa Jerman pada tahun 1787. Charles Darwin, pengazas teori evolusi turut menjalankan kajian dalam bidang pemerolehan bahasa pada tahun 1877. Kajian-kajian yang seterusnya telah dilakukan oleh Preyer pada tahun 1882 dan kajian Sally pada tahun 1885.
Pemerolehan bahasa merupakan satu proses perkembangan bahasa manusia. Lazimnya pemerolehan bahasa pertama dikaitkan dengan perkembangan bahasa anak-anak manakala pemerolehan bahasa kedua bertumpu kepada perkembangan bahasa orang dewasa (Language Acquisition: On-line).
Perkembangan bahasa anak-anak pula bermaksud pemerolehan bahasa ibu anak-anak berkenaan. Namun terdapat juga pandangan lain yang mengatakan bahwa terdapat dua proses yang terlibat dalam pemerolehan bahasa dalam kalangan anak-anak yaitu pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa. Dua faktor utama yang sering dikaitkan dengan pemerolehan bahasa ialah faktor nurture dan faktor nature. Namun para pengkaji bahasa dan linguistik tidak menolak kepentingan tentang pengaruh faktor-faktor seperti biologi dan sekitarnya.
Kajian-kajian telah dijalankan untuk melihat sama ada manusia memang sudah dilengkapi dengan alat biologi untuk kebolehan berbahasa seperti yang dikatakan oleh ahli linguistik Noam Chomsky dan Lenneberg ataupun kebolehan berbahasa ialah hasil dari pada kebolehan kognisi umum dan interaksi manusia dengan sekitarannya. Mengikut Piaget, semua anak-anak sejak lahir telah dilengkapi dengan alat nurani yang berbentuk mekanikal umum untuk semua kebolehan manusia termasuklah kebolehan berbahasa. Alat mekanisme kognitif yang bersifat umum digunakan untuk menguasai segala-galanya termasuk bahasa. Bagi Chomsky dan Miller pula, alat yang khusus ini dikenali sebagai Language Acquisition Device (LAD) yang fungsinya sama seperti yang pernah dikemukakan oleh Lenneberg yang dikenali sebagai “Innate Prospensity for Language”.
Bayi-bayi yang baru lahir sudah mulai mengecam bunyi-bunyi yang terdapat di sekitarnya. Mengikut Brookes (dlm. Abdullah Yusoff dan Che Rabiah Mohamed, 1995:456), kelahiran atau pemerolehan bahasa dalam bentuk yang paling sederhana bagi setiap bayi bermula pada waktu bayi itu berumur lebih kurang 18 bulan dan mencapai bentuk yang hampir sempurna ketika berumur lebih kurang empat tahun. Bagi Mangantar Simanjuntak (1982), pemerolehan bahasa bermaksud penguasaan bahasa oleh seseorang secara tidak langsung dan dikatakan aktif berlaku dalam kalangan kanak-kanak dalam lingkungan umur 2-6 tahun. Hal ini tidak bermakna orang dewasa tidak memperoleh bahasa tetapi kadarnya tidak sehebat anak-anak.
Pemerolehan bahasa dikaitkan dengan penguasaan sesuatu bahasa tanpa disadari atau dipelajari secara langsung yaitu tanpa melalui pendidikan secara formal untuk mempelajarinya, sebaliknya memperolehnya dari bahasa yang dituturkan oleh ahli masyarakat di sekitarnya. Beliau seterusnya menegaskan bahwa kajian tentang pemerolehan bahasa sangat penting terutamanya dalam bidang pengajaran bahasa. Pengetahuan yang cukup tentang proses dan hakikat pemerolehan bahasa boleh membantu bahkan menentukan kejayaan dalam bidang pengajaran bahasa.
1.2 Rumusan Masalah
Sampel kajian yang pertama ialah seorang anak laki-laki yang bertutur dalam bahasa Indonesia. Bahasa tersebut merupakan bahasa ibu anak itu. Anak tersebut tinggal bersama-sama dengan ayah dan ibunya sendiri, tetapi kalau siang diasuh ibunya saja, karena ditinggal kerja oleh ayahnya. Anak tersebut dilahirkan pada 12 Desember 2009. Anak tersebut berumur dua tahun lima bulan. Nama lengkap anak tersebut ialah Audi Firmansyah M Siregar.
Sampel kajian yang kedua ialah seorang anak laki-laki juga yang bertuturan dalam bahasa Indonesia. Bahasa tersebut merupakan bahasa ibu si anak tersebut. Anak ini tinggal bersama keluarganya sendiri, tetapi anak ini sering berinteraksi atau bermain di lingkungan sekitarnya. Anak tersebut dilahirkan pada tanggal 26 Desember 2008. Anak tersebut berumur tiga tahun lima bulan. Nama lengkap anak tersebut ialah Andika Pratama.
Sample kajian yang ketiga ialah seorang anak perempuan yang bertuturan dalam bahasa Indonesia. Bahasa tersebut merupakan bahasa ibu anak tersebut. Anak ini tinggal bersama ayah dan ibunya sendiri, tetapi kalau siang hari dia di asuh oleh neneknya karena ditinggal kerja oleh ayah dan ibunya. Anak tersebut dilahirkan pada tanggal 8 Oktober 2008. Anak tersebut berumur tiga tahun tuju bulan. Dan nama lengkap anak tersebut ialah Meliza Yuspi.
Pendekatan interaksi yang digunakan dalam kajian ini memandangkan subjek kajian yang dipilih selalu berpeluang berinteraksi dengan anggota keluarganya. Bentuk interaksi observasi ini terdiri daripada interaksi yang tidak dirancang. Sebagai langkah untuk menjamin data kajian yang lebih autentik, latar yang tidak dirancang digunakan. Analisis pertuturan Audi dilakukan dalam berbagai situasi dan keadaan dalam lingkungan keluarganya sendiri. Pengalaman Audi juga digunakan dan dianggap sebagai alat kajian ini. Transkripsi pertuturan subjek kajian ini dibuat dalam bentuk dan sistem ejaan fonemik.
Sehingga berdasarkan latar belakang dalam subek kajian “Pemerolehan Bahasa Anak Usia Tiga Tahun Dalam Lingkungan Keluarga” dapat peneliti rumuskan yaitu Bagaimana ujaran setiap giliran tutur yang digunakan anak usia tiga tahun dalam bertutur?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini dilakukan oleh peneliti adalah untuk dapat mengetahui bagaimana pemerolehan bahasa anak usia tiga tahun, dan mendapatkan gambaran mengenai bagaiman ujaran setiap giliran tutur yang digunakan anak usia tiga tahun dalam bertutur.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pemerolehan Bahasa
2.1.1 Pengertian Pemerolehan Bahasa
Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama (Bl) anak terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.
Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa. Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual, yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik.
Penelitian mengenai bahasa manusia telah menunjukkan banyak hal mengenai pemerolehan bahasa, mengenai apa yang dilakukan atau tidak dilakukan seorang anak ketika belajar atau memperoleh bahasa (Fromkin dan Rodman, 1998:318).
1. Anak tidak belajar bahasa dengan cara menyimpan semua kata dan kalimat dalam sebuah kamus mental raksasa. Daftar kata-kata itu terbatas, tetapi tidak ada kamus yang bisa mencakup semua kalimat yang tidak terbatas jumlahnya.
2. Anak-anak dapat belajar menyusun kalimat, kebanyakan berupa kalimat yang belum pernah mereka hasilkan sebelumnya.
3. Anak-anak belajar memahami kalimat yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka tidak dapat melakukannya dengan menyesuaikan tuturan yang didengar dengan beberapa kalimat yang ada dalam pikiran mereka.
Anak-anak selanjutnya harus menyusun "aturan" yang membuat mereka dapat menggunakan bahasa secara kreatif. Tidak ada yang mengajarkan aturan ini. Orang tua tidak lebih menyadari aturan fonologis, morfologis, sintaktis, dan semantik daripada
anak-anak. Selain memperoleh aturan tata bahasa (memperoleh kompetensi linguistik), anak-anak juga belajar pragmatik, yaitu penggunaan bahasa secara sosial dengan tepat, atau disebut para ahli dengan kemampuan komunikatif. Aturan-aturan ini termasuk mengucap salam, kata-kata tabu, bentuk panggilan yang sopan, dan berbagai ragam yang sesuai untuk situasi yang berbeda. Ini dikarenakan sejak dilahirkan, manusia terlibat dalam dunia sosial sehingga ia harus berhubungan dengan manusia lainnya. Ini artinya manusia harus menguasai norma-norma sosial dan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Sebagian dari norma ini tertanam dalam bahasa sehingga kompetensi seseorang tidak terbatas pada apa yang disebut pemakaian bahasa (language usage) tetapi juga penggunaan bahasa (language use) (Dardjowidjojo, 2000:275).
Pemerolehan bahasa pertama erat sekali kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya juga erat hubungannya dengan pembentukan identitas sosial. Mempelajari bahasa pertama merupakan salah satu perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota penuh suatu masyarakat. Bahasa memudahkan anak mengekspresikan gagasan, kemauannya dengan cara yang benar-benar dapat diterima secara sosial. Bahasa merupakan media yang dapat digunakan anak untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral, agama, dan nilai-nilai lain dalam masyarakat.
2.1.2 Masa Waktu dan Perkembangan Pemerolehan Bahasa
Perkembangan pemerolehan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu (a) perkembangan prasekolah (b) perkembangan ujaran kombinatori, dan (c) perkembangan masa sekolah. Perkembangan pemerolehan bahasa pertama anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata dan ujaran kombinasi permulaan.
Perkembangan pralinguistik ditandai oleh adanya pertukaran giliran antara orang tua (khususnya ibu) dengan anak. Pada masa perkembangan pralinguistik anak mengembangkan konsep dirinya. la berusaha membedakan dirinya dengan subjek, dirinya dengan orang lain serta hubungan dengan objek dan tindakan pada tahap satu kata.
Anak terus-menerus berupaya mengumpulkan nama benda-benda dan orang yang ia jumpai. Kata-kata yang pertama diperolehnya tahap ini lazimnya adalah kata yang menyatakan perbuatan, kata sosialisasi, kata yang menyatakan tempat, dan kata yang menyatakan pemerian.
Perkembangan bahasa pertama anak lebih mudah ditandai dari panjang ucapannya. Panjang ucapan anak kecil merupakan indikator atau petunjuk perkembangan bahasa yang lebih baik dari pada urutan usianya. Jumlah morfem rata-rata per ucapan dapat digunakan sebagai ukuran panjangnya. Ada lima tahapan pemerolehan bahasa pertama. Setiap tahap dibatasi oleh panjang ucapan rata-rata tadi. Untuk setiap tahap ada Loncatan Atas (LA).
Walaupun perkembangan bahasa setiap anak sangat unik, namun ada persamaan umum pada anak-anak, ada persesuaian satu sama lain semua mencakup eksistensi, non eksistensi, rekurensi, atribut objek dan asosiasi objek dengan orang. Pada masa tahap 2 ada tiga sarana ekspresif yang dipakai oleh anak-anak, yang dapat membuat kalimat-kalimat mereka menjadi lebih panjang yaitu kemunculan morfem-morfem gramatikal secara inklusif dalam ujaran anak, pengertian atau penyambungan bersama-sama hubungan dua hal tersebut, dan perluasan istilah dalam suatu hubungan/relasi.
Perkembangan pemerolehan bunyi anak-anak bergerak dari membuat bunyi menuju ke arah membuat pengertian. Periode pembuatan pembedaan atas dua bunyi dapat dikenali selama tahun pertama yaitu (1) periode vokalisasi dan prameraban serta (2) periode meraban. Anak lazimnya membuat pembedaan bunyi perseptual yang penting selama periode ini, misalnya membedakan antara bunyi suara insani dan noninsani antara bunyi yang berekspresi marah dengan yang bersikap bersahabat, antara suara anak-anak dengan orang dewasa, dan antara intonasi yang beragam. Anak-anak mengenali makna-makna berdasarkan persepsi mereka sendiri terhadap bunyi kata-kata yang didengarnya. Anak-anak menukar atau mengganti ucapan mereka sendiri dari waktu ke waktu menuju ucapan orang dewasa, dan apabila anak-anak mulai menghasilkan segmen bunyi tertentu, hal itu yang akan jadi pembendaharaan mereka.
Perkembangan ujaran kombinatori anak-anak dapat dibagi dalam empat bagian yaitu perkembangan negatif/penyangkalan, perkembangan interogratif/pertanyaan, perkembangan penggabungan kalimat, dan perkembangan sistem bunyi. Ada tiga tipe struktur interogatif yang utama untuk mengemukakan persyaratan, yaitu pertanyaan yang menuntut jawaban ya atau tidak, pertanyaan yang menuntut informasi, dan pertanyaan yang menuntut jawaban salah satu dari yang berlawanan (polar). Penggabungan beberapa proposisi menjadi sebuah kalimat tunggal memerlukan rentangan masa selama beberapa tahun dalam perkembangan bahasa anak-anak.
2.2 Pemerolehan Tindak Tutur
Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari aspek pemakaian aktualnya. Leech (1983:5-6) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada siapa, di mana, bilamana, bagaimana.
Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral di dalam pragmatik dan juga merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain di bidang ini seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan. Di dalam bukunya How to Do Things with Words, Austin (1962:1-11) membedakan tuturan yang kalimatnya bermodus deklaratif menjadi dua yaitu konstatif dan performatif. Tindak tutur konstatif adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang kebenarannya dapat diuji benar atau salah dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia.
Sedangkan tindak tutur performatif adalah tindak tutur yang pengutaraannya digunakan untuk melakukan sesuatu, pemakai bahasa tidak dapat mengatakan bahwa tuturan itu salah atau benar, tetapi sahih atau tidak. Berkenaan dengan tuturan, Austin membedakan tiga jenis tindakan: (1) tindak tutur lokusi, yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna di dalam kamus dan menurut kaidah sintaksisnya. (2) tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang mengandung maksud; berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan, dan di mana tindak tutur itu dilakukan,dsb. (3) tindak tutur perlokusi, yaitu tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk mempengaruhi mitra tutur.
Pencetus teori tindak tutur, Searle (1975:59-82) membagi tindak tutur menjadi lima kategori:
1. Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan
2. Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu
3. Ekspresif/evaluatif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.
4. Komisif, yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya
5. Deklarasi/establisif/isbati, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru.
Tindak tutur juga dibedakan menjadi dua yaitu tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Penggunaan tuturan secara konvensional menandai kelangsungan suatu tindak tutur langsung. Tuturan deklaratif, tuturan interogatif, dan tuturan imperatif secara konvensional dituturkan untuk menyatakan suatu informasi, menanyakan sesuatu, dan mernerintahkan mitra tutur melakukan sesuatu.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Subjek Penelitian/Sumber Data
Adapun subjek penelitian yang telah diteliti berjumlah 3 orang anak yang usianya berkisar 2-4 tahun. Berikut identitas masing-masing anak tersebut :
A. Indentitas Anak Pertama
1. Identitas Anak
Nama : Audi Firmansyah M Siregar
Tanggal Lahir :12 Desember 2009
Tempat Lahir : Jln. Bersama Gg. Matahari no 5. Medan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : Dua Tahun Lima Bulan
Anak Ke : 1
Alamat : Jln. Bersama Gg. Matahari no 5. Medan
2. Identitas Orang Tua
a. Ayah
Nama : Muharram Siregar
Tanggal lahir : 25 Desember 1977
Tempat lahir : Palopat Maria
Umur : 34 Tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jln. Bersama Gg. Matahari no 5. Medan
b. Ibu
Nama : Nursyawiyah Siregar
Tanggal lahir : 27 Juli 1989
Tempat lahir : Batu Tunggal
Jenis Kelmin : Perempuan
Umur : 21 Tahun
Pekerjaan : Mengurus Rumah Tangga
Alamat : Jln. Bersama Gg. Matahari no 5. Medan
B. Identitas Anak kedua
1. Identitas Anak
Nama : Andika Pratama
Tanggal Lahir : 26 Desember 2007
Tempat Lahir : Medan
Umur : 3 tahun 5 bulan
Anak Ke : 1
Alamat : Jl. Mesjid gg Pelita, Tembung
2. Identitas Orang Tua
a. Ayah
Nama : Ali Andi
Tanggal lahir : 23 Juli 1981
Tempat lahir : Tembung
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 30 Tahun
Pekerjaan : Wiraswata
Alamat : Jl. Mesjid gg Pelita, Tembung
b. Ibu
Nama : Sri Lestari
Tanggal lahir : 9 September 1986
Tempat lahir : Sei Rotan
Janis Kelamin : Perempuan
Umur : 25 Tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Jl. Mesjid gg Pelita, Tembung
C. Identitas Anak ketiga
1. Identitas Anak
Nama : Meliza Yuspi.
Tanggal Lahir : 8 Oktober 2008
Tempat Lahir : Medan
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : Tiga tahun enam bulan
Anak Ke : 2
Alamat : Jl. Mesjid gg Pelita, Tembung
2. Identitas Orang Tua
a. Ayah
Nama : Muhammad Iskandar
Tanggal lahir : 20 juli 1980
Tempat lahir : Tembung
Janis Kelamin : Laki-laki
Umur : 31 Tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Mesjid, Gg Pelita, Tembung
b. Ibu
Nama : Handayani
Tanggal lahir : 30 April 1987
Tempat lahir : Batang Kuis
Umur : 26 Tahun
Janis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Mesjid, Gg Pelita, Tembung
3.2 Teknik Pengumpulan Data
Peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yang diusulkan oleh Sudaryanto (1993:133-136), yaitu teknik simak libat cakap. Teknik ini berarti peneliti juga berpartisipasi langsung di dalam percakapan yang terjadi. Peneliti juga menggunakan teknik simak bebas libat cakap, di mana ia tidak terlibat dalam percakapan (hanya menyimak saja). Teknik ini dikombinasikan dengan teknik wawancara serta teknik catat. Data dikumpulkan secara natural dengan beberapa tambahan untuk memancing objek penelitian dalam memunculkan suatu ujaran untuk menanggapi sesuatu. Alat yang digunakan adalah pulpen, buku, dan hp. Alat ini digunakan untuk mendokumentasikan percakapan antara anak dan peneliti. Wawancara dilakukan ketika objek penelitian bercakap-cakap dengan satu atau dua orang teman atau dengan orang yang lebih tua. Selain wawancara, peneliti juga menggunakan metode pencatatan untuk mendukung data wawancara. Ketika objek penelitian bercakap-cakap, peneliti mencatat percakapan tersebut. Cara ini dilakukan terutama ketika peneliti sedang tidak terlibat di dalam percakapan tersebut atau ketika mengamati dari jarak yang tidak terlalu dekat.
3.3 Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil wawancara adalah berupa tuturan langsung objek penelitian dan cacatan tentang percakapan objek penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik interpretasi dengan cara menganalisis data sesuai dengan jenis-jenis tindak tutur yang ditetapkan dalam teori tindak tutur.
Pengumpulan data dilakukan selama 2 (dua) bulan dari bulan Maret 2011 hingga Mei 2011. Dan pelaksanaannya dilakukan di rumah ketiga anak tersebut. Penelitian ini telah peneliti lakukan sebanyak 8 kali observasi dengan situasi informal. Namun, tidak ada jadwal khusus untuk melakukan pengumpulan data.
a) Anak Pertama (Audi Firmansyah M Siregar)
Konteks : Memberikan anak mainan
Peneliti : Dari mana dek?
Audi : Hmmm (Dengan menunjukkan suatu tempat permainan)
Peneliti : Maen sama kakak yok?
Audi : Akh, ngantuk…
Peneliti : Kakak ada mainan lo!
Audi : analah.. (Manalah).
Peneliti : Ini sama kakak, sinilah biar kakak kasih…
b) Anak Kedua (Andika Pratama)
Konteks : Menanyakan ayah si anak
Peneliti : Tama, ayah kemana?
Andika : Kerja
Peneliti : Kerjanya dimana?
Andika : jauh…..
Peneliti : Tama, dah makan pa belum?
Andika : udah makan adek…
c) Anak Ketiga (Meliza Yuspi)
Konteks : Membujuk Anak
Peneliti : Cup… cup…. Udah besar kog nangis?
Meliza : Huu….(sambil menangis)
Peneliti : Liza kenapa…?
Meliza : jatuh……(sambil masih menangis)
Peneliti : Ya udah jangan nangis lagi, za kan udah besar, ntar gak cantik lagi lo…
Meliza : mama…….
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Analisis Bahasa Anak Pertama
Subjek peneleitian yang pertama adalah Audi Firmansya M Siregar, yang sehari-harinya dipanggil “Audi”. Dia dilahirkan di pada tanggal 12 Desember 2008. Ibunya Nursyawiyah Siregar dan ayahnya Muharram Siregar. Audi tumbuh dalam keluarga yang termasuk kelas menengah yang untuk kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan primer yang lain tercukupi. Disamping mainan seperti mobil-mobilan atau bola dan sebagainya, orang tua Audi juga banyak memberikan gambar-gambar, seperti gambar buah, kendaraan dan sebagainya.
Pengambil giliran (turn taking) merupakan satu strategi yang penting dalam suatu komunikasi khususnya dalam komunikasi dua hal. Dengan adanya strategi ini, suatu tuturan dapat berjalan dengan lancar dan teratur menurut prinsip-prinsip komunikasi. Dalam kajian ini, didapat bahwa ujaran setiap giliran untuk subjek kajian, Audi dengan peneliti. Hal ini mungkin disebabkan observasi yang dilakukan itu lebih merupakan tuturan yang berupa soal jawab antara Audi dengan peneliti. Oleh karena itu, dalam percakapan tersebut, Audi hanya berperan untuk menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh peneliti tadi.
Cuplikan wacana di atas membuktikan bahwa Audi dalam bertutur hanya menjawab pertanyan dengan menggunakan cari telunjuk. Tetapi Jumlah ujaran-ujaran yang diucapkan sangat pendek dan sangat sederhana. Akan tetapi dia belum dapat memahami semua ujaran yang kita sebutkan terhadapnya. Dan untuk meminta sesuatu pun dia tidak berbicara melainkan dia hanya menunjuk apa atau benda apa yang ia inginkan tersebut. Hal ini disebabkan karena bahasa pertama yang anak kuasai adalah bahasa yang sesuai dengan lingkungan pembelajar.
4.1.2 Analisis Bahasa anak Kedua
Subjek peneleitian yang kedua adalah Andika Pratama, yang sehari-harinya dipanggil “Tama”. Dia dilahirkan di pada tanggal 26 Desember 2007. Ibunya Sri Lestari dan ayahnya Ali Andi. “Tama” tumbuh dalam keluarga yang termasuk kelas menengah yang untuk kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan primer yang lain tercukupi. Orang tuanya sangat aktif dalam mengajaknya berbicara, hal ini menyebabkan kemampuan “Tama” dalam merespon percakapan sanga baik. Orang tuanya juga melengkapi mainan seperti mobil-mobilan atau bola dan sebagainya, orang tua Tama juga banyak mengenalkan gambar-gambar, seperti gambar buah, kendaraan dan sebagainya.
Pengambil giliran (turn taking) merupakan satu strategi yang penting dalam suatu komunikasi khususnya dalam komunikasi dua hal. Dengan adanya strategi ini, suatu tuturan dapat berjalan dengan lancar dan teratur menurut prinsip-prinsip komunikasi. Dalam kajian ini, didapat bahwa ujaran setiap giliran untuk subjek kajian, Tama dengan peneliti. Hal ini mungkin disebabkan observasi yang dilakukan itu lebih merupakan tuturan yang berupa soal jawab antara Tama dengan peneliti. Oleh karena itu, dalam percakapan tersebut, Tama berperan aktif dalam menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh peneliti tadi.
Dari cuplikan wacana di atas membuktikan bahwa Tama dalam bertutur menjawab pertanyan dari lawan tutur dengan baik. Dari jawaban-jawaban yang dituturkan tersebut sangat jelas bahwa dia sangat lancar dan mudah mencerna apa yang ditanyakan oleh peneliti terhadapnya. Dan hal-hal yang tidak ditanyakan pun dia menceritakannya. Terkadang dia menggunakan bahasa baku dalam percakapannya. Dia juga sering menggunakan kata-kata seperti “sudah”. Jumlah ujaran-ujaran yang diucapkan relatif panjang dan sangat mudah untuk dimengerti. Dia mampu menceritakan suatu hal kepada orang dewasa dengan sangat lancar. Hal ini disebabkan karena bahasa pertama yang dikuasai adalah bahasa yang sesuai dengan lingkungan pembelajar. Dan juga karena bahasa yang dipakainya telah dipengaruhi oleh lingkungan.
4.1.3 Analisis Bahasa Anak Ketiga
Subjek peneleitian yang ketiga adalah Meliza Yuspi, yang sehari-harinya dipanggil “Liza”. Dia dilahirkan di pada tanggal 8 Oktober 2008. Ibunya Handayani dan ayahnya Muhammad Iskandar. “Liza” tumbuh dalam keluarga yang termasuk kelas menengah atas yang kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan primer yang lain telah tercukupi dengan baik. Orang tuanya sangat memanjakannya dengan cara melengkapi mainan-maianan serta boneka-boneka kesukaannya.
Pengambil giliran (turn taking) merupakan satu strategi yang penting dalam suatu komunikasi khususnya dalam komunikasi dua hal. Dengan adanya strategi ini, suatu tuturan dapat berjalan dengan lancar dan teratur menurut prinsip-prinsip komunikasi. Dalam kajian ini, didapat bahwa ujaran setiap giliran untuk subjek kajian, Liza dengan peneliti. Hal ini mungkin disebabkan observasi yang dilakukan itu lebih merupakan tuturan yang berupa soal jawab antara Liza dengan peneliti. Oleh karena itu, dalam percakapan tersebut, Liza hanya berperan untuk menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh peneliti tadi. Dan respon yang diberikan Liza dalam percakapan tersebut kurang begitu aktif.
Dari cuplikan wacana di atas membuktikan bahwa Liza dalam bertutur hanya menjawab pertanyan dari lawan tutur. Dari jawaban-jawaban yang dituturkan tersebut sangat jelas bahwa dia tidak begitu mampu merespon pertanyaan dengan baik, sehingga jawaban yang diberikan hanya sepenggal kata saja. Dalam wacana di atas, jelas bahwa Liza mengucapkan kata-kata yang terpenggal. Jadi, dapat disimpulkan anak usia tiga tahun sebenarnya sudah bisa berkomunikasi, meskispun secara terbatas. Kamunikasi secara terbatas dalam tutur ini karena keadaan situasi yang sedang dialami Liza. Dalam keadaan menangis Liza secara tidak langsung akan memanggil yang mamanya, karena hanya mamanya orang yang terdekat (yang merawat) dia.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Sejalan dengan rumusan masalah dan tujuan penulisan yang disampaikan di bagian pendahuluan, maka sebagai kesimpulan dapatlah disampaikan hal-hal berikut.
Berdasarkan panjang ayat anak usia tiga tahun dalam bertutur pada umumnya mengucapkan kata-kata secara terpenggal. Serta penguasaan bahasa yang dikuasai anak diperoleh melalui tahapan-tahapan tertentu. Anak umur tiga tahun sudah mampu menyusun kalimat dalam bertutur meskipun masih sangat sederhana dan terbatas. Berdasarkan jumlah ujaran setiap giliran tutur dibuktikan anak tiga tahun dalam bertutur hanya menjawab pertanyaan dari lawan tutur.
Dari hasil penelitian ini, kami mendapatkan bahwa anak umur tiga tahun seperti “Tama” bertutur dengan baik kepada lawan tuturnya. Hal ini dikarenakan orang tuanya aktif mengajaknya berbicara sehingga dia memiliki kemampuan bertutur yang lebih baik jika dibandingkan dengan kedua anak lainnya yang kami teliti. Oleh karena itu faktor lingkungan sangat mempengaruhi pemerolehan bahasa pada anak.
5.2 Saran
Adapun saran-saran perbaikan yang dapat kami berikan untuk melengkapi keilmuan kebahasaan anak khususnya pada penelitian pemerolehan tindak tutur pada anak usia 2-4 tahun ialah:
1. Orang tua harus mampu memberikan input bahasa yang baik kepada anaknya, karena anak umur 2-4 sangat peka dalam menirukan kata-kata yang didengarnya.
2. Perilaku pertuturan yang dikaji berdasarkan jenis-jenis tindak tutur yang dilakukan terhadap bahasa lain semisal bahasa ibu (daerah) dari anak usia 2-4 tahun.
DAFTAR PUSTAKA
Dardjowidjojo, Soenjono dan Unika Atma Jaya. 2000. Echa Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Dardjowidjojo, Soenjono dan Unika Atma Jaya. 2003. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Anggota IKAPI DKI.
Yuniarti. 2010. Kompetensi Tindak Tutur Direktif Anak Usia Prasekolah. Semarang : Universitas Diponegoro.
Kushartanti, B. -----. Strategi Kesantunan Bahasa pada Anak-anak Usia Prasekolah: Mengungkapkan Keinginan. Jakarta : Universitas Indonesia.
Halijah, Abd dan Hamid. 1996. Bagaimana Manusia Memperoleh Bahasa?. Jakarta: Pelita Bahasa (Jurnal penyelidikan IPBL, jilid 7, 2006)
http://www.infodiknas.com/pemerolehan-bahasa-anak-usia-tiga-tahundalam-lingkungan-keluarga/
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses pemerolehan dan penguasaan bahasa anak-anak merupakan satu perkara yang rencam dan cukup menakjubkan bagi para penyelidik dalam bidang psikoliguistik. Bagaimana manusia memperoleh bahasa merupakan satu isu yang amat mengagumkan dan sukar dibuktikan. Berbagai teori dari bidang disiplin yang berbeda telah dikemukakan oleh para pengkaji untuk menerangkan bagaimana proses ini berlaku dalam kalangan anak-anak. Memang diakui bahwa disadari ataupun tidak, sistem-sistem linguistik dikuasai dengan pantas oleh individu anak-anak walaupun umumnya tiada pengajaran formal.
“…learning a first language is something every child does successfully, in a matter of a few years and without the need for formal lessons.” (Language Acquisition: On-line).
Walaupun rangsangan bahasa yang diterima oleh anak-anak tidak teratur. Namun mereka berupaya memahami sistem-sistem linguistik bahasa pertama sebelum menjangkau usia lima tahun. Fenomena yang kelihatan menakjubkan ini telah berlaku dan terus berlaku dalam kalangan semua masyarakat dan budaya pada setiap masa. Mengikut penyelidik secara empirikal, terdapat dua teori utama yang membincangkan bagaimana manusia memperoleh bahasa. Teori pertama mempertahankan bahwa bahasa diperoleh manusia secara alamiah atau dinuranikan. Teori ini juga dikenali sebagai Hipotesis Nurani dalam linguistik. Teori yang kedua mempertahankan bahwa bahasa diperoleh manusia secara dipelajari.
Kajian saintifik dalam bidang pemerolehan bahasa telah dimulakan sejak kurun ke-16 lagi (Zulkifly, 1990:326-331). Kajian ini dimulakan oleh Tiedeman, seorang ahli biologi berbangsa Jerman pada tahun 1787. Charles Darwin, pengazas teori evolusi turut menjalankan kajian dalam bidang pemerolehan bahasa pada tahun 1877. Kajian-kajian yang seterusnya telah dilakukan oleh Preyer pada tahun 1882 dan kajian Sally pada tahun 1885.
Pemerolehan bahasa merupakan satu proses perkembangan bahasa manusia. Lazimnya pemerolehan bahasa pertama dikaitkan dengan perkembangan bahasa anak-anak manakala pemerolehan bahasa kedua bertumpu kepada perkembangan bahasa orang dewasa (Language Acquisition: On-line).
Perkembangan bahasa anak-anak pula bermaksud pemerolehan bahasa ibu anak-anak berkenaan. Namun terdapat juga pandangan lain yang mengatakan bahwa terdapat dua proses yang terlibat dalam pemerolehan bahasa dalam kalangan anak-anak yaitu pemerolehan bahasa dan pembelajaran bahasa. Dua faktor utama yang sering dikaitkan dengan pemerolehan bahasa ialah faktor nurture dan faktor nature. Namun para pengkaji bahasa dan linguistik tidak menolak kepentingan tentang pengaruh faktor-faktor seperti biologi dan sekitarnya.
Kajian-kajian telah dijalankan untuk melihat sama ada manusia memang sudah dilengkapi dengan alat biologi untuk kebolehan berbahasa seperti yang dikatakan oleh ahli linguistik Noam Chomsky dan Lenneberg ataupun kebolehan berbahasa ialah hasil dari pada kebolehan kognisi umum dan interaksi manusia dengan sekitarannya. Mengikut Piaget, semua anak-anak sejak lahir telah dilengkapi dengan alat nurani yang berbentuk mekanikal umum untuk semua kebolehan manusia termasuklah kebolehan berbahasa. Alat mekanisme kognitif yang bersifat umum digunakan untuk menguasai segala-galanya termasuk bahasa. Bagi Chomsky dan Miller pula, alat yang khusus ini dikenali sebagai Language Acquisition Device (LAD) yang fungsinya sama seperti yang pernah dikemukakan oleh Lenneberg yang dikenali sebagai “Innate Prospensity for Language”.
Bayi-bayi yang baru lahir sudah mulai mengecam bunyi-bunyi yang terdapat di sekitarnya. Mengikut Brookes (dlm. Abdullah Yusoff dan Che Rabiah Mohamed, 1995:456), kelahiran atau pemerolehan bahasa dalam bentuk yang paling sederhana bagi setiap bayi bermula pada waktu bayi itu berumur lebih kurang 18 bulan dan mencapai bentuk yang hampir sempurna ketika berumur lebih kurang empat tahun. Bagi Mangantar Simanjuntak (1982), pemerolehan bahasa bermaksud penguasaan bahasa oleh seseorang secara tidak langsung dan dikatakan aktif berlaku dalam kalangan kanak-kanak dalam lingkungan umur 2-6 tahun. Hal ini tidak bermakna orang dewasa tidak memperoleh bahasa tetapi kadarnya tidak sehebat anak-anak.
Pemerolehan bahasa dikaitkan dengan penguasaan sesuatu bahasa tanpa disadari atau dipelajari secara langsung yaitu tanpa melalui pendidikan secara formal untuk mempelajarinya, sebaliknya memperolehnya dari bahasa yang dituturkan oleh ahli masyarakat di sekitarnya. Beliau seterusnya menegaskan bahwa kajian tentang pemerolehan bahasa sangat penting terutamanya dalam bidang pengajaran bahasa. Pengetahuan yang cukup tentang proses dan hakikat pemerolehan bahasa boleh membantu bahkan menentukan kejayaan dalam bidang pengajaran bahasa.
1.2 Rumusan Masalah
Sampel kajian yang pertama ialah seorang anak laki-laki yang bertutur dalam bahasa Indonesia. Bahasa tersebut merupakan bahasa ibu anak itu. Anak tersebut tinggal bersama-sama dengan ayah dan ibunya sendiri, tetapi kalau siang diasuh ibunya saja, karena ditinggal kerja oleh ayahnya. Anak tersebut dilahirkan pada 12 Desember 2009. Anak tersebut berumur dua tahun lima bulan. Nama lengkap anak tersebut ialah Audi Firmansyah M Siregar.
Sampel kajian yang kedua ialah seorang anak laki-laki juga yang bertuturan dalam bahasa Indonesia. Bahasa tersebut merupakan bahasa ibu si anak tersebut. Anak ini tinggal bersama keluarganya sendiri, tetapi anak ini sering berinteraksi atau bermain di lingkungan sekitarnya. Anak tersebut dilahirkan pada tanggal 26 Desember 2008. Anak tersebut berumur tiga tahun lima bulan. Nama lengkap anak tersebut ialah Andika Pratama.
Sample kajian yang ketiga ialah seorang anak perempuan yang bertuturan dalam bahasa Indonesia. Bahasa tersebut merupakan bahasa ibu anak tersebut. Anak ini tinggal bersama ayah dan ibunya sendiri, tetapi kalau siang hari dia di asuh oleh neneknya karena ditinggal kerja oleh ayah dan ibunya. Anak tersebut dilahirkan pada tanggal 8 Oktober 2008. Anak tersebut berumur tiga tahun tuju bulan. Dan nama lengkap anak tersebut ialah Meliza Yuspi.
Pendekatan interaksi yang digunakan dalam kajian ini memandangkan subjek kajian yang dipilih selalu berpeluang berinteraksi dengan anggota keluarganya. Bentuk interaksi observasi ini terdiri daripada interaksi yang tidak dirancang. Sebagai langkah untuk menjamin data kajian yang lebih autentik, latar yang tidak dirancang digunakan. Analisis pertuturan Audi dilakukan dalam berbagai situasi dan keadaan dalam lingkungan keluarganya sendiri. Pengalaman Audi juga digunakan dan dianggap sebagai alat kajian ini. Transkripsi pertuturan subjek kajian ini dibuat dalam bentuk dan sistem ejaan fonemik.
Sehingga berdasarkan latar belakang dalam subek kajian “Pemerolehan Bahasa Anak Usia Tiga Tahun Dalam Lingkungan Keluarga” dapat peneliti rumuskan yaitu Bagaimana ujaran setiap giliran tutur yang digunakan anak usia tiga tahun dalam bertutur?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini dilakukan oleh peneliti adalah untuk dapat mengetahui bagaimana pemerolehan bahasa anak usia tiga tahun, dan mendapatkan gambaran mengenai bagaiman ujaran setiap giliran tutur yang digunakan anak usia tiga tahun dalam bertutur.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pemerolehan Bahasa
2.1.1 Pengertian Pemerolehan Bahasa
Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama (Bl) anak terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit.
Ada dua pengertian mengenai pemerolehan bahasa. Pertama, pemerolehan bahasa mempunyai permulaan yang mendadak. Kedua, pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual, yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik.
Penelitian mengenai bahasa manusia telah menunjukkan banyak hal mengenai pemerolehan bahasa, mengenai apa yang dilakukan atau tidak dilakukan seorang anak ketika belajar atau memperoleh bahasa (Fromkin dan Rodman, 1998:318).
1. Anak tidak belajar bahasa dengan cara menyimpan semua kata dan kalimat dalam sebuah kamus mental raksasa. Daftar kata-kata itu terbatas, tetapi tidak ada kamus yang bisa mencakup semua kalimat yang tidak terbatas jumlahnya.
2. Anak-anak dapat belajar menyusun kalimat, kebanyakan berupa kalimat yang belum pernah mereka hasilkan sebelumnya.
3. Anak-anak belajar memahami kalimat yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Mereka tidak dapat melakukannya dengan menyesuaikan tuturan yang didengar dengan beberapa kalimat yang ada dalam pikiran mereka.
Anak-anak selanjutnya harus menyusun "aturan" yang membuat mereka dapat menggunakan bahasa secara kreatif. Tidak ada yang mengajarkan aturan ini. Orang tua tidak lebih menyadari aturan fonologis, morfologis, sintaktis, dan semantik daripada
anak-anak. Selain memperoleh aturan tata bahasa (memperoleh kompetensi linguistik), anak-anak juga belajar pragmatik, yaitu penggunaan bahasa secara sosial dengan tepat, atau disebut para ahli dengan kemampuan komunikatif. Aturan-aturan ini termasuk mengucap salam, kata-kata tabu, bentuk panggilan yang sopan, dan berbagai ragam yang sesuai untuk situasi yang berbeda. Ini dikarenakan sejak dilahirkan, manusia terlibat dalam dunia sosial sehingga ia harus berhubungan dengan manusia lainnya. Ini artinya manusia harus menguasai norma-norma sosial dan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Sebagian dari norma ini tertanam dalam bahasa sehingga kompetensi seseorang tidak terbatas pada apa yang disebut pemakaian bahasa (language usage) tetapi juga penggunaan bahasa (language use) (Dardjowidjojo, 2000:275).
Pemerolehan bahasa pertama erat sekali kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya juga erat hubungannya dengan pembentukan identitas sosial. Mempelajari bahasa pertama merupakan salah satu perkembangan menyeluruh anak menjadi anggota penuh suatu masyarakat. Bahasa memudahkan anak mengekspresikan gagasan, kemauannya dengan cara yang benar-benar dapat diterima secara sosial. Bahasa merupakan media yang dapat digunakan anak untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral, agama, dan nilai-nilai lain dalam masyarakat.
2.1.2 Masa Waktu dan Perkembangan Pemerolehan Bahasa
Perkembangan pemerolehan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu (a) perkembangan prasekolah (b) perkembangan ujaran kombinatori, dan (c) perkembangan masa sekolah. Perkembangan pemerolehan bahasa pertama anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata dan ujaran kombinasi permulaan.
Perkembangan pralinguistik ditandai oleh adanya pertukaran giliran antara orang tua (khususnya ibu) dengan anak. Pada masa perkembangan pralinguistik anak mengembangkan konsep dirinya. la berusaha membedakan dirinya dengan subjek, dirinya dengan orang lain serta hubungan dengan objek dan tindakan pada tahap satu kata.
Anak terus-menerus berupaya mengumpulkan nama benda-benda dan orang yang ia jumpai. Kata-kata yang pertama diperolehnya tahap ini lazimnya adalah kata yang menyatakan perbuatan, kata sosialisasi, kata yang menyatakan tempat, dan kata yang menyatakan pemerian.
Perkembangan bahasa pertama anak lebih mudah ditandai dari panjang ucapannya. Panjang ucapan anak kecil merupakan indikator atau petunjuk perkembangan bahasa yang lebih baik dari pada urutan usianya. Jumlah morfem rata-rata per ucapan dapat digunakan sebagai ukuran panjangnya. Ada lima tahapan pemerolehan bahasa pertama. Setiap tahap dibatasi oleh panjang ucapan rata-rata tadi. Untuk setiap tahap ada Loncatan Atas (LA).
Walaupun perkembangan bahasa setiap anak sangat unik, namun ada persamaan umum pada anak-anak, ada persesuaian satu sama lain semua mencakup eksistensi, non eksistensi, rekurensi, atribut objek dan asosiasi objek dengan orang. Pada masa tahap 2 ada tiga sarana ekspresif yang dipakai oleh anak-anak, yang dapat membuat kalimat-kalimat mereka menjadi lebih panjang yaitu kemunculan morfem-morfem gramatikal secara inklusif dalam ujaran anak, pengertian atau penyambungan bersama-sama hubungan dua hal tersebut, dan perluasan istilah dalam suatu hubungan/relasi.
Perkembangan pemerolehan bunyi anak-anak bergerak dari membuat bunyi menuju ke arah membuat pengertian. Periode pembuatan pembedaan atas dua bunyi dapat dikenali selama tahun pertama yaitu (1) periode vokalisasi dan prameraban serta (2) periode meraban. Anak lazimnya membuat pembedaan bunyi perseptual yang penting selama periode ini, misalnya membedakan antara bunyi suara insani dan noninsani antara bunyi yang berekspresi marah dengan yang bersikap bersahabat, antara suara anak-anak dengan orang dewasa, dan antara intonasi yang beragam. Anak-anak mengenali makna-makna berdasarkan persepsi mereka sendiri terhadap bunyi kata-kata yang didengarnya. Anak-anak menukar atau mengganti ucapan mereka sendiri dari waktu ke waktu menuju ucapan orang dewasa, dan apabila anak-anak mulai menghasilkan segmen bunyi tertentu, hal itu yang akan jadi pembendaharaan mereka.
Perkembangan ujaran kombinatori anak-anak dapat dibagi dalam empat bagian yaitu perkembangan negatif/penyangkalan, perkembangan interogratif/pertanyaan, perkembangan penggabungan kalimat, dan perkembangan sistem bunyi. Ada tiga tipe struktur interogatif yang utama untuk mengemukakan persyaratan, yaitu pertanyaan yang menuntut jawaban ya atau tidak, pertanyaan yang menuntut informasi, dan pertanyaan yang menuntut jawaban salah satu dari yang berlawanan (polar). Penggabungan beberapa proposisi menjadi sebuah kalimat tunggal memerlukan rentangan masa selama beberapa tahun dalam perkembangan bahasa anak-anak.
2.2 Pemerolehan Tindak Tutur
Tindak tutur merupakan analisis pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang mengkaji bahasa dari aspek pemakaian aktualnya. Leech (1983:5-6) menyatakan bahwa pragmatik mempelajari maksud ujaran (yaitu untuk apa ujaran itu dilakukan); menanyakan apa yang seseorang maksudkan dengan suatu tindak tutur; dan mengaitkan makna dengan siapa berbicara kepada siapa, di mana, bilamana, bagaimana.
Tindak tutur merupakan entitas yang bersifat sentral di dalam pragmatik dan juga merupakan dasar bagi analisis topik-topik lain di bidang ini seperti praanggapan, perikutan, implikatur percakapan, prinsip kerjasama dan prinsip kesantunan. Di dalam bukunya How to Do Things with Words, Austin (1962:1-11) membedakan tuturan yang kalimatnya bermodus deklaratif menjadi dua yaitu konstatif dan performatif. Tindak tutur konstatif adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang kebenarannya dapat diuji benar atau salah dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia.
Sedangkan tindak tutur performatif adalah tindak tutur yang pengutaraannya digunakan untuk melakukan sesuatu, pemakai bahasa tidak dapat mengatakan bahwa tuturan itu salah atau benar, tetapi sahih atau tidak. Berkenaan dengan tuturan, Austin membedakan tiga jenis tindakan: (1) tindak tutur lokusi, yaitu tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna di dalam kamus dan menurut kaidah sintaksisnya. (2) tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang mengandung maksud; berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan, dan di mana tindak tutur itu dilakukan,dsb. (3) tindak tutur perlokusi, yaitu tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk mempengaruhi mitra tutur.
Pencetus teori tindak tutur, Searle (1975:59-82) membagi tindak tutur menjadi lima kategori:
1. Representative/asertif, yaitu tuturan yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkan
2. Direktif/impositif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu
3. Ekspresif/evaluatif, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu.
4. Komisif, yaitu tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan di dalam tuturannya
5. Deklarasi/establisif/isbati, yaitu tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru.
Tindak tutur juga dibedakan menjadi dua yaitu tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Penggunaan tuturan secara konvensional menandai kelangsungan suatu tindak tutur langsung. Tuturan deklaratif, tuturan interogatif, dan tuturan imperatif secara konvensional dituturkan untuk menyatakan suatu informasi, menanyakan sesuatu, dan mernerintahkan mitra tutur melakukan sesuatu.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Subjek Penelitian/Sumber Data
Adapun subjek penelitian yang telah diteliti berjumlah 3 orang anak yang usianya berkisar 2-4 tahun. Berikut identitas masing-masing anak tersebut :
A. Indentitas Anak Pertama
1. Identitas Anak
Nama : Audi Firmansyah M Siregar
Tanggal Lahir :12 Desember 2009
Tempat Lahir : Jln. Bersama Gg. Matahari no 5. Medan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : Dua Tahun Lima Bulan
Anak Ke : 1
Alamat : Jln. Bersama Gg. Matahari no 5. Medan
2. Identitas Orang Tua
a. Ayah
Nama : Muharram Siregar
Tanggal lahir : 25 Desember 1977
Tempat lahir : Palopat Maria
Umur : 34 Tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jln. Bersama Gg. Matahari no 5. Medan
b. Ibu
Nama : Nursyawiyah Siregar
Tanggal lahir : 27 Juli 1989
Tempat lahir : Batu Tunggal
Jenis Kelmin : Perempuan
Umur : 21 Tahun
Pekerjaan : Mengurus Rumah Tangga
Alamat : Jln. Bersama Gg. Matahari no 5. Medan
B. Identitas Anak kedua
1. Identitas Anak
Nama : Andika Pratama
Tanggal Lahir : 26 Desember 2007
Tempat Lahir : Medan
Umur : 3 tahun 5 bulan
Anak Ke : 1
Alamat : Jl. Mesjid gg Pelita, Tembung
2. Identitas Orang Tua
a. Ayah
Nama : Ali Andi
Tanggal lahir : 23 Juli 1981
Tempat lahir : Tembung
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 30 Tahun
Pekerjaan : Wiraswata
Alamat : Jl. Mesjid gg Pelita, Tembung
b. Ibu
Nama : Sri Lestari
Tanggal lahir : 9 September 1986
Tempat lahir : Sei Rotan
Janis Kelamin : Perempuan
Umur : 25 Tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Jl. Mesjid gg Pelita, Tembung
C. Identitas Anak ketiga
1. Identitas Anak
Nama : Meliza Yuspi.
Tanggal Lahir : 8 Oktober 2008
Tempat Lahir : Medan
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : Tiga tahun enam bulan
Anak Ke : 2
Alamat : Jl. Mesjid gg Pelita, Tembung
2. Identitas Orang Tua
a. Ayah
Nama : Muhammad Iskandar
Tanggal lahir : 20 juli 1980
Tempat lahir : Tembung
Janis Kelamin : Laki-laki
Umur : 31 Tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Mesjid, Gg Pelita, Tembung
b. Ibu
Nama : Handayani
Tanggal lahir : 30 April 1987
Tempat lahir : Batang Kuis
Umur : 26 Tahun
Janis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Mesjid, Gg Pelita, Tembung
3.2 Teknik Pengumpulan Data
Peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yang diusulkan oleh Sudaryanto (1993:133-136), yaitu teknik simak libat cakap. Teknik ini berarti peneliti juga berpartisipasi langsung di dalam percakapan yang terjadi. Peneliti juga menggunakan teknik simak bebas libat cakap, di mana ia tidak terlibat dalam percakapan (hanya menyimak saja). Teknik ini dikombinasikan dengan teknik wawancara serta teknik catat. Data dikumpulkan secara natural dengan beberapa tambahan untuk memancing objek penelitian dalam memunculkan suatu ujaran untuk menanggapi sesuatu. Alat yang digunakan adalah pulpen, buku, dan hp. Alat ini digunakan untuk mendokumentasikan percakapan antara anak dan peneliti. Wawancara dilakukan ketika objek penelitian bercakap-cakap dengan satu atau dua orang teman atau dengan orang yang lebih tua. Selain wawancara, peneliti juga menggunakan metode pencatatan untuk mendukung data wawancara. Ketika objek penelitian bercakap-cakap, peneliti mencatat percakapan tersebut. Cara ini dilakukan terutama ketika peneliti sedang tidak terlibat di dalam percakapan tersebut atau ketika mengamati dari jarak yang tidak terlalu dekat.
3.3 Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dari hasil wawancara adalah berupa tuturan langsung objek penelitian dan cacatan tentang percakapan objek penelitian. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik interpretasi dengan cara menganalisis data sesuai dengan jenis-jenis tindak tutur yang ditetapkan dalam teori tindak tutur.
Pengumpulan data dilakukan selama 2 (dua) bulan dari bulan Maret 2011 hingga Mei 2011. Dan pelaksanaannya dilakukan di rumah ketiga anak tersebut. Penelitian ini telah peneliti lakukan sebanyak 8 kali observasi dengan situasi informal. Namun, tidak ada jadwal khusus untuk melakukan pengumpulan data.
a) Anak Pertama (Audi Firmansyah M Siregar)
Konteks : Memberikan anak mainan
Peneliti : Dari mana dek?
Audi : Hmmm (Dengan menunjukkan suatu tempat permainan)
Peneliti : Maen sama kakak yok?
Audi : Akh, ngantuk…
Peneliti : Kakak ada mainan lo!
Audi : analah.. (Manalah).
Peneliti : Ini sama kakak, sinilah biar kakak kasih…
b) Anak Kedua (Andika Pratama)
Konteks : Menanyakan ayah si anak
Peneliti : Tama, ayah kemana?
Andika : Kerja
Peneliti : Kerjanya dimana?
Andika : jauh…..
Peneliti : Tama, dah makan pa belum?
Andika : udah makan adek…
c) Anak Ketiga (Meliza Yuspi)
Konteks : Membujuk Anak
Peneliti : Cup… cup…. Udah besar kog nangis?
Meliza : Huu….(sambil menangis)
Peneliti : Liza kenapa…?
Meliza : jatuh……(sambil masih menangis)
Peneliti : Ya udah jangan nangis lagi, za kan udah besar, ntar gak cantik lagi lo…
Meliza : mama…….
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Analisis Bahasa Anak Pertama
Subjek peneleitian yang pertama adalah Audi Firmansya M Siregar, yang sehari-harinya dipanggil “Audi”. Dia dilahirkan di pada tanggal 12 Desember 2008. Ibunya Nursyawiyah Siregar dan ayahnya Muharram Siregar. Audi tumbuh dalam keluarga yang termasuk kelas menengah yang untuk kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan primer yang lain tercukupi. Disamping mainan seperti mobil-mobilan atau bola dan sebagainya, orang tua Audi juga banyak memberikan gambar-gambar, seperti gambar buah, kendaraan dan sebagainya.
Pengambil giliran (turn taking) merupakan satu strategi yang penting dalam suatu komunikasi khususnya dalam komunikasi dua hal. Dengan adanya strategi ini, suatu tuturan dapat berjalan dengan lancar dan teratur menurut prinsip-prinsip komunikasi. Dalam kajian ini, didapat bahwa ujaran setiap giliran untuk subjek kajian, Audi dengan peneliti. Hal ini mungkin disebabkan observasi yang dilakukan itu lebih merupakan tuturan yang berupa soal jawab antara Audi dengan peneliti. Oleh karena itu, dalam percakapan tersebut, Audi hanya berperan untuk menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh peneliti tadi.
Cuplikan wacana di atas membuktikan bahwa Audi dalam bertutur hanya menjawab pertanyan dengan menggunakan cari telunjuk. Tetapi Jumlah ujaran-ujaran yang diucapkan sangat pendek dan sangat sederhana. Akan tetapi dia belum dapat memahami semua ujaran yang kita sebutkan terhadapnya. Dan untuk meminta sesuatu pun dia tidak berbicara melainkan dia hanya menunjuk apa atau benda apa yang ia inginkan tersebut. Hal ini disebabkan karena bahasa pertama yang anak kuasai adalah bahasa yang sesuai dengan lingkungan pembelajar.
4.1.2 Analisis Bahasa anak Kedua
Subjek peneleitian yang kedua adalah Andika Pratama, yang sehari-harinya dipanggil “Tama”. Dia dilahirkan di pada tanggal 26 Desember 2007. Ibunya Sri Lestari dan ayahnya Ali Andi. “Tama” tumbuh dalam keluarga yang termasuk kelas menengah yang untuk kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan primer yang lain tercukupi. Orang tuanya sangat aktif dalam mengajaknya berbicara, hal ini menyebabkan kemampuan “Tama” dalam merespon percakapan sanga baik. Orang tuanya juga melengkapi mainan seperti mobil-mobilan atau bola dan sebagainya, orang tua Tama juga banyak mengenalkan gambar-gambar, seperti gambar buah, kendaraan dan sebagainya.
Pengambil giliran (turn taking) merupakan satu strategi yang penting dalam suatu komunikasi khususnya dalam komunikasi dua hal. Dengan adanya strategi ini, suatu tuturan dapat berjalan dengan lancar dan teratur menurut prinsip-prinsip komunikasi. Dalam kajian ini, didapat bahwa ujaran setiap giliran untuk subjek kajian, Tama dengan peneliti. Hal ini mungkin disebabkan observasi yang dilakukan itu lebih merupakan tuturan yang berupa soal jawab antara Tama dengan peneliti. Oleh karena itu, dalam percakapan tersebut, Tama berperan aktif dalam menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh peneliti tadi.
Dari cuplikan wacana di atas membuktikan bahwa Tama dalam bertutur menjawab pertanyan dari lawan tutur dengan baik. Dari jawaban-jawaban yang dituturkan tersebut sangat jelas bahwa dia sangat lancar dan mudah mencerna apa yang ditanyakan oleh peneliti terhadapnya. Dan hal-hal yang tidak ditanyakan pun dia menceritakannya. Terkadang dia menggunakan bahasa baku dalam percakapannya. Dia juga sering menggunakan kata-kata seperti “sudah”. Jumlah ujaran-ujaran yang diucapkan relatif panjang dan sangat mudah untuk dimengerti. Dia mampu menceritakan suatu hal kepada orang dewasa dengan sangat lancar. Hal ini disebabkan karena bahasa pertama yang dikuasai adalah bahasa yang sesuai dengan lingkungan pembelajar. Dan juga karena bahasa yang dipakainya telah dipengaruhi oleh lingkungan.
4.1.3 Analisis Bahasa Anak Ketiga
Subjek peneleitian yang ketiga adalah Meliza Yuspi, yang sehari-harinya dipanggil “Liza”. Dia dilahirkan di pada tanggal 8 Oktober 2008. Ibunya Handayani dan ayahnya Muhammad Iskandar. “Liza” tumbuh dalam keluarga yang termasuk kelas menengah atas yang kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan primer yang lain telah tercukupi dengan baik. Orang tuanya sangat memanjakannya dengan cara melengkapi mainan-maianan serta boneka-boneka kesukaannya.
Pengambil giliran (turn taking) merupakan satu strategi yang penting dalam suatu komunikasi khususnya dalam komunikasi dua hal. Dengan adanya strategi ini, suatu tuturan dapat berjalan dengan lancar dan teratur menurut prinsip-prinsip komunikasi. Dalam kajian ini, didapat bahwa ujaran setiap giliran untuk subjek kajian, Liza dengan peneliti. Hal ini mungkin disebabkan observasi yang dilakukan itu lebih merupakan tuturan yang berupa soal jawab antara Liza dengan peneliti. Oleh karena itu, dalam percakapan tersebut, Liza hanya berperan untuk menjawab pertanyaan yang dikemukakan oleh peneliti tadi. Dan respon yang diberikan Liza dalam percakapan tersebut kurang begitu aktif.
Dari cuplikan wacana di atas membuktikan bahwa Liza dalam bertutur hanya menjawab pertanyan dari lawan tutur. Dari jawaban-jawaban yang dituturkan tersebut sangat jelas bahwa dia tidak begitu mampu merespon pertanyaan dengan baik, sehingga jawaban yang diberikan hanya sepenggal kata saja. Dalam wacana di atas, jelas bahwa Liza mengucapkan kata-kata yang terpenggal. Jadi, dapat disimpulkan anak usia tiga tahun sebenarnya sudah bisa berkomunikasi, meskispun secara terbatas. Kamunikasi secara terbatas dalam tutur ini karena keadaan situasi yang sedang dialami Liza. Dalam keadaan menangis Liza secara tidak langsung akan memanggil yang mamanya, karena hanya mamanya orang yang terdekat (yang merawat) dia.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Sejalan dengan rumusan masalah dan tujuan penulisan yang disampaikan di bagian pendahuluan, maka sebagai kesimpulan dapatlah disampaikan hal-hal berikut.
Berdasarkan panjang ayat anak usia tiga tahun dalam bertutur pada umumnya mengucapkan kata-kata secara terpenggal. Serta penguasaan bahasa yang dikuasai anak diperoleh melalui tahapan-tahapan tertentu. Anak umur tiga tahun sudah mampu menyusun kalimat dalam bertutur meskipun masih sangat sederhana dan terbatas. Berdasarkan jumlah ujaran setiap giliran tutur dibuktikan anak tiga tahun dalam bertutur hanya menjawab pertanyaan dari lawan tutur.
Dari hasil penelitian ini, kami mendapatkan bahwa anak umur tiga tahun seperti “Tama” bertutur dengan baik kepada lawan tuturnya. Hal ini dikarenakan orang tuanya aktif mengajaknya berbicara sehingga dia memiliki kemampuan bertutur yang lebih baik jika dibandingkan dengan kedua anak lainnya yang kami teliti. Oleh karena itu faktor lingkungan sangat mempengaruhi pemerolehan bahasa pada anak.
5.2 Saran
Adapun saran-saran perbaikan yang dapat kami berikan untuk melengkapi keilmuan kebahasaan anak khususnya pada penelitian pemerolehan tindak tutur pada anak usia 2-4 tahun ialah:
1. Orang tua harus mampu memberikan input bahasa yang baik kepada anaknya, karena anak umur 2-4 sangat peka dalam menirukan kata-kata yang didengarnya.
2. Perilaku pertuturan yang dikaji berdasarkan jenis-jenis tindak tutur yang dilakukan terhadap bahasa lain semisal bahasa ibu (daerah) dari anak usia 2-4 tahun.
DAFTAR PUSTAKA
Dardjowidjojo, Soenjono dan Unika Atma Jaya. 2000. Echa Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Dardjowidjojo, Soenjono dan Unika Atma Jaya. 2003. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Anggota IKAPI DKI.
Yuniarti. 2010. Kompetensi Tindak Tutur Direktif Anak Usia Prasekolah. Semarang : Universitas Diponegoro.
Kushartanti, B. -----. Strategi Kesantunan Bahasa pada Anak-anak Usia Prasekolah: Mengungkapkan Keinginan. Jakarta : Universitas Indonesia.
Halijah, Abd dan Hamid. 1996. Bagaimana Manusia Memperoleh Bahasa?. Jakarta: Pelita Bahasa (Jurnal penyelidikan IPBL, jilid 7, 2006)
http://www.infodiknas.com/pemerolehan-bahasa-anak-usia-tiga-tahundalam-lingkungan-keluarga/
CERPEN
TAK ADA YANG BERUBAH
Oleh Nila Sari Hutasuhut
Aku berjalan menyusuri gang setapak dan berliku dari rumah-rumah besar menuju jalan raya, hendak menemui seseorang dari masa lalu. Sebenarnya bukan hendak menemui tapi hanya sekedar lewat depan rumahnya yang di pinggir jalan raya untuk melihat dia yang sedang duduk di depan rumahnya. Namun orang yang dimaksud tidak ada. Aku kecewa tak melihat wajah pujaan hati. Padahal liburan sudah hampir usai. Sepertinya aku tak akan lihat wajahnya lagi untuk beberapa bulan ke depan. Kuliah padat menantiku di Medan. Jadi aku meneruskan jalanku. Berhenti sejenak, berpikir mau kemana aku sekarang.
Di sepanjang jalan aku melihat kiri kanan. Tak banyak berubah. Masih ada tukang cukur yang dulu pernah beberapa kali dia potong rambut di sana. Masih ada warung yang sering kudatangi membeli jajanan. Aku ingat ibu setengah baya yang menjaga warung, tetapi tak dapat kulihat wajahnya hari ini. Kulangkahkan kakiku terus ke depan. Beberapa meter di depanku kilang padi yang kutuju. Tepat di sebelah kananku sekarang adalah kantor pos tua yang tak pernah disentuh orang lagi. Aku ingat beberapa kali aku pernah mengirim surat di kantor pos itu.
Kilang padi merupakan salah satu tempat bermain favoritku waktu kecil. Bermain perosotan atau menangkap belakang yang menempel didaun ataupun didinding kilang padi. belalang itu kutangkap dengan tanganku sendiri. Aku sangat ahli melakukannya.
Pandanganku dimanjakan oleh hamparan sawah hijau membentang luas di sebelah kiriku. Gunung menjulang tinggi di kejauhan. Sejauh mata memandang semuanya hijau. Kuhirup udara sore sebanyak yang aku bisa. Udaranya bersih dan segar. Rasanya tak ingin kembali ke kota dimana udara bersih sangat langka dan warna hijau seringnya hanya didapat dari warna angkot (angkutan umum) nomor 40, 60, dan 65 .
Aku berjalan pelan-pelan karena tak ingin cepat sampai dipersimpangan menuju kampungku yang terdapat beberapa meter di depanku. Nampak di depanku sekarang adalah beberapa pemuda dari kampungku yang sedang memancing ikan di sawah entah punya siapa. Ada seorang yang bermain gitar di undakan semen di sebelah sawah. Setelah kuamati ternyata dia tetanggaku yang seumuran denganku. Karena tak begitu akrab, jadi aku tetap berdiri jauh dari mereka sambil menonton pertunjukan mereka. Aku jadi ingat bahwa seumur hidup aku belum pernah memancing ikan. Aku juga tak pernah berniat melakukannya.
Sudah cukup lama aku mengamati mereka. Beberapa orang melihat kepadaku namun tak ada yang menyapa. Aku memang tak akrab dengan orang-orang itu walaupun aku tahu nama mereka satu per satu. Rasanya sudah cukup aku mengenang masa kecil. Aku berjalan menuju persimpangan kampungku.
Di depanku ada seorang gadis yang sepertinya kukenal. Dia berjalan ke arahku, semakin mendekat. Tentu saja, dia teman SMA-ku dan teman lesku dulu. Aku tahu dia melihat kepadaku namun dia langsung menoleh ke arah lain, mengamati sesuatu yang kutahu itu tak ada. Sambil berjalan aku melihatnya terus namun dia tetap melihat ke arah lain. Dia memang tak ingin atau mungkin sedang malas menyapaku. Padahal beberapa bulan lalu kami berpapasan, kami saling menyapa seperti biasa.
Apakah dunia ini telah berubah? Apakah bertegur sapa adalah hal sulit untuk dilakukan sekarang ini? Mereka semua berubah! Atau mereka tak melihatku? Apa aku tak terlihat?
Aku memutuskan akan memastikannya dengan bercermin di kaca gerobak sate tetangga yang terletak beberapa langkah lagi di depan. Sayang sekali, ternyata gerobak satenya sudah tak berada disitu lagi. Sepertinya krisis ekonomi tak berpihak pada usahanya jualan sate. Kupikir lagi, bodoh sekali rasanya jika aku harus bercermin di kaca gerobak sate untuk melihat bayanganku ada atau tidak. Aku tersenyum malu dengan ide bodohku itu.
Rumahku sudah dekat, tinggal beberapa meter lagi. Perjalanan singkatku mengelilingi kampung cukup melelahkan. Lima belas menit hidupku, aku isi dengan kenangan-kenangan indah masa lalu yang tak bisa kubeli di toserba manapun. Agak berat kulangkahkan kaki ini menuju rumahku sendiri. Enggan pulang, inginnya aku terus berjalan di duniaku yang tak kenal duka, dunia masa kecilku. Namun tetap saja kuseret kaki ini menuju rumah. Kembali ke rumah atau tepatnya kembali ke kenyataan hidup, masalah di depan mata.
Siti dan yang lainnya (teman SMA) melihat ke arahku dengan pandangan aneh. Aku tak memperdulikannya dan juga tak menyapanya. Aku masih tersinggung karena tadi diabaikan saat berpapasan di depan rumah Pak Endi. Mereka bertiga sekarang kompak meninggalkanku begitu saja, pergi ke arah rumahku yang bagian depan. Lalu masuk ke dalam rumah. Mereka masuk ke dalam rumahku? Mau apa mereka?. Aku mengikuti mereka dengan tergesa. Aku lihat di ruang tamu banyak orang berkerumun. Banyak diantaranya yang mengenakan pakaian hitam. Entah kenapa perasaanku tak enak. Dan entah kenapa pikiranku hanya tertuju pada satu orang, yaitu bapakku.
Na’udzubillahimindaliq. Dalam hati aku berucap beribu kali. Bapak sudah renta, sudah sering sakit-sakitan. Ketakutanku selama ini adalah jika Allah memutuskan sudah saatnya bagi Bapak beristirahat dari segala lelah deritanya.
Aku takut, Aku tak berani masuk. Aku menunggu cukup lama di luar rumah, tak berani masuk. Orang-orang berbaju hitam makin banyak menghampiri rumahku. Air mataku meleleh. Kenapa harus sekarang ya Allah? Impianku untuk mengajak Bapak saat wisudaku tak bisakah Engkau kabulkan?
Astagfirullah. Aku beristigfar sebanyak aku bisa karena tak selayaknya aku meragukan kemampuan Dia Sang Maha Kuasa. Cukup! Aku membentak diriku sendiri. Aku akan masuk ke dalam rumah. Di depan pintu ruang tamu aku melihat sosok kaku, terbujur mati di depan mataku. Aku tak tahan lagi menahan tangis. Semua mata pelayat tertuju pada mayat bisu di tengah ruang tamu. Tak sedikit di antara mereka yang menunduk terisak.
Aku berjalan lemas mendekati jenazah bapakku. Semua orang tak ada yang menegur atau sekedar menepuk-nepuk pundakku sebagai tanda empati. Semua sibuk dengan kesedihan masing-masing. Aku teringat ibuku. Sekarang Bapak sudah kembali bertemu dengan kekasih sejatinya, pikirku. Aku duduk di sebelah jenazah Bapak. Tak sanggup aku menyibak kain penutup wajahnya. Seorang lagi pelayat datang histeris. Ternyata bibiku, adik dari Bapak. Dia menghampiri Bapak lalu duduk lama menunduk, mencoba menghentikan tangisnya. Dia tak melihatku atau entah bagaimana, tapi aku mulai merasa aneh dengan seluruh penghuni ruang tamu ini. Apa kalian tak memperdulikanku?!
Akhirnya dia gerakkan tangannya, menyibak penutup wajah yang enggan kubuka tadi perlahan. Aku menunduk tak mau melihat.
“Dea! Dea!” Bibiku meraung memanggil namaku. Aku mengangkat kepalaku ingin menjawab panggilan bibiku. Namun tak ada daya untuk mengucapkan sepatah kata, setelah kulihat wajah jenazah di hadapanku ini. Wajahku sendiri.
Apa ini? Apa maksud semua ini? Tuhan mempermainkanku? Aku harus segera bangun dari mimpi ini. Aku tak suka mimpi seperti ini.
Aku coba menarik diriku dari alam mimpi dengan memejamkan mata sekuat tenaga sambil memerintahkan otakku untuk membangunkan ragaku.
Bangun! Bangun! Bangun! Bangun! Kubuka mataku. Tak ada foto yang biasa kulihat di depanku, jika aku bangun tidur. Foto yang kupasang di dinding, tepat di hadapan ranjangku. Fotoku dan kedua orang tuaku. Alih-alih foto itu, wajah pucat pasi yang kulihat dihadapanku. Wajah jenazahku.
“Dea! Dea!” Bibiku meraung semakin keras. Seorang pelayat menenangkannya dan menyeretnya mundur dari jasadku.
“Dimana bang Rudi?” Sekarang Bibi menanyakan keberadaan bapakku.
“Di kamar. Dari tadi tak sadarkan diri. Bi Nana yang menjaga.” Pantas tak kulihat dimana Bapak. Orang yang kukira sudah tak ada sekarang tak jauh beda keadaannya denganku. Sedang tak sadarkan diri, bedanya aku tak akan pernah sadar kembali.
Aku melihat wajahku kembali. Entah mengapa aku merasa melihat wajah penuh kedamaian. Kedamaian yang kurasakan terakhir kali sebelum aku mati. Aku teringat jalan singkatku berkeliling kampung beberapa saat tadi. Andai saja gerobak sate itu ada. Setidaknya aku akan tahu lebih cepat. Lucu. Aku tersenyum menertawakan diriku sendiri.
Kini aku tahu. Tak ada yang berubah. Mereka tak berubah. Akulah yang berubah.
Oleh Nila Sari Hutasuhut
Aku berjalan menyusuri gang setapak dan berliku dari rumah-rumah besar menuju jalan raya, hendak menemui seseorang dari masa lalu. Sebenarnya bukan hendak menemui tapi hanya sekedar lewat depan rumahnya yang di pinggir jalan raya untuk melihat dia yang sedang duduk di depan rumahnya. Namun orang yang dimaksud tidak ada. Aku kecewa tak melihat wajah pujaan hati. Padahal liburan sudah hampir usai. Sepertinya aku tak akan lihat wajahnya lagi untuk beberapa bulan ke depan. Kuliah padat menantiku di Medan. Jadi aku meneruskan jalanku. Berhenti sejenak, berpikir mau kemana aku sekarang.
Di sepanjang jalan aku melihat kiri kanan. Tak banyak berubah. Masih ada tukang cukur yang dulu pernah beberapa kali dia potong rambut di sana. Masih ada warung yang sering kudatangi membeli jajanan. Aku ingat ibu setengah baya yang menjaga warung, tetapi tak dapat kulihat wajahnya hari ini. Kulangkahkan kakiku terus ke depan. Beberapa meter di depanku kilang padi yang kutuju. Tepat di sebelah kananku sekarang adalah kantor pos tua yang tak pernah disentuh orang lagi. Aku ingat beberapa kali aku pernah mengirim surat di kantor pos itu.
Kilang padi merupakan salah satu tempat bermain favoritku waktu kecil. Bermain perosotan atau menangkap belakang yang menempel didaun ataupun didinding kilang padi. belalang itu kutangkap dengan tanganku sendiri. Aku sangat ahli melakukannya.
Pandanganku dimanjakan oleh hamparan sawah hijau membentang luas di sebelah kiriku. Gunung menjulang tinggi di kejauhan. Sejauh mata memandang semuanya hijau. Kuhirup udara sore sebanyak yang aku bisa. Udaranya bersih dan segar. Rasanya tak ingin kembali ke kota dimana udara bersih sangat langka dan warna hijau seringnya hanya didapat dari warna angkot (angkutan umum) nomor 40, 60, dan 65 .
Aku berjalan pelan-pelan karena tak ingin cepat sampai dipersimpangan menuju kampungku yang terdapat beberapa meter di depanku. Nampak di depanku sekarang adalah beberapa pemuda dari kampungku yang sedang memancing ikan di sawah entah punya siapa. Ada seorang yang bermain gitar di undakan semen di sebelah sawah. Setelah kuamati ternyata dia tetanggaku yang seumuran denganku. Karena tak begitu akrab, jadi aku tetap berdiri jauh dari mereka sambil menonton pertunjukan mereka. Aku jadi ingat bahwa seumur hidup aku belum pernah memancing ikan. Aku juga tak pernah berniat melakukannya.
Sudah cukup lama aku mengamati mereka. Beberapa orang melihat kepadaku namun tak ada yang menyapa. Aku memang tak akrab dengan orang-orang itu walaupun aku tahu nama mereka satu per satu. Rasanya sudah cukup aku mengenang masa kecil. Aku berjalan menuju persimpangan kampungku.
Di depanku ada seorang gadis yang sepertinya kukenal. Dia berjalan ke arahku, semakin mendekat. Tentu saja, dia teman SMA-ku dan teman lesku dulu. Aku tahu dia melihat kepadaku namun dia langsung menoleh ke arah lain, mengamati sesuatu yang kutahu itu tak ada. Sambil berjalan aku melihatnya terus namun dia tetap melihat ke arah lain. Dia memang tak ingin atau mungkin sedang malas menyapaku. Padahal beberapa bulan lalu kami berpapasan, kami saling menyapa seperti biasa.
Apakah dunia ini telah berubah? Apakah bertegur sapa adalah hal sulit untuk dilakukan sekarang ini? Mereka semua berubah! Atau mereka tak melihatku? Apa aku tak terlihat?
Aku memutuskan akan memastikannya dengan bercermin di kaca gerobak sate tetangga yang terletak beberapa langkah lagi di depan. Sayang sekali, ternyata gerobak satenya sudah tak berada disitu lagi. Sepertinya krisis ekonomi tak berpihak pada usahanya jualan sate. Kupikir lagi, bodoh sekali rasanya jika aku harus bercermin di kaca gerobak sate untuk melihat bayanganku ada atau tidak. Aku tersenyum malu dengan ide bodohku itu.
Rumahku sudah dekat, tinggal beberapa meter lagi. Perjalanan singkatku mengelilingi kampung cukup melelahkan. Lima belas menit hidupku, aku isi dengan kenangan-kenangan indah masa lalu yang tak bisa kubeli di toserba manapun. Agak berat kulangkahkan kaki ini menuju rumahku sendiri. Enggan pulang, inginnya aku terus berjalan di duniaku yang tak kenal duka, dunia masa kecilku. Namun tetap saja kuseret kaki ini menuju rumah. Kembali ke rumah atau tepatnya kembali ke kenyataan hidup, masalah di depan mata.
Siti dan yang lainnya (teman SMA) melihat ke arahku dengan pandangan aneh. Aku tak memperdulikannya dan juga tak menyapanya. Aku masih tersinggung karena tadi diabaikan saat berpapasan di depan rumah Pak Endi. Mereka bertiga sekarang kompak meninggalkanku begitu saja, pergi ke arah rumahku yang bagian depan. Lalu masuk ke dalam rumah. Mereka masuk ke dalam rumahku? Mau apa mereka?. Aku mengikuti mereka dengan tergesa. Aku lihat di ruang tamu banyak orang berkerumun. Banyak diantaranya yang mengenakan pakaian hitam. Entah kenapa perasaanku tak enak. Dan entah kenapa pikiranku hanya tertuju pada satu orang, yaitu bapakku.
Na’udzubillahimindaliq. Dalam hati aku berucap beribu kali. Bapak sudah renta, sudah sering sakit-sakitan. Ketakutanku selama ini adalah jika Allah memutuskan sudah saatnya bagi Bapak beristirahat dari segala lelah deritanya.
Aku takut, Aku tak berani masuk. Aku menunggu cukup lama di luar rumah, tak berani masuk. Orang-orang berbaju hitam makin banyak menghampiri rumahku. Air mataku meleleh. Kenapa harus sekarang ya Allah? Impianku untuk mengajak Bapak saat wisudaku tak bisakah Engkau kabulkan?
Astagfirullah. Aku beristigfar sebanyak aku bisa karena tak selayaknya aku meragukan kemampuan Dia Sang Maha Kuasa. Cukup! Aku membentak diriku sendiri. Aku akan masuk ke dalam rumah. Di depan pintu ruang tamu aku melihat sosok kaku, terbujur mati di depan mataku. Aku tak tahan lagi menahan tangis. Semua mata pelayat tertuju pada mayat bisu di tengah ruang tamu. Tak sedikit di antara mereka yang menunduk terisak.
Aku berjalan lemas mendekati jenazah bapakku. Semua orang tak ada yang menegur atau sekedar menepuk-nepuk pundakku sebagai tanda empati. Semua sibuk dengan kesedihan masing-masing. Aku teringat ibuku. Sekarang Bapak sudah kembali bertemu dengan kekasih sejatinya, pikirku. Aku duduk di sebelah jenazah Bapak. Tak sanggup aku menyibak kain penutup wajahnya. Seorang lagi pelayat datang histeris. Ternyata bibiku, adik dari Bapak. Dia menghampiri Bapak lalu duduk lama menunduk, mencoba menghentikan tangisnya. Dia tak melihatku atau entah bagaimana, tapi aku mulai merasa aneh dengan seluruh penghuni ruang tamu ini. Apa kalian tak memperdulikanku?!
Akhirnya dia gerakkan tangannya, menyibak penutup wajah yang enggan kubuka tadi perlahan. Aku menunduk tak mau melihat.
“Dea! Dea!” Bibiku meraung memanggil namaku. Aku mengangkat kepalaku ingin menjawab panggilan bibiku. Namun tak ada daya untuk mengucapkan sepatah kata, setelah kulihat wajah jenazah di hadapanku ini. Wajahku sendiri.
Apa ini? Apa maksud semua ini? Tuhan mempermainkanku? Aku harus segera bangun dari mimpi ini. Aku tak suka mimpi seperti ini.
Aku coba menarik diriku dari alam mimpi dengan memejamkan mata sekuat tenaga sambil memerintahkan otakku untuk membangunkan ragaku.
Bangun! Bangun! Bangun! Bangun! Kubuka mataku. Tak ada foto yang biasa kulihat di depanku, jika aku bangun tidur. Foto yang kupasang di dinding, tepat di hadapan ranjangku. Fotoku dan kedua orang tuaku. Alih-alih foto itu, wajah pucat pasi yang kulihat dihadapanku. Wajah jenazahku.
“Dea! Dea!” Bibiku meraung semakin keras. Seorang pelayat menenangkannya dan menyeretnya mundur dari jasadku.
“Dimana bang Rudi?” Sekarang Bibi menanyakan keberadaan bapakku.
“Di kamar. Dari tadi tak sadarkan diri. Bi Nana yang menjaga.” Pantas tak kulihat dimana Bapak. Orang yang kukira sudah tak ada sekarang tak jauh beda keadaannya denganku. Sedang tak sadarkan diri, bedanya aku tak akan pernah sadar kembali.
Aku melihat wajahku kembali. Entah mengapa aku merasa melihat wajah penuh kedamaian. Kedamaian yang kurasakan terakhir kali sebelum aku mati. Aku teringat jalan singkatku berkeliling kampung beberapa saat tadi. Andai saja gerobak sate itu ada. Setidaknya aku akan tahu lebih cepat. Lucu. Aku tersenyum menertawakan diriku sendiri.
Kini aku tahu. Tak ada yang berubah. Mereka tak berubah. Akulah yang berubah.
Langganan:
Postingan (Atom)